Beranda Kutai Timur Sekolah Pengawas Partisipatif, Cara Bawaslu Kutim Cetak Milenial Melek Politik

Sekolah Pengawas Partisipatif, Cara Bawaslu Kutim Cetak Milenial Melek Politik

Salah satu agenda Bawaslu lewat sekolah pengawas partisipatif. (sumber: istimewa)
Advertisement

HEADLINEKALTIM.CO, SANGATTA – Di era digitalisasi, peran generasi milenial yang aktif berinteraksi dan berkomunikasi di media sosial tak bisa diabaikan. Apalagi, secara demografis, jumlah mereka cukup banyak.

Pada momentum Pilkada 2020, generasi milenial memberi warna tersendiri. Perlu pendekatan agar mereka tertarik untuk turut berpartisipasi, terutama memberikan hak suaranya dengan benar dan mengawasi Pilkada.

Itu yang dilakukan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kutai Timur melalui Sekolah Pengawas Partisipatif.

Advertisement

Diungkapkan Koordinator Divisi Hukum, Humas dan Datin Bawaslu Kutim Muhammad Idris, kegiatan Sekolah Partisipatif digelar untuk memberikan pemahaman akan pentingnya demokrasi, partisipasi pemilih dan mengawasi jalannya pemilu.

Sasaran sekolah partisipatif ini adalah pelajar SMA Kelas III hingga mahasiswa.

“Di Sangatta kita masuk ke pelajar-pelajar SMA untuk kelas III, adapun dengan anak-anak kuliah kita masuk ke tiga perguruan tinggi yang ada di Kutim. Mulai dari Sekolah Tinggi Pertanian, Sekolah Tinggi Agama Islam, dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi, ada juga komunitas seni se-Kutim,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, Bawaslu juga merangkul lembaga pemerintahan dan swasta, semisal dengan Kesbangpol Kutim dalam sosialisasi terkait pengawasan partisipatif.

“Tugas pengawasan pada Pilkada Kutim tidak hanya menjadi domain dari Bawaslu. Namun menjadi tugas dari semua stake holder serta masyarakat yang mempunyai hak pilih. Masyarakat diharapkan untuk mengawasi setiap tahapan pemilihan, dan melaporkan dugaan pelanggaran pada Bawaslu,” terang Idris.

Penulis: RJ Warsa

Komentar
Advertisement