Beranda Kutai Timur Karhutla Jadi Momok Lain di Tengah Pandemi COVID-19

Karhutla Jadi Momok Lain di Tengah Pandemi COVID-19

Pjs Bupati Jauhar Efendi membuka Forum Pengurangan Resiko Bencana Hutan dan Lahan di Hotel Royal Victoria Sangatta, Selasa 27 Oktober 2020. (foto: istimewa)
Advertisement

HEADLINEKALTIM.CO, SANGATTA – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) selalu jadi momok yang mengancam wilayah-wilayah di Indonesia, tidak luput pula di Kutai Timur.

Dari tahun 1982 hingga 2020, Karhutla masih saja terus terjadi, dengan siklus antara 4 sampai 5 tahun sekali. Kebakaran besar terjadi pada 1998 dan juga pada awal-awal pemerintahan Presiden Joko Widodo, tahun 2015.

Pjs Bupati Kutai Timur Moh. Jauhar Efendi menegaskan saat ini masyarakat diharapkan tetap produktif di tengah ancaman pandemi COVID-19. Walaupun demikian, dia berpesan agar masyarakat juga waspada dengan bencana kebakaran hutan dan lahan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Advertisement

“Tantangan ini berat, dengan kondisi seperti sekarang. Kontribusi positif rekan-rekan relawan amatlah luar biasa untuk menyiagakan diri dalam mencegah terjadinya bencana kebakaran hutan dan lahan,” tegas Jauhar saat memberikan sambutan pada pembukaan Forum Pengurangan Resiko Bencana Hutan dan Lahan di Hotel Royal Victoria Sangatta, Selasa 27 Oktober 2020.

Dikatakannya, Kutim memiliki banyak perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan dan perkebunan. Dibutuhkan sinergi bersama dengan pemerintah maupun masyarakat dalam mengantisipasi terjadinya bencana Karhutla.

“Pada saat terjadinya bencana jangan saling menyalahkan, namun harus fokus pada penanggulangan. Jika tidak, bukannya masalah satu terselesaikan tetapi akan muncul masalah-masalah lainnya. Untuk itu kesadaran akan menjaga dan melestarikan lingkungan hidup harus berjalan sejak dini,” ujarnya.

Kepala BPBD Kutai Timur Syafrudin menambahkan, kegiatan Forum Pengurangan Resiko Bencana Hutan dan Lahan ini diikuti oleh 50 relawan yang terdiri dari berbagai unsur, termasuk wartawan yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kutim.

“Dalam forum pengurangan resiko bencana kebakaran hutan dan lahan, kita melakukan pembentukan relawan peduli Karhutla BPBD Kutim. Peserta yang melakukan tatap muka langsung dalam forum sebanyak 40 orang, adapun 10 orang sisanya melakukan pertemuan secara online alias webinar,” ujar Syafrudin.

Penulis: RJ Warsa

Komentar
Advertisement