src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Objek Wisata Tidak Boleh Kotor, Sri Juniarsih: Saya Lewat Masih Ada Bau

Objek Wisata Tidak Boleh Kotor, Sri Juniarsih: Saya Lewat Masih Ada Bau

waktu baca 2 menit
Jumat, 14 Agu 2026 17:59 25 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Bupati Berau Sri Juniarsih Mas kembali mengingatkan pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam menangani persoalan sampah. Ia menegaskan, menjaga kebersihan lingkungan bukan hanya tanggung jawab sektor DLHK Berau, melainkan kewajiban seluruh pihak.

Hal ini disampaikannya seiring dengan semakin berkembangnya potensi pariwisata di berbagai wilayah pesisir Berau. Menurutnya, destinasi wisata yang indah harus didukung lingkungan yang bersih dan bebas dari sampah, khususnya sampah plastik. “Ini diperlukan kolaborasi antara beberapa OPD tanpa terkecuali,” tegasnya.

Ia menilai sampah plastik menjadi persoalan serius karena dampaknya tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga dapat mengancam lingkungan dan generasi mendatang. Terlebih, sampah plastik yang masuk ke laut berpotensi membahayakan berbagai jenis biota.

Oleh karena itu, Sri meminta seluruh perangkat daerah hingga pemerintah kampung menjadi contoh dalam mengedukasi masyarakat. “Kampanye pengurangan penggunaan plastik dan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya harus dilakukan secara konsisten,” ucapnya.

Ia meminta camat, kepala kampung, DLHK dan DPUPR memberikan perhatian terhadap pengelolaan sampah. Jangan sampai menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat maupun pengguna jalan, terutama di wilayah pesisir yang memiliki potensi wisata.

“Mohon maaf, saat ini saya menyampaikan ketika kita lewat masih ada bau-bau. Ini menjadi PR untuk OPD-OPD terkait,” ujarnya.

Sri juga mendorong agar pengelolaan sampah tidak berhenti pada proses pengumpulan dan pembuangan. Pemilahan harus dimulai dari tingkat rumah tangga dengan membedakan sampah organik, anorganik dan B3 melalui penguatan TPS 3R.

Ia menjelaskan, sampah organik yang tercampur dengan sampah lainnya menjadi salah satu penyebab munculnya bau dan membuat volume sampah terasa lebih berat. Sementara sampah seperti plastik, kaca dan kaleng masih dapat dipilah untuk kemudian dikelola kembali.

Bupati bahkan meminta camat dan pemerintah kampung untuk lebih kreatif dalam mencari solusi pengelolaan sampah, termasuk memanfaatkan teknologi dan berbagai informasi yang tersedia.

“Ini harus menjadi kampanye kita bersama, bukan hanya Pariwisata. Seluruh masyarakat, DLHK tanpa terkecuali,” pungkasnya. (Riska)

LAINNYA
x