src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Jappin Sidayang; Merawat Ingatan tentang Kiprah Adji Rasman, Sang Maestro Tari dan Musik Berau

Jappin Sidayang; Merawat Ingatan tentang Kiprah Adji Rasman, Sang Maestro Tari dan Musik Berau

5 minutes reading
Thursday, 1 May 2025 10:41 721 huldi amal

JAPPIN Sidayang merupakan tarian yang berasal dari pengetahuan yang hidup dalam setiap gerak tubuh Adji Rasman. Seorang Maestro Jappin asal Gunung Tabur, Kabupaten Berau. Ia mendedikasikan lebih dari separuh hidupnya untuk tari dan musik. Pria yang lahir pada tahun 1940 ini masih aktif membagikan ilmunya kepada pelaku seni di Bumi Batiwakkal.

Usianya yang senja ini tidak menghalangi dirinya untuk tetap semangat dalam berkesenian. Tidak hanya menciptakan dan mengajarkan gerak saja, tetapi juga merawat ingatan kolektif, memperkaya pemahaman serta menjaga warisan budaya Berau. Adji Rasman menciptakan dan mengembangkan variasi Jappin dengan sentuhannya sendiri. Jappin Sidayang adalah salah satu karya kreasinya yang paling menonjol. Ia ingin memperkenalkan gaya yang lebih dinamis namun tetap elegan. Seniman tersebut berperan penting dalam pengembangan Jappin khas Berau. Bahkan, dirinya beberapa kali mewakili daerah dalam pementasan tingkat nasional.

Laki-laki tua itu duduk dengan santai. Jari-jari keriputnya memainkan alat musik marwas dengan penuh penghayatan. Belasan anak muda di depannya mulai belajar bersama menari tarian Jappin Sidayang. Mereka bergerak mengikuti irama musik gambus, gong, marwas dan gendang yang dimainkan secara langsung. Sore itu suasana sedang teduh dan berawan. Hanya ada suara musik yang mengiringi dan gerakan lembut dari para penari.

Mengenakan kopiah dan baju putih dengan celana panjang berwarna abu-abu, Adji Rasman ditemani Melynda Adriani begitu sabar melatih para peserta, mulai dari gerakan salam (pembuka), kepala bassai, transisi, salam 2, lonjakan, lilit kacang, sisitan hingga penutup. Langkah demi langkah diajarkannya secara perlahan dan teratur.

Lokakarya Jappin Sidayang ini difasilitatori oleh Adji Rasman pada Selasa, 28 April 2025 di Museum Batiwakkal Gunung Tabur. Dengan mengundang para pengajar dan praktisi seni tari. Melalui kegiatan tersebut, diharapkan para peserta dapat mengajarkan dan meneruskan pengetahuan di balik tarian ini kepada masyarakat secara luas.

Guna menjaga dan melestarikan warisan budaya Berau, komunitas Tepian Kolektif berkolaborasi dengan Ruang Perupa Berau dan Hid’Art Project berinisiatif untuk menggelar kegiatan Malam Sidik Sidayang: Tubuh yang Mengingat, dari Guru ke Generasi. Acara tersebut digelar di Pour Cafe pada Rabu, 29 April 2025 yang juga bertepatan dengan Hari Tari Sedunia.

Bermodalkan tekad yang kuat, kumpulan komunitas di Berau tersebut berupaya untuk mengarsipkan serta meluncurkan zine dan modul yang berjudul “Jappin Sidayang Tubuh Waktu Warisan” dalam bentuk cetak hingga digital. Terdapat 65 halaman yang berisi tentang jejak sejarah, warisan nilai-nilai budaya, perjalanan Adji Rasman, materi gerak, hingga musik pengiring Jappin Sidayang.

