src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Pelemahan Rupiah Berlanjut, Imbas Gonjang Ganjing IHSG

Pelemahan Rupiah Berlanjut, Imbas Gonjang Ganjing IHSG

2 minutes reading
Friday, 30 Jan 2026 15:37 123 Anjhu Anggia

HEADLINEKALTIM.CO – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak pembukaan perdagangan hingga jeda siang hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 12.00 WIB rupiah turun 0,20 persen atau 34 poin ke level Rp16.789 per dolar AS.

Dilansir dari rri.co.id, pelemahan rupiah ini melanjutkan tren negatif pada perdagangan sebelumnya. Pada Kamis kemarin, rupiah ditutup melemah 0,20 persen atau 33 poin di posisi Rp16.755 per dolar AS. Tekanan terhadap mata uang Garuda ini dinilai sudah diperkirakan oleh pelaku pasar.

Analis Pasar Uang Lukman Leong mengatakan, rupiah masih berpotensi melemah karena sentimen pasar domestik yang belum sepenuhnya pulih, khususnya di pasar saham.

“Rupiah berpotensi kembali melemah terhadap dolar AS oleh sentimen yang masih belum pulih di pasar ekuitas domestik,” kata Lukman, Kamis, 30 Januari 2026.

Ia menjelaskan, tekanan pada rupiah masih terasa meskipun indeks saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat bergerak menguat pada perdagangan pagi. Sebelumnya, pasar ekuitas sempat tertekan selama dua hari akibat kebijakan MSCI yang berdampak pada aliran dana asing.

“Nilai tukar rupiah hari ini diperkirakan bergerak di rentang Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS,” ujar Lukman. Sementara itu, dolar AS tercatat menguat ke level 96,46, lebih tinggi dibandingkan posisi hari sebelumnya.

Sementara itu, Ekonom Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menilai kepercayaan pasar valuta asing terhadap aset domestik masih relatif terjaga. Hal ini ditopang oleh kondisi imbal hasil obligasi yang stabil.

“Kepercayaan pasar valas masih solid, terutama didukung oleh dolar AS yang cenderung turun mendekati level 96. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun juga bertahan stabil di 6,37 persen, sementara imbal hasil obligasi AS di level 4,24 persen,” kata Rully.

Dengan kondisi tersebut, spread imbal hasil antara obligasi domestik dan AS tetap terjaga di atas 210 basis poin. Menurut Rully, situasi ini masih menarik bagi investor asing untuk menempatkan dana pada aset berdenominasi rupiah.

“Secara keseluruhan, kami melihat stabilitas imbal hasil obligasi, dukungan dari pelemahan dolar global, serta indikator risiko yang masih terkendali. Ini mengindikasikan stabilitas rupiah dalam jangka pendek,” ujarnya menutup analisis.

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

LAINNYA
x