src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Ratusan Kursi SMP Masih Lowong Usai SPMB, Disdikbud Samarinda Minta Orang Tua Siswa Segera Daftar

Ratusan Kursi SMP Masih Lowong Usai SPMB, Disdikbud Samarinda Minta Orang Tua Siswa Segera Daftar

waktu baca 2 menit
Selasa, 7 Jul 2026 12:15 12 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Ratusan kursi SMP negeri belum terisi dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2026 di Samarinda. Kondisi ini membuka ruang bagi calon siswa yang belum mendapatkan sekolah untuk segera mengamankan tempat, terutama di wilayah tertentu.

Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda menunjukkan, setelah tahapan utama SPMB ditutup pada 4 Juli lalu, masih terdapat sekitar 433 kursi yang belum terisi di berbagai SMP. Sebagian besar kekosongan ini tersebar di sekolah-sekolah yang berada di kawasan pinggiran kota.

Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikbud Kota Samarinda, Mohammad Wahiduddin, menjelaskan bahwa situasi ini bukan karena kekurangan daya tampung secara keseluruhan. Jika dihitung secara menyeluruh, kapasitas antara sekolah negeri dan swasta sebenarnya masih mencukupi.

“Bukan problemnya kurang. Sebenarnya daya tampung itu antara SD negeri dengan SMP negeri itu balance saja, cuma kan kita harus memperhatikan swasta juga,” jelas Wahid, Selasa 7 Juli 2026.

Ia mengungkapkan, jumlah lulusan SD tahun ini mencapai 13.079 siswa, sedangkan kapasitas SMP negeri hanya sekitar 10.000 kursi. Selisih tersebut membuat tidak semua lulusan dapat terserap ke sekolah negeri, sehingga distribusi ke sekolah swasta menjadi bagian dari sistem yang tidak terpisahkan.

Di sisi lain, masih adanya kursi kosong justru memberi kesempatan kedua bagi siswa yang belum tertampung pada tahap awal. Sekolah diberikan kewenangan untuk mengisi kekosongan tersebut dengan mempertimbangkan prioritas tertentu, terutama kedekatan domisili. “Dengan skala prioritas, misalkan memprioritaskan orang yang memang pertama domisilinya atau tempat tinggalnya dekat dengan sekolah itu,” ujarnya.

Mekanisme ini dijalankan langsung oleh masing-masing sekolah dengan pendekatan yang bisa berbeda, menyesuaikan kondisi lingkungan dan jumlah pendaftar yang ada. Sekolah dinilai lebih memahami kebutuhan di wilayahnya masing-masing.

Fenomena kursi kosong ini umumnya terjadi di wilayah seperti Palaran dan Samarinda Utara, termasuk beberapa sekolah yang daya tampungnya belum sepenuhnya terisi. Sementara di pusat kota, persaingan masuk sekolah negeri cenderung lebih ketat.

Disdikbud pun mendorong masyarakat untuk lebih aktif memetakan pilihan sekolah, terutama bagi yang belum mendapatkan tempat. Informasi terkait ketersediaan kursi menjadi kunci agar peluang yang masih ada tidak terlewat.

Bagi siswa yang telah diterima, proses daftar ulang di sekolah tujuan juga menjadi tahap penting setelah pengumuman hasil seleksi. Hal ini memastikan posisi mereka tetap aman dalam sistem penerimaan tahun ajaran baru.

Sementara itu, bagi siswa yang belum berhasil masuk ke SMP negeri, jalur pendidikan tetap terbuka melalui sekolah swasta yang masih memiliki daya tampung. “Ya kalau kan negeri sekali lagi punya keterbatasan. Kalau tidak negeri ya mau tidak mau swasta,” demikian Wahid. (Retno)

LAINNYA
x