22.8 C
Samarinda
Monday, July 15, 2024

Gelar Pengobatan Gratis di Maratua, Dokter Merasa Sesak, Ternyata Positif COVID-19

HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNGREDEB – Salah satu dokter terpapar COVID-19 usai melakukan pengobatan massal di Kecamatan Maratua. Dinas Kesehatan Berau membenarkan hal tersebut, Minggu 29 November 2020.

Kepala Dinas Kesehatan Berau Iswahyudi menyebut, sebelumnya dokter tersebut mengeluh tidak enak badan kemudian  melakukan uji swab pada Sabtu 28 November 2020. Hasilnya, positif terkonfirmasi COVID-19.

Kegiatan pengobatan massal tersebut, jelas Iswahyudi, diinisiasi oleh Dinas Kesehatan Samarinda. Sekira 10 orang dokter dan staf Dinkes lainnya menuju ke Kecamatan Maratua untuk tujuan pengobatan massal. Kegiatan pada Rabu 18 November 2020 lalu. “Kegiatannya sehari saja,” ujarnya.

Pihaknya juga masih melakukan tracing dari mana riwayat penularan tersebut. Apakah di transmisi lokal Maratua atau Samarinda. Menurut Iswahyudi, pasien tersebut belum keluar dari Berau. “Hasil tracing hingga saat ini ada 10 orang,” ujarnya.

Untuk kondisi dari dokter yang terkonfirmasi tersebut sedang menjalani perawatan. Tidak ada keluhan berat, hanya mengalami sesak nafas. “Iya benar, kami masih mencari sumber di mana penularannya. Yang lebih penting yakni siapa saja kontak erat dari pasien tersebut,” bebernya.

Lebih lanjut, Iswahyudi mengatakan, rata-rata dokter yang mengikuti kegiatan tersebut merupakan dokter spesialis. Ia juga meminta masyarakat agar tidak panik. Sebab, seluruh dokter dan staf Dinkes yang mengikuti kegiatan di Pulau Maratua tersebut saat ini sudah diisolasi.

“Sudah semua (diisolasi). Untuk keluhan dari para dokter dan staf, hingga saat ini belum ada. Tapi kan mereka kontak erat. Kemungkinan hari ini akan swab,” tuturnya.

Disinggung mengenai kemungkinan dilakukan swab massal mengingat jumlah kasus transmisi lokal yang belum diketahui sumber penularannya cukup meningkat, Iswahyudi mengakui itu belum bisa dilakukan.

Sebab, itu butuh anggaran yang cukup besar. Selain itu, ada efek domino turut dipertimbangkan jika dilakukan swab massal. “Pertama, itu pasti masyarakat panik. Kedua, anggaran yang tidak memadai,” katanya.

Iswahyudi menerangkan, untuk swab massal tidak mungkin dilakukan, terkecuali area penyebaran sudah meluas dalam satu wilayah. Seperti kasus klaster SIS BMO, yang di-swab massal mencapai 350 orang.

Untuk kasus yang terjadi saat ini, pihaknya hanya menunggu hasil tracing. “Menunggu dalam artian, jika ada laporan kami langsung turun ke lapangan, dan tracing, cari kontak erat siapa saja. Kan tidak penting siapa yang duluan terpapar. tetapi bisa memutuskan mata rantai penularan,” pungkasnya.

Penulis: Sofi

Editor: MH Amal

- Advertisement -

LIHAT JUGA

- Advertisement -

TERBARU

POPULER