HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Musim kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah di Kutai Kartanegara (Kukar) membuat beberapa daerah mengalami kekeringan. Meski begitu, produksi perikanan di wilayah tersebut diklaim masih terjaga.
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (DPK) Kukar Muslik mengatakan, kekeringan berdampak pada ekosistem perikanan, namun belum sampai mengganggu produksi secara signifikan. “Untung saja masih terjaga produksinya,” kata Muslik, Jumat 11 September 2026.
Muslik menyebut, kekeringan areal penangkapan ikan terjadi di wilayah hulu, seperti perairan Danau Melintang dan Danau Semayang. Selain ikan tangkap di sungai yang mengalami penurunan, budi daya ikan di kolam turut terdampak. “Kolam ikan pembibitan di Kecamatan Loa Kulu sudah mulai retak-retak,” ungkapnya.
Di sisi lain, perikanan tangkap laut serta sejumlah wilayah anak Sungai Mahakam disebut masih normal. Kondisi itulah yang membuat produksi perikanan Kukar secara keseluruhan masih terjaga. Namun, Muslik mengingatkan, jika kemarau berlangsung lebih lama, produksi perikanan berpotensi terganggu. “Saat ini, harga ikan masih normal di pasaran,” jelasnya.
Muslik mengaku khawatir kondisi air surut akibat kemarau panjang dimanfaatkan oknum tidak bertanggung jawab untuk menangkap ikan dengan cara melanggar hukum, seperti menyetrum ikan. Menurutnya, kondisi surut membuat ikan lebih mudah ditangkap dengan cara tersebut.
“Ikan banyak tidur di air surut, tidak lari ke mana-mana, lebih enak ditangkap. Perairan Mahakam punya karakter tersendiri, di kala banjir banyak ikan, di kala surut juga mudah mendapatkan ikan,” jelasnya.
Akibat kemarau panjang ini, kata Muslik, sejumlah nelayan mulai beralih profesi. Ia berharap hujan segera turun dengan intensitas normal dalam waktu dekat. “Beberapa kelompok perikanan sudah ada yang meminta bantuan pompa perairan guna menyelamatkan kolamnya yang kering,” tegasnya. (Andri)

