Modul ajar ini juga dilengkapi dengan barcode referensi video Jappin Sidayang dan musik pengiring yang dapat diakses di halaman tertentu. Malam Sidik Sidayang juga dirangkaikan dengan pemutaran video dokumenter dan pemberian penghargaan kepada Adji Rasman sebagai penghormatan atas dedikasi dalam menjaga dan meneruskan seni Jappin secara konsisten.

Salah satu penggerak komunitas Tepian Kolektif, Melynda Adriani menyampaikan, Tepian Kolektif adalah komunitas yang berfokus pada pengarsipan dan kegiatan seni budaya Berau. Dari akhir tahun 2020 – 2025, komunitas ini mulai memilih untuk mengarsipkan pengetahuan Adji Rasman. Nama Adji Rasman sudah tak asing lagi di dunia kesenian Kabupaten Berau. Mereka melihat bahwa maestro tari dan musik ini sudah berpuluh-puluh tahun mengajarkan Jappin ke siswa-siswinya.

“Project ini kurang lebih sudah 4 tahun yang lalu, dan dari situ kumpulan anak muda Berau memiliki misi untuk mendokumentasikan Adji Rasman. Kebetulan pas ada Hari Tari Sedunia, makanya saya pikir ini momentum yang sangat cocok untuk segera diluncurkan,” ungkapnya.

Menurutnya, ini merupakan proyek jangka panjang. Zine dan modul tersebut rencananya akan disebarkan secara gratis ke sekolah-sekolah di Kabupaten Berau.Harapannya dapat berkolaborasi dengan sekolah, bukan hanya di level ekstrakurikuler tetapi dicangkok ke dalam kurikulum pelajaran seni budaya di kelas.

“Kita punya modul ajar yang sudah siap. Tenaga pengajar akan dipersiapkan untuk mengajarkan tari ini. Makanya kami melakukan workshop itu. Di akhir, akan ada pementasan Jappin,” bebernya.

Lulusan magister di Institut Seni Yogyakarta Jurusan Penciptaan Seni Tari Tahun 2023 ini mengatakan, gabungan tiga komunitas tersebut juga berencana mengajak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Berau untuk mencetak zine dan modul Jappin Sidayang. “Saya harap ada beberapa pihak lain yang tertarik dan bisa membantu kami melalui acara ini,” ucapnya.

Dikatakannya, respons dari para peserta lokakarya cukup beragam. Ia mengakui, tantangan Jappin Sidayang iada pada gerakan kaki yang kompleks sehingga diperlukan waktu untuk latihan. “Kemudian, untuk bagian ilustrasi zine dan modul kita dibantu dari kawan-kawan dari Ruang Perupa Berau dan Hid’Art Project,” tuturnya.

Perwakilan sekaligus penggagas Ruang Perupa Berau, Rosyidah menyebutkan, berdasarkan tuturan Adji Rasman, ia bersama kawan-kawan yang lain mencoba untuk menyusun narasi, membuat visual dan ilustrasi serta melakukan digitalisasi.

Menurutnya, keterlibatan anak muda ini bisa membuka ruang bagi generasi muda dalam melakukan perawatan, pengarsipan dan pelestarian seni budaya di Kabupaten Berau. “Proyek ini digarap secara kolektif dan kami menyambutnya dengan antusias,” tegasnya.

Rosyidah berharap ini tidak hanya menjadi dokumen mati. Namun, dari modul dan workshop ini ke depan dapat melahirkan agen tari yang bisa meneruskan Jappin Sidayang. “Kita berharap zine dan modul ajar ini bisa bermanfaat sehingga menjadi pengetahuan bagi kita semua,” ujarnya.

Salah satu kerabat Adji Rasman mengapresiasi proyek para anak muda tersebut dalam menggali seni budaya di Kabupaten Berau. Bukti bahwa komunitas tersebut sangat menghargai kesenian Berau melalui pengarsipan yang kreatif, khususnya pada Jappin Sidayang hingga merekam perjalanan panjang sosok Adji Rasman. (Riska)

 

Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya di Google News Headline Kaltim

banner pemkab berau baru
LAINNYA
x