src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Peresmian Galeri M@M@Be Tenun Berau. (Foto: Riska/headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Perjalanan panjang Tenun Berau memasuki babak baru dengan diresmikannya Galeri M@M@Be Tenun Berau di Jalan Pemuda, Gang Muslimin, RT 09, Nomor 06, Kecamatan Tanjung Redeb pada Sabtu, 11 Juli 2026. Kehadiran galeri ini bukan sekadar menjadi pusat pemasaran produk wastra lokal, tetapi juga diharapkan menjadi ruang edukasi sekaligus wadah mencetak generasi baru penenun agar warisan budaya Berau tetap lestari.
Owner M@M@Be Tenun Berau, Sonya Da Silva, mengungkapkan bahwa lahirnya Tenun Berau merupakan hasil perjuangan panjang yang dimulai sejak 2016, ketika Dekranasda Kabupaten Berau mulai mendorong lahirnya identitas wastra daerah. Saat itu, Berau belum memiliki tenun khas sendiri.
“Dulu Berau belum punya tenun. Alhamdulillah dengan dukungan Dekranasda, Pemerintah Kabupaten Berau dan pihak perusahaan akhirnya Tenun Berau bisa lahir dan terus berkembang sampai hari ini,” ujarnya.
Menurutnya, perjalanan membangun tenun lokal tidaklah mudah. Berawal dari teknik tenun gedogan, kemudian berkembang menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) sehingga menghasilkan kain yang lebih ringan, berkualitas, dan memiliki harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
Ia mengaku, dukungan berbagai pihak menjadi modal penting hingga akhirnya mampu memiliki galeri sendiri di pusat Kota Tanjung Redeb. Momen peresmian galeri pun terasa istimewa karena bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-48.
Namun, di balik capaian tersebut, Sonya menyimpan kekhawatiran terhadap keberlangsungan Tenun Berau. Saat ini sebagian besar penenun masih didominasi kalangan lanjut usia, sementara minat generasi muda dinilai masih rendah.
“Kami ingin ada kader-kader baru. Jangan sampai tenun ini berhenti karena penenunnya sudah semakin tua. Harapan kami ada kerja sama semua pihak agar lahir generasi penerus yang mencintai tenun,” katanya.
Untuk itu, M@M@Be tidak hanya memproduksi kain tenun, tetapi juga mulai menyiapkan program pelatihan bagi berbagai kelompok usia sebagai upaya regenerasi perajin sejak dini.
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah Nawir, menilai kehadiran Galeri M@M@Be menjadi langkah penting dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis wastra di Kabupaten Berau.
Ia mengapresiasi konsistensi Sonya dalam memperkenalkan Tenun Berau yang kini memiliki ciri khas tersendiri melalui motif-motif lokal sehingga berbeda dengan tenun dari daerah lain. “Kalau orang menyebut tenun Berau, pasti yang teringat Bu Sonya. Beliau telah berjuang luar biasa memperkenalkan wastra Berau hingga semakin dikenal,” ujarnya.
Samsiah juga menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pihak, termasuk media, dalam memperluas promosi pariwisata dan ekonomi kreatif daerah. “Tanpa media, pariwisata tidak akan booming. Peran media dan influencer sangat besar dalam mengenalkan potensi Berau, termasuk Tenun Berau,” katanya.
Ke depan, Disbudpar mendorong agar galeri ini berkembang menjadi ruang edukasi sekaligus destinasi wisata kreatif. Program belajar menenun hingga paket wisata wastra dinilai dapat menjadi strategi menarik minat generasi muda sekaligus memperkaya pilihan wisata budaya di Berau.
“Tenun Berau diharapkan tidak hanya menjadi produk kerajinan unggulan, tetapi juga simbol identitas budaya yang terus hidup melalui kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, media, dan masyarakat,” pungkasnya. (Riska)