src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> MPLS Dimulai, Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda Siap Tampung Ratusan Siswa

MPLS Dimulai, Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda Siap Tampung Ratusan Siswa

waktu baca 4 menit
Jumat, 31 Jul 2026 13:36 27 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda tahun ajaran 2026/2027 resmi dimulai pada Jumat 31 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya aktivitas belajar di lokasi baru yang berada di Jalan Stadion Palaran, sekaligus tahap awal adaptasi bagi ratusan siswa dari berbagai jenjang pendidikan.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda, Neneng Chamelia Shanti, hadir sekaligus meninjau langsung kesiapan fasilitas sekolah. Dalam kunjungan tersebut, ia memastikan pembangunan gedung yang dilakukan dalam waktu relatif singkat telah rampung dan siap digunakan, meskipun masih ada sejumlah hal teknis yang perlu mendapat perhatian, terutama terkait aspek keselamatan siswa.

Neneng menilai, pembangunan sekolah ini tergolong cepat, hanya sekitar lima bulan sejak tahap awal hingga finishing. Namun demikian, ada beberapa detail kecil tetap harus dibenahi agar lingkungan sekolah benar-benar aman bagi anak-anak yang akan beraktivitas setiap hari di area tersebut.

“Secara umum sudah siap digunakan, tapi ada beberapa hal kecil yang perlu diperhatikan, terutama soal keamanan anak. Misalnya di tangga dan beberapa bagian lantai dua yang masih perlu pengaman tambahan,” tutur Neneng.

Ia memaparkan, bagian bawah tangga dan area tertentu sebaiknya diberi penanda visual seperti garis berwarna kontras agar mudah terlihat oleh siswa. Hal tersebut dinilai penting mengingat karakter anak-anak yang aktif dan rentan mengalami benturan saat beraktivitas.

Selain soal fasilitas fisik, Pemkot Samarinda, kata dia, juga mulai menyiapkan langkah lanjutan terkait pengelolaan operasional sekolah, termasuk penanganan sampah dan air limbah. Neneng menyebut, koordinasi lintas instansi akan segera dilakukan untuk memastikan sistem pendukung sekolah berjalan optimal.

“Setelah sekolah ini beroperasi, tentu ada kebutuhan pengelolaan sampah dan limbah. Itu nanti akan kita bahas bersama antara pemerintah kota, provinsi, dan kementerian untuk dibuat kesepakatan pengelolaannya,” katanya.

Pelaksanaan MPLS di Sekolah Rakyat ini juga memiliki pendekatan yang berbeda dibanding sekolah pada umumnya. Tidak hanya sekadar pengenalan lingkungan, kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembinaan karakter siswa yang berasal dari latar belakang beragam, termasuk mereka yang sebelumnya telah mengikuti program di sekolah rintisan.

Neneng mengapresiasi peran tenaga pendidik yang telah membina siswa sejak tahun pertama program berjalan. Proses adaptasi di lokasi baru menjadi penting, baik bagi siswa baru maupun siswa lama yang kini berpindah ke fasilitas yang lebih lengkap.

“Anak-anak ini latar belakangnya berbeda-beda, jadi MPLS bukan hanya pengenalan sekolah, tapi juga pembinaan. Apalagi sekarang mereka harus beradaptasi lagi dengan lingkungan yang baru,” lanjut Neneng.

Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda saat ini menampung ratusan siswa dari tiga jenjang pendidikan. Untuk tingkat SMA tercatat sebanyak 182 siswa, SMP 163 siswa, dan SD 188 siswa. Jumlah tersebut merupakan gabungan antara siswa lama dan siswa baru yang akan menjalani proses belajar di lokasi ini secara bertahap.

Kepala Dinas Sosial Kota Samarinda, Mochammad Arif Surochman, menjelaskan, pihaknya turut berperan dalam proses penjaringan dan pendampingan siswa, termasuk mengundang orang tua untuk terlibat sejak awal. Kegiatan hari pertama difokuskan pada pengenalan, sementara agenda lanjutan seperti pemeriksaan kesehatan mulai dijadwalkan. “Hari ini kita mulai dengan pengenalan, besok direncanakan ada pemeriksaan kesehatan untuk siswa baru,” jelasnya.

Arif menambahkan, dari total sekitar 270 siswa baru yang diterima tahun ini, sebagian besar berasal dari Kota Samarinda, sementara sisanya dari daerah sekitar seperti Balikpapan, Kutai Kartanegara, Penajam, dan Paser. Program ini juga tetap membuka peluang bagi anak-anak dari kelompok rentan, termasuk anak jalanan, untuk mendapatkan akses pendidikan yang lebih layak.

Dikatakannya, pembinaan terhadap anak-anak tersebut tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan keterlibatan berbagai elemen, mulai dari pemerintah, sekolah, hingga lingkungan tempat tinggal.

“Ini jadi tanggung jawab bersama, bukan hanya Dinas Sosial, tapi juga sekolah, keluarga, dan lingkungan sekitar,” imbuh Arif.

Dengan fasilitas baru yang lebih representatif, ia berharap siswa dapat belajar dengan lebih nyaman dan bertahan dalam program pendidikan ini. Evaluasi terhadap program sebelumnya juga terus dilakukan untuk memastikan anak-anak dapat beradaptasi dan tidak meninggalkan sekolah di tengah jalan.

Sementara itu, terkait kondisi bangunan yang masih dalam tahap penyempurnaan di beberapa bagian, pihak sekolah diimbau untuk memberikan perhatian khusus terhadap keselamatan siswa selama masa transisi ini. “Nanti akan disampaikan juga ke anak-anak untuk tetap berhati-hati, terutama di area yang masih dalam proses penyelesaian,” pungkas Arif. (Retno)

LAINNYA
x