src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim, Jaya Mualimin. (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Kebutuhan oksigen bisa menjadi persoalan ketika fasilitas kesehatan berada jauh dari tempat pengisian. Kondisi itu ingin diantisipasi Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Kaltim) dengan mendorong pemerintah kabupaten dan kota menyediakan generator oksigen di sejumlah puskesmas. Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin mengatakan generator oksigen dapat menjadi sumber pasokan yang lebih dekat, terutama untuk puskesmas yang selama ini harus mengandalkan fasilitas pengisian di lokasi lain. Tidak hanya untuk kebutuhan puskesmas sendiri, generator tersebut juga dinilai bisa dimanfaatkan sebagai tempat pengisian ulang atau refill oksigen untuk fasilitas kesehatan lain di wilayah sekitar.
“Saya pernah mengusulkan untuk para kepala-kepala dinas kabupaten kota untuk bisa menyediakan generator oksigen yang bisa diadakan untuk di beberapa puskesmas yang memang jauh dari fasilitas pengisian oksigen,” kata Jaya belum lama ini.
Dikatakan Jaya, kebutuhan oksigen tidak selalu bisa mengandalkan pihak ketiga. Salah satu pilihan yang selama ini digunakan adalah oksigen cair, tetapi penyediaannya membutuhkan kerja sama sekaligus stasiun pengisian. “Kalau menggunakan pihak ketiga seperti oksigen cair, itu kan agak berat ya untuk dilakukan. Ya, harus kerja sama dan punya stasiun pengisiannya,” ujar dia.
Dengan generator sendiri, puskesmas memiliki sumber oksigen yang bisa digunakan ketika stok tabung mulai kosong. Jika kapasitasnya mencukupi, fasilitas itu juga dapat membantu puskesmas atau fasilitas kesehatan lain yang membutuhkan. “Kalau kita adakan dari generator oksigen sendiri itu sangat bagus ya, baik untuk keperluan puskesmas sendiri atau fasilitas yang lain juga bisa menjadi pusat refill untuk oksigen yang diperlukan oleh fasilitas kesehatan lain,” tuturnya.
Jaya juga meminta fasilitas kesehatan yang telah memiliki generator oksigen tidak membatasi layanan pengisian ulang. Akses tersebut tetap menjadi bagian dari pelayanan yang bisa dimanfaatkan ketika fasilitas lain membutuhkan oksigen. “Artinya jangan membatasi orang untuk bisa refill ya, karena itu juga bagian dari pelayanan,” ucapnya.
Dorongan penyediaan generator ini muncul ketika Kaltim masih menghadapi dampak karhutla dan kualitas udara yang berubah-ubah. Dinkes Kaltim sebelumnya memang telah menyiagakan Rumah Oksigen di 20 puskesmas yang tersebar di 10 kabupaten/kota, lengkap dengan tabung oksigen portabel dan perlengkapan pendukung pernapasan.
Namun, Jaya menjelaskan oksigen konsentrat yang disiapkan dalam penanganan tersebut berbeda dengan gagasan generator. Oksigen konsentrat berukuran kecil disiapkan sebagai logistik yang dapat digunakan secara portabel ketika ada masyarakat yang membutuhkan bantuan bernapas.
Untuk saat ini, Jaya menilai kebutuhan oksigen belum sampai pada kondisi darurat di seluruh Kaltim. Ia melihat kebutuhan tersebut akan jauh lebih besar jika kualitas udara masuk kategori berbahaya dan bertahan dalam waktu panjang. Contohnya di Kutai Barat yang sempat mencatat ISPU di atas 300 atau masuk kategori berbahaya. Namun, angka tersebut kemudian turun hingga sekitar 200 dan terus berubah mengikuti kondisi cuaca serta sumber polusi di wilayah tersebut. “Ya, itu tidak terlalu emergency ketika dalam kondisi Kalimantan Timur yang masih tidak sehat. Kecuali kalau berbahaya dan itu berbulan-bulan, itu ya kita harus menyediakan itu,” tambah dia.
Kondisi udara di daerah lain juga mulai bergerak turun. Berau yang sebelumnya sempat mencatat angka ISPU tinggi disebut Jaya telah mengalami penurunan, meski belum seluruh wilayah kembali berada pada kondisi sehat. Menurut Jaya, perubahan kualitas udara sangat dipengaruhi keberadaan karhutla dan hujan. Ketika hujan belum turun, asap dan partikel polutan lebih mudah bertahan di udara.
Pemantauan kualitas udara dilakukan melalui stasiun pemantauan yang tersebar di sejumlah wilayah. Jaya mengatakan masyarakat juga dapat melihat perkembangan ISPU melalui sistem pemantauan kualitas udara secara real time.
Keberadaan generator oksigen di puskesmas nantinya bukan hanya berguna ketika kabut asap kembali memburuk. Fasilitas tersebut juga dapat menjadi sumber pasokan yang lebih dekat dan membantu fasilitas kesehatan lain ketika membutuhkan pengisian oksigen. “Karena kalau enggak hujan, itu kabutnya masih tidak hilang, kemudian juga mungkin beberapa zat-zat polutan itu juga sepertinya terkungkung di udara kota, akhirnya semua indikator naik,” demikian Jaya Mualimin. (Retno)