src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud bersama Wakil Gubernur Seno Aji, Sekretaris Daerah Sri Wahyuni, serta jajaran OPD melakukan peninjauan langsung ke SMA Negeri 10 Samarinda pada Selasa (21/7/2026). (Foto: Retno: Headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Kegiatan belajar mengajar di SMA Negeri 10 Samarinda dipastikan kembali berjalan normal setelah polemik penggunaan lahan dengan Kampus Melati diselesaikan. Persoalan yang sebelumnya menyangkut pemanfaatan aset dan sempat menimbulkan ketidakpastian bagi orang tua dan siswa itu tidak lagi menjadi kendala sejak dimulainya tahun ajaran baru pada 13 Juli 2026.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) pun mulai membenahi kondisi sekolah secara bertahap. Perbaikan fasilitas serta pemenuhan kebutuhan dasar siswa dilakukan agar kegiatan belajar mengajar (KBM) bisa berjalan lebih nyaman. Upaya ini juga dilakukan untuk mengembalikan peran SMA Negeri 10 sebagai salah satu sekolah unggulan di Kaltim.
Di saat yang sama, sekolah ini juga tengah dipersiapkan masuk dalam program Sekolah Garuda yang digagas pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto, dengan penekanan pada kualitas pendidikan, pembinaan karakter, serta pencetakan generasi berdaya saing tinggi.
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud bersama Wakil Gubernur Seno Aji, Sekretaris Daerah Sri Wahyuni, serta jajaran OPD melakukan peninjauan langsung ke SMA Negeri 10 Samarinda pada Selasa, 21 Juli 2026. Kunjungan ini sekaligus untuk memastikan kesiapan aset milik Pemprov yang digunakan dalam kegiatan pendidikan. “Ini kunjungan pasca anak-anak kita telah masuk sekolah pada 13 Juli,” ujar Rudy.
Peninjauan tersebut menjadi lanjutan dari kunjungan sebelumnya yang dilakukan untuk melihat perkembangan pembenahan di kawasan sekolah. Pemprov Kaltim ingin memastikan seluruh proses belajar mengajar benar-benar berjalan tanpa kendala, sekaligus memperkuat arah pengembangan sekolah ke depan.
SMA Negeri 10 Samarinda dinilai memiliki posisi penting dalam mencetak sumber daya manusia unggul di Kalimantan Timur. Karena itu, selain pemulihan pasca konflik, perhatian juga diarahkan pada peningkatan kualitas agar sesuai dengan standar sekolah unggulan.
“Sebelumnya kita sudah melaksanakan kunjungan untuk melihat progres pekerjaan. Kita ingin memastikan bahwa proses belajar-mengajar untuk SMA 10 negeri ini yang bertransformasi menjadi Sekolah Garuda, sekolah unggulan ini yang memang sebelumnya sekolah ini adalah sekolah unggulan,” tuturnya.
Sejumlah pembenahan fisik juga terlihat dalam peninjauan tersebut, terutama pada akses jalan menuju sekolah yang sebelumnya dikeluhkan. Saat ini, kondisi jalan sudah diperbaiki melalui pengaspalan sehingga lebih layak dilalui oleh siswa maupun tenaga pendidik.
Perbaikan ini menjadi bagian penting dalam mendukung kelancaran aktivitas sekolah, sekaligus meningkatkan kenyamanan lingkungan belajar secara keseluruhan. “Pertama, akses jalan Alhamdulillah seperti yang kita lihat sekarang, aspalnya sudah bagus. Tinggal nanti proses marka, untuk segera kita benahi,” tambahnya.
Selain akses jalan, perhatian juga difokuskan pada kondisi asrama siswa yang menjadi fasilitas utama bagi pelajar dari berbagai daerah. Sebelumnya, kondisi asrama dinilai membutuhkan pembenahan serius, terutama pada sanitasi dan sistem kelistrikan.
Perbaikan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan dinas teknis dan perusahaan daerah, agar fasilitas tersebut kembali layak dan aman digunakan oleh ratusan siswa yang tinggal di dalamnya. “Yang kedua, kami memberikan apresiasi kepada seluruh pihak, terutama Dinas PUPR, Dinas Pendidikan, dan Perusda yang bersama-sama menyukseskan agar proses belajar mengajar ini bisa berjalan normal, termasuk pembenahan asrama,” kata Rudy.
Dari hasil pengecekan di lapangan, diketahui banyak instalasi listrik yang sudah tidak layak pakai, bahkan sebagian mengalami kerusakan dan kehilangan. Kondisi ini membuat perbaikan harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya tambal sulam. Penataan ulang dilakukan untuk memastikan keamanan dan kenyamanan penghuni asrama, mengingat jumlah siswa yang cukup besar dan berasal dari berbagai wilayah.
“Kita melihat asrama-asrama, mulai dari sanitasi dan listrik, karena banyak kabel yang didesain ulang atau dibangun kembali. Sebagian memang sudah tidak layak, rusak, dan ada juga yang hilang,” jelasnya.
Saat ini, proses pembenahan masih terus berjalan, terutama pada bagian lantai atas bangunan. Namun fasilitas di lantai bawah sudah mulai digunakan agar siswa tetap dapat beraktivitas dengan baik tanpa harus menunggu seluruh pekerjaan selesai.
Rudy Mas’ud memastikan proses perbaikan dilakukan bertahap tanpa mengganggu kegiatan belajar mengajar yang sudah berjalan sejak awal tahun ajaran. “Yang saat ini masih on progress termasuk sanitasi dan beberapa bagian bangunan. Untuk lantai dua masih dalam pembenahan, baik putra maupun putri. Tapi yang di bawah sudah bisa digunakan,” imbuhnya.
SMA Negeri 10 Samarinda diketahui memiliki kapasitas asrama lebih dari 400 siswa dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Timur, termasuk daerah terpencil seperti Mahakam Ulu. Hal ini menunjukkan peran strategis sekolah tersebut dalam pemerataan akses pendidikan.
Dengan kondisi yang mulai pulih dan pembenahan yang terus berjalan, Pemprov Kaltim berharap SMA Negeri 10 benar-benar dapat berfungsi sebagai pusat pendidikan unggulan yang mampu mencetak generasi emas daerah. “Mohon dukungan kepada seluruh pihak, terutama untuk masyarakat Provinsi Kalimantan Timur untuk bahu-membahu kita bagaimana sekolah ini betul-betul bisa melahirkan generasi-generasi emas Kalimantan Timur,” tukas Rudy Mas’ud. (Retno)