src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kepala KKP Kelas II Samarinda Solihin didampingi instansi terkait saat menggelar konfrensi pers. (Ningsih)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Masuknya sebuah kapal kargo MV.VTO ke perairan Muara Berau pada 6 Desember 2021 lalu ternyata membawa persoalan. Sebanyak 20 dari 22 ABK diketahui terpapar COVID-19 setelah dilakukan pemeriksaan oleh KKP Kelas II Samarinda.
Pada konfrensi pers yang digelar Jumat 10 Desember 2021 di aula Kantor KKP Kelas II amarinda diungkap kapal tersebut berasal dari Vietnam. Seluruh awak kapal warga Vietnam.
Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Samarinda Solihin menjelaskan, tanggal 5 Desember 2021, pihaknya menerima informasi dari agen pelayaran bahwa kapal MV. VTO akan datang ke perairan Muara Berau pada 6 Desember 2021.
Setelah masuk di perairan Muara Berau, tim boarding KKP Kelas II Samarinda melakukan pemeriksaan kapal termasuk dokumen dan kondisi seluruh ABK.
Berdasarkan hasil pemeriksaan DTC Antigen SAR-COV2 menunjukkan bahwa 18 ABK positif COVID-19. Kejadian itu langsung dilaporkan ke kantor induk untuk dilakukan tindakan lebih lanjut.
“Tanggal 7 Desember, hasil RT-PCR 20 ABK positif sehingga kapal dinyatakan dalam karantina dan dilakukan tindakan tracing, isolasi mandiri dan disinfeksi kapal. Kami juga terus melakukan komunikasi dengan kapal melalui agen pelayaran, termasuk koordinasi dengan Satgas COVID-19 Samarinda. Kita juga mengirim obat-obatan dan vitamin. Seluruh tim boarding (QIC) dan agen pelayaran dilakukan isolasi mandiri di bawah pengawasan petugas kesehatan KKP Samarinda, dilaporkan setiap hari,” beber Solihin.
Dalam hal pengawasan di masa karantina, KKP Kelas II Samarinda telah berkoordinasi dengan PTB selaku pemegang konsesi di Muara Berau dan KSOP Samarinda agar tidak ada aktivitas naik dan turun barang atau orang selama masa karantina.
Sedangkan untuk kebutuhan makan dan minum seluruh ABK selama masa karantina, lanjut Solihin, dipastikan terpenuhi. Kebutuhan pokok dalam jumlah cukup ada di kapal tersebut.
Disebutkan Solihin, terdapat dua ABK yang terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit pemerintah di Samarinda guna mendapatkan perawatan medis karena mengalami sesak napas.
“Tanggal 8 Desember, seorang ABK mengalami sesak nafas. Saturasi sekitar 89 persen dan direkomendasikan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan lebih lanjut. Kita koordinasikan dengan lintas sektor sehingga pasien dibawa ke ruang isolasi di RS AWS,” katanya.
“Tanggal 9 Desember, kembali kami menerima informasi seorang ABK mengalami sesak nafas, saturasi 88 persen dan juga harus mendapatkan pelayanan kesehatan lebih lanjut. Pasien dirujuk ke rumah sakit yang sama,” sambungnya.
Gejala yang dirasakan 20 ABK tersebut bervariasi. 18 orang ABK bergejala, 13 orang demam, 16 orang batuk, 11 orang pilek, 16 orang sakit tenggorokan, 6 orang susah napas, 12 orang hilang indera penciuman, 6 orang hilang indera pengecap, 6 orang alami diare dan 14 orang mengalami lemas.
“Sumber penularan masih dalam penyelidikan tim KKP Kelas II Samarinda. Dugaan sementara, ada interaksi antarorang yang terinfeksi COVID-19 dengan ABK yang kemudian menyebar kepada ABK lain melalui kontak langsung maupun saat makan di mess room. Karena penyebaran melalui AC Central yang ada di kapal,” katanya.
Penulis: Ningsih
Editor: MH Amal