src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Suasana Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi II DPRD Kota Samarinda bersama Forum Pedagang Pasar Pagi beserta beberapa OPD terkait membahas persoalan pengelolaan Pasar Pagi, Selasa (1/9/2026). (Foto: Retno/Headlinekaltim.coHEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Persoalan pengelolaan Pasar Pagi Samarinda kembali dibahas dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi II DPRD Samarinda, Selasa, 1 September 2026. Forum Pedagang Pasar Pagi membawa 14 persoalan yang dinilai perlu segera ditindaklanjuti pemerintah kota melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Ketua Forum Pedagang Pasar Pagi, Thoriq Hakim mengatakan, berbagai persoalan tersebut dihimpun dari keluhan pedagang maupun masyarakat yang beraktivitas di Pasar Pagi. Dari 14 poin itu, terdapat sejumlah masalah yang dinilai paling mendesak karena berpengaruh langsung terhadap kenyamanan pengunjung dan aktivitas jual beli.
Salah satu persoalan utama yakni akses menuju pasar. Thoriq menilai tangga yang menjadi salah satu akses masuk saat ini terlalu tinggi sehingga menyulitkan masyarakat, khususnya bagi lansia dan mereka yang memiliki keterbatasan fisik atau keluhan pada lutut.
Bahkan, diungkapkannya, sedikitnya tiga orang pernah menjadi korban akibat kondisi akses tersebut. Oleh karena itu, pedagang mengusulkan adanya eskalator berjalan yang dapat memudahkan masyarakat masuk ke area pasar. “Yang paling krusial itu akses. Selama ini yang digunakan masyarakat maupun pedagang, terutama tangga yang sangat tinggi itu telah banyak memakan korban. Setidaknya tiga korban yang kita ketahui. Kami minta agar dipasangi eskalator,” ujar Thoriq diwawancarai usai RDP.
Selain akses, tarif parkir menjadi persoalan lain yang paling banyak dikeluhkan masyarakat. Thoriq menyebut tarif kendaraan roda empat mencapai sekitar Rp20 ribu per hari. Jika dihitung selama sebulan, biaya tersebut dapat mencapai sekitar Rp600 ribu.
Sementara untuk kendaraan roda dua, tarif yang dikenakan berada di kisaran Rp8 ribu hingga Rp10 ribu per hari. Menurutnya, besaran tersebut turut membuat masyarakat berpikir ulang untuk berbelanja ke Pasar Pagi. Persoalan berikutnya berkaitan dengan penataan bagian dalam gedung. Thoriq menilai posisi eskalator, tangga dan lift yang berada di bagian tengah bangunan membuat sejumlah kios berada di area yang minim dilalui pengunjung.
Kondisi itu kemudian menciptakan apa yang ia sebut sebagai blank spot, terutama pada lantai dua hingga lantai tujuh. Pedagang yang menempati kios di area tersebut dinilai berada pada posisi kurang menguntungkan karena akses pengunjung tidak mengarah ke bagian tersebut.
Menurut Thoriq, kondisi itu bahkan berdampak langsung terhadap omzet pedagang. Ia menyebut terdapat pedagang yang dalam kurun satu hingga tiga bulan hanya mampu menjual satu barang. “Banyak pedagang yang tidak buka, yang sudah buka pun tidak laris, tidak laku barangnya. Karena fasilitas yang ada numpuk di tengah semua, jadi banyak ruangan yang tidak dilewati orang,” jelas dia.
Thoriq menilai persoalan tersebut perlu dicari solusinya melalui perubahan penataan fasilitas. Salah satu opsi yang disampaikan yakni memindahkan posisi lift atau eskalator ke bagian depan sehingga area kios yang selama ini sepi dapat kembali menjadi jalur pengunjung.
Thoriq juga menyinggung persoalan kelistrikan di lantai lima. Dikatakannya, terdapat sejumlah blok yang mengalami gangguan, bukan dalam bentuk pemadaman total, tetapi aliran listrik yang terkadang menyala kemudian kembali mati.
Berbagai persoalan tersebut, kata Thoriq, menjadi alasan pihaknya memilih membawa masalah Pasar Pagi ke meja RDP. Sebab, ketika disampaikan secara terpisah kepada masing-masing instansi, pedagang tidak mendapatkan jawaban yang bisa langsung menyelesaikan persoalan.
Ia berharap Komisi II DPRD Samarinda dapat mendorong OPD terkait untuk segera menindaklanjuti hasil pembahasan. Termasuk usulan penyediaan eskalator outdoor yang sebelumnya disebut akan diupayakan Pemkot Samarinda pada 2027. “Dalam closing statement tadi saya tegaskan ke Ketua Komisi agar OPD terkait yang hadir itu ditekan supaya segera menindaklanjuti dan merealisasikan apa yang kami mohonkan pada siang hari ini,” tegasnya.
Thoriq mengatakan, persoalan lain seperti akses pintu masuk juga masih membutuhkan kejelasan. Pedagang berharap Pasar Pagi dapat diakses dari dua sisi, yakni Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Gajah Mada. Namun, menurut informasi yang diterima dalam RDP, pengaturan akses tersebut berkaitan dengan kewenangan pemerintah pusat sehingga membutuhkan kebijakan lebih lanjut.
Sementara untuk persoalan tempias air hujan, Thoriq menyebut perbaikannya sudah mulai dikerjakan. Usulan tersebut sebelumnya telah disampaikan kepada pemerintah kota sekitar satu hingga dua bulan lalu, tetapi pengerjaannya sampai saat ini masih berlangsung.
Setelah seluruh keluhan pedagang disampaikan, Kepala Dinas Perdagangan Kota Samarinda, Nurrahmani atau akrabnya Yama mengatakan, masukan dalam RDP tersebut akan menjadi bahan pembahasan lanjutan. Ia menilai kritik yang disampaikan pedagang merupakan bagian dari evaluasi untuk memperbaiki kondisi Pasar Pagi.
Penyelesaian persoalan Pasar Pagi, lanjut Yama, tidak bisa hanya melihat persoalan omzet pedagang. Menurutnya, kondisi pasar yang ramai atau sepi juga berkaitan dengan komitmen seluruh pihak untuk menjalankan hasil kesepakatan. “Yang pasti ketika itu menjadi sebuah pemikiran bersama dari masing-masing pihak, kita minta sama-sama komitmen, mereka komitmen, jadi bisa jalan semua,” ujar Yama.
Ditambahkan Yama, Dinas Perdagangan berencana menggelar pertemuan bersama perwakilan pedagang pada September ini. Pertemuan tersebut akan membahas persoalan secara bertahap, termasuk kondisi lapak, penataan kios, kelistrikan hingga upaya menghidupkan kembali area-area yang masih sepi.
Pihaknya, lanjut dia, ingin mencari solusi yang tidak hanya memudahkan pedagang, tetapi juga tetap menjaga estetika serta fungsi ruang publik di dalam gedung. Oleh karena itu, pembahasan akan dilakukan lebih dulu bersama perwakilan pedagang sebelum hasilnya disampaikan kepada publik. “Bulan ini pertemuan. Rencana kami di lantai 8 Pasar Pagi. Kami diskusi dulu, nanti hasil baiknya baru kami sampaikan,” demikian Yama. (Retno)