Beranda Kutai Kartanegara Idealisme vs Pragmatisme, Berbincang Soal Desain Komunikasi Visual di Era Digitalisasi

Idealisme vs Pragmatisme, Berbincang Soal Desain Komunikasi Visual di Era Digitalisasi

Hulany Saputro.
Advertisement

HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Sebagai salah satu bentuk komunikasi, teknik propaganda awalnya mengandalkan wicara. Kemampuan tutur yang mempengaruhi pendengar. Namun, bukan berarti propaganda tak muncul dalam bentuk lain.

Sejak zaman Mesir kuno, para seniman menulis di atas lembaran daun papirus atau memahat relief di peti penutup mumi raja-raja mesir. Tugas utama mereka adalah mengabdikan sekaligus menyebarluaskan keperkasaan, kebesaran, dan kehebatan penguasa-penguasa.

Dalam perang dunia, bermunculan desain gambar yang bertujuan “menggiring” pemaknaan atau “disinformasi’. Revolusi industri yang ditandai dengan temuan mesin cetak oleh Gutenberg, membuat  pesan media bersifat massal, berdaya jangkau tak berbatas.

Advertisement

Kali ini, headlinekaltim.co mengajak pembaca menyelami lajunya arus komunikasi visual yang kian pesat seiring era digitalisasi. Jika dulu orang-orang bergiat dalam arus besar atas nama ideologi memainkan karya komunikasi visual sebagai alat propaganda, bagaimanakah kondisi dan praktik kekiniannya?

Media ini mewawancarai Hulany Saputro, lulusan Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Visi Indonesia (STSRD VISI) Yogyakarta di ruang kerjanya di Jalan AM Alimuddin, Kelurahan Melayu, Tenggarong.

Sembari berbincang di ruang kerja desainer ini, lantunan lagu Jula-Juli milik Jogja Hip-hop Foundation terdengar dari sudut ruangan. “Ngemut permen, permen lolipop. Bunder tur gepeng rasane legi. Kepengen mbeken pengen dadi ngetop. Karyane laris tur senine mati. Jaman saiki kabeh do blereng matane, podo nuruti pasar apa pesenane. Ngene wis dadi cara ngo golek pangane. Seni ra penting sing penting entuk duite”.

***

Baca Juga  Pencarian ABK yang Hilang di Muara Pantuan Dihentikan

“Desain komunikasi visual adalah bahasa sekarang, dulu disebutnya seni reklame dan propaganda. Walau memang harus diakui sebagai karya seni, harus menekankan pada keindahan karya. Bahkan tidak bisa tafsiri mutlak, karena ia begitu luas penafsirannya dari sudut pandang manusia,” ungkap pria yang akrab disapa Kribo.

Menurutnya, mengkomunikasikan maksud dan tujuan pada sebuah gambar yang mudah dipahami khalayak ramai adalah pencapaian lain di antara tujuan utama desain visual sebagai karya seni.

Saat ini, kata Kribo, desain komunikasi visual telah menjadi bagian hidup manusia khususnya dunia advertising alias pariwara. “Dasar-dasar komunikasi visual tidak berubah, semua yang muncul jelas memakai metodologi.  Umpama desain logo, jelas harus melakukan riset terkait apa yang mau dibikin. Tiap karya-karya desain yang dihasilkan memiliki filosofi tersendiri, tergantung dari sudut pandang apa yang dikerjakan oleh seniman visual itu sendiri,”jelas owner Javcas ini.

Dia mengakui, perkembangan komunikasi visual di era digitalisasi sangat pesat. Terlebih lagi, munculnya aplikasi-aplikasi terapan yang memudahkan semua orang menggarap kerja-kerja desain visual.  Tinggal buka tutorial di Youtube dan mengunduh materi dari internet.

“Dulu masih manual, sekarang sudah digital semua. Sekarang orang sudah pintar-pintar, bahkan anak tingkatan SMP sudah bisa pegang aplikasi Corel hingga Photoshop. Dulu zaman saya pegang Corel, ya zaman bangku kuliahan. Belum lagi harus membaca buku, agar dapat mengetahui gaya komunikasi visual berbagai seniman. Sekarang tinggal cari di internet sudah banyak bertebaran. Kembali lagi soal desain tetap tergantung individu, ada yang pop art, retro, psycho delight, dan lain-lain,” terang pria kelahiran tahun 1982 ini.

Baca Juga  KPU Kutai Kartanegara Butuh 18.748 Petugas KPPS

Sebagai desainer, Hulany menjabarkan apa yang menjadi keinginan klien yang berkaitan dengan desain grafis terapan. Intinya, ini berbeda dengan seni visual murni yang tentu harus mengedepankan idealisme senimannya.

Walaupun memiliki hubungan yang jelas, terang dia, perbedaan hanya pada pengaplikasian. Kalau desain grafis harus memvisualkan gambar sesuai keinginan dan dimengerti.

Ambil contoh soal pembuatan logo. Semakin ‘minimalis’ karya yang dihasilkan maka akan semakin mahal. Karena diukur dari ide pembuatannya, menjadikannya mahal. Bayangkan jika membandingkan dengan seni murni, semisal memvisualkan relief pada sebuah candi di masa lalu. Itu tentu jauh lebih mahal dan tak ternilai. Selain idenya yang mahal, bahan pembuatannya juga mahal sekali.

“Ide terlahir beragam, walau sering muncul kesamaan dalam karya yang dihasilkan. Namun jelas ada ciri-ciri khusus, jika memang desainer benar-benar dalam membuat sebuah karya dan menanamkan idealisme serta mengesampingkan pragmatisme.  Desainer komunikasi visual harus punya kreativitas, sehingga dari sisi layout hingga typografinya memiliki penanda bahwa itu karyanya. Orang-orang yang memiliki idealisme tidak akan pernah mati, karyanya tak lekang oleh waktu alias abadi. Berbeda dengan karya yang hanya mengejar pragmatisme, karyanya laris-manis namun seninya mati,” ucapnya, lugas.

Penulis: RJ Warsa

Komentar
Advertisement