src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Balita Sakit Berat Nyaris Diusir dari RSUD AWS Samarinda? Ini Klarifikasi dan Fakta Lengkapnya

Balita Sakit Berat Nyaris Diusir dari RSUD AWS Samarinda? Ini Klarifikasi dan Fakta Lengkapnya

3 minutes reading
Wednesday, 23 Apr 2025 10:24 1176 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Seorang balita berusia 16 bulan bernama Radepa, warga Kota Samarinda, Kalimantan Timur, menjadi sorotan publik setelah beredar kabar dirinya nyaris diusir dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdoel Wahab Sjahranie (AWS), padahal baru saja menjalani serangkaian operasi otak. Informasi ini mencuat setelah keluarga pasien mengungkapkan bahwa mereka menerima tekanan untuk pulang dari rumah sakit, meski kondisi sang anak belum stabil.

Kabar tersebut memicu keprihatinan banyak pihak, termasuk anggota legislatif daerah dan pegiat perlindungan anak. Pihak rumah sakit pun segera memberikan klarifikasi resmi guna meredakan keresahan dan memastikan transparansi penanganan medis yang dilakukan terhadap pasien balita tersebut.

Kabar awal menyebutkan bahwa balita Radepa, yang telah menjalani tiga kali operasi sejak Februari 2025 akibat adanya cairan di otaknya, diminta keluar dari rumah sakit pada pagi hari karena sang ibu menolak tindakan medis lanjutan. Padahal, kondisi kesehatan balita ini disebutkan masih sangat lemah dan memerlukan perawatan intensif.

Adnan Faridhan, anggota Komisi I DPRD Kota Samarinda, yang turut meninjau langsung ke RSUD AWS bersama Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRac PPA), menyampaikan keterkejutannya terhadap situasi tersebut. Ia bahkan menerima informasi dari pihak keluarga mengenai kemungkinan kebutaan dan kelumpuhan yang mengancam Radepa.

“Saya lihat kondisi anaknya tidak memungkinkan untuk keluar,” kata Adnan saat diwawancarai awak media, Selasa (22/4).

Ia pun berkomitmen untuk bertemu langsung dengan Direktur Utama RSUD AWS guna mencari solusi terbaik. “Ini menyangkut nyawa. Saya yakin rumah sakit juga ingin yang terbaik, tapi keluarga pasien juga ingin anaknya kembali pulih,” ujarnya.

Menanggapi kabar yang telah menyebar luas itu, Kepala Instalasi Humas RSUD AWS, dr. Arysia Andhina, menjelaskan bahwa tidak ada niatan mengusir pasien. Menurutnya, kemungkinan besar telah terjadi miskomunikasi antara tim medis dan pihak keluarga.

“Mungkin saja pasien disarankan pulang karena tidak ada tindakan medis lanjutan. Namun, keputusan tersebut tetap memerlukan koordinasi dengan pihak manajemen,” kata dr. Arysia.

Ia menambahkan bahwa alat medis yang dipasang pada Radepa memang memiliki risiko kegagalan cukup tinggi. Berdasarkan data medis, pada anak di bawah usia dua tahun, tingkat kegagalan alat tersebut bisa mencapai empat persen. Angka ini bahkan melonjak hingga 98 persen ketika pasien berusia 10 tahun, terutama disebabkan oleh perubahan berat badan dan kondisi tubuh.

“Kemungkinan bukan kesalahan dalam proses pemasangan alat, melainkan kegagalan alat itu sendiri. Ini juga sesuai dengan sejumlah penelitian medis yang ada,” jelasnya.

Kasus ini menjadi perhatian luas masyarakat karena menyentuh aspek paling mendasar dari pelayanan kesehatan: hak pasien, terutama anak-anak, untuk mendapatkan perawatan yang manusiawi dan profesional. Di tengah sistem kesehatan yang terus berkembang, insiden seperti ini membuka diskusi lebih dalam tentang komunikasi antara rumah sakit dan keluarga pasien.

Masalah seperti miskomunikasi bisa berdampak besar pada kepercayaan publik terhadap fasilitas layanan kesehatan. Apalagi jika menyangkut anak-anak dan kelompok rentan, yang semestinya mendapat perlindungan ekstra.

Pihak RSUD AWS telah menyatakan akan mengonfirmasi kembali kepada unit perawatan terkait dan melakukan investigasi internal. Sementara itu, Adnan Faridhan dan pihak TRac PPA mendorong agar kasus ini diselesaikan secara menyeluruh dan transparan.

“Kita akan cari titik terang besok bersama pihak rumah sakit. Mudah-mudahan sudah ada kejelasan dan solusi yang terbaik untuk anak ini,” pungkas Adnan.

Sementara masyarakat Samarinda dan warganet terus menanti perkembangan terbaru kasus ini, banyak yang menyerukan agar pelayanan kesehatan lebih mengedepankan empati dan komunikasi terbuka kepada pasien dan keluarganya, terutama dalam kasus-kasus krusial seperti ini.

Artikel Asli baca di antaranews.com

 

Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya di Google News Headline Kaltim

LAINNYA
x