src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Kayu Gelondongan Picu Longsor: Pakar IPB Ungkap Dugaan Aktivitas Manusia di Balik Bencana Sumatera

Kayu Gelondongan Picu Longsor: Pakar IPB Ungkap Dugaan Aktivitas Manusia di Balik Bencana Sumatera

waktu baca 2 menit
Jumat, 5 Des 2025 10:29 183 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO – Tumpukan kayu gelondongan disebut menjadi rangkaian faktor yang memicu bencana di Sumatera. Temuan material kayu gelondongan di lokasi terdampak membuka dugaan kuat adanya campur tangan manusia, terutama terkait pembukaan dan gangguan ekosistem hutan.

Dilansir dari AntaraNews, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof Dr Ir Bambang Hero Saharjo, MAgr, menyebut keberadaan kayu gelondongan dalam jumlah besar tidak dapat dianggap sebagai gejala alami semata. Menurutnya, indikasi kuat keterlibatan aktivitas manusia tampak dari bentuk dan kondisi potongan kayu yang ditemukan di area bencana.

Dalam penjelasan lebih lanjut, Prof Bambang yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Bencana IPB University mengaitkan temuan kayu gelondongan tersebut dengan kasus serupa yang pernah ia tangani di kawasan lindung Sumatra Utara. Ia menjelaskan bahwa hutan yang masih sehat memiliki tajuk rapat dan bertingkat, sehingga kayu gelondongan tidak mudah bergerak atau hanyut kecuali terdapat gangguan besar pada struktur hutan.

“Walaupun ada air, dia tidak langsung ke permukaan. Dia jatuh di tajuk, pecah, kemudian sebagian mengalir melalui batang atau stem flow,” katanya menjelaskan.

Prof Bambang menegaskan bahwa sistem vegetasi berlapis mulai dari tajuk atas, tumbuhan bawah, hingga serasah berfungsi sebagai penyangga alami. Tanpa adanya intervensi, hutan tidak akan menghasilkan kayu gelondongan dalam jumlah besar yang terseret arus. Ia menekankan bahwa lapisan ekosistem hutan diciptakan untuk menjaga keseimbangan alam.

“Tuhan menciptakan ini tentu saja untuk kebaikan manusia dan lingkungannya,” kata Prof Bambang.

Menurut dia, tumbangnya satu atau dua pohon merupakan proses alami yang tidak menimbulkan ancaman serius bagi ekosistem.

“Pohon ini, ya, kalaupun tumbang, itu tidak banyak. Paling hanya satu, dua, dan itu alami,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa hutan tua memiliki akar kuat yang menjaga kestabilan tanah. Jika satu pohon tumbang, ruang tersebut segera diisi regenerasi alami. Namun, kondisi berubah drastis ketika aktivitas pembalakan liar masuk dan mengganggu struktur hutan, sehingga kayu gelondongan mulai bermunculan di aliran sungai dan lereng.

“Pada kondisi seperti ini, ketika pembalakan liar masuk, maka celah antara tajuk semakin terbuka,” katanya.

Ia menambahkan bahwa terbukanya tajuk membuat air hujan jatuh langsung ke permukaan tanah tanpa proses pemecahan, mempercepat erosi, dan meningkatkan risiko longsor. Kayu gelondongan yang ditemukan setelah bencana, menurut Prof Bambang, merupakan bukti nyata kerusakan vegetasi berlapis akibat aktivitas manusia.

“Kayu-kayu besar yang ditemukan pasca-bencana merupakan konsekuensi dari kerusakan lapisan-lapisan vegetasi akibat aktivitas manusia tersebut,” katanya.

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

LAINNYA
x