src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> DLH Siapkan Kerja Bakti Massal dan Penyiraman Lokasi Jelang Pengoperasian Teras Samarinda II

DLH Siapkan Kerja Bakti Massal dan Penyiraman Lokasi Jelang Pengoperasian Teras Samarinda II

waktu baca 3 menit
Senin, 10 Agu 2026 19:00 36 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Menjelang rencana pembukaan Teras Samarinda Tahap II awal September mendatang, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda mendapat dua pekerjaan rumah yang tak kalah penting: membersihkan tumpukan sampah di bantaran sungai sekitar kawasan dan memastikan taman serta rumput di area itu tetap terjaga kesuburannya lewat penyiraman rutin.

Plt. Dinas Lingkungan Hidup Kota Samarinda, Suwarso, menjelaskan pembersihan sampah akan digelar lewat kerja bakti massal pada Jumat mendatang. Lokasinya berada di sepanjang pinggir sungai yang satu alur dengan area samping Pasar Pagi. Kegiatan itu tidak dikerjakan sendirian oleh DLH, melainkan melibatkan sejumlah instansi sekaligus, mulai dari BPBD, PUPR, Damkar, hingga unsur-unsur lain yang turut diagendakan turun ke lapangan.

“Ini kan satu alur dengan sampingnya Pasar Pagi, ini diagendakan hari Jumat, kita kerja baktikan dengan seluruh unsur, baik dari DLH, BPBD, PUPR, Damkar, dan yang lain-lain. Kita kerja baktikan massal di sini,” ujar Suwarso diwawancarai usai meninjau progres Teras Samarinda Tahap II mendampingi Asisten II Setdakot Samarinda beserta jajaran OPD terkait, Senin 10 Agustus 2026.

Agar sampah, kayu, dan rumput liar tidak kembali menumpuk di titik yang sama setelah dibersihkan, kata Suwarso, pihaknya juga menyiapkan langkah pencegahan berupa pemasangan pembatas besi atau wermes di bagian muara sungai. Alat itu diharapkan bisa menahan material yang terbawa arus agar tidak masuk kembali ke badan sungai dekat kawasan Teras Samarinda.

Kendati demikian, tidak semua persoalan bisa selesai lewat kerja bakti biasa. Suwarso mengakui ada tumpukan gulma, kayu, dan sampah yang sudah memadat hingga menyerupai gundukan pulau kecil di beberapa titik. Kondisi itu, menurutnya, membutuhkan penanganan jangka panjang dengan alat berat khusus seperti ekskavator amfibi atau ponton. Sedangkan kewenangan area tersebut berada di tangan Balai Wilayah Sungai (BWS) Wilayah Kalimantan IV. Ia menyebut komunikasi dengan BWS sudah mulai dijalin untuk merumuskan cara penanganan sekaligus skema penganggarannya.

“Kalau hanya digeser ke tengah saja nanti pas pasang bisa kembali lagi. Jadinya percuma kita kerjakan gitu. Itu perlu secara teknis perencanaan khusus untuk menanganinya,” jelasnya.

Di luar urusan sungai, DLH juga kebagian tugas memelihara area hijau di kawasan Teras Samarinda Tahap II. Dari hasil survei ke beberapa titik, tim DLH menemukan sejumlah pohon yang sudah mati serta rumput yang mulai mengering. Sesuai kesepakatan, kondisi itu masih menjadi kewajiban kontraktor untuk diperbaiki hingga batas waktu 20 Agustus mendatang.

Meski begitu, DLH tidak menunggu tenggat tersebut. Pihaknya sudah mulai menyiapkan skema pemeliharaan lanjutan, terutama untuk urusan penyiraman yang dinilai krusial bagi kesuburan tanaman dan rumput gajah mini di kawasan tersebut. Salah satu kendala yang dihadapi adalah sumber air bersih, sebab kontraktor tidak menyediakan jaringan air khusus untuk kebutuhan penyiraman.

Sebagai solusi, DLH berencana mengusulkan pembuatan jaringan air baru. Namun, opsi yang dinilai lebih realistis dan hemat anggaran adalah memanfaatkan mobil tangki penyiraman yang sudah dimiliki DLH, sehingga tidak perlu ada tambahan biaya besar selain bahan bakar.

Suwarso menilai air Sungai Mahakam lebih ideal ketimbang air PDAM. Selain lokasinya yang lebih dekat dan proses pengambilannya lebih hemat, kandungan air sungai dianggap lebih bersahabat untuk tanaman dibanding air PDAM yang mengandung kaporit dan zat kimia dengan kadar lebih tinggi.

“Kalau cukup dengan penyiraman tangki kan lebih hemat toh? Wong kita sudah punya mobil tangki. Paling tinggal karena menambah titik penyiraman ini berarti tinggal menambah BBM aja,” pungkas Suwarso. (Retno)

LAINNYA
x