src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Cadangan Gas Jumbo Ditemukan di Kaltim

Cadangan Gas Jumbo Ditemukan di Kaltim

4 minutes reading
Tuesday, 21 Apr 2026 00:14 1 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Kabar gembira datang dari sektor energi. Pemerintah mengumumkan temuan besar di sektor migas yang diyakini akan mengubah peta ketahanan energi nasional. Penemuan cadangan gas raksasa tersebut di perairan Kalimantan Timur. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, secara resmi mengumumkan adanya temuan cadangan gas sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) di sumur Geliga-1, yang berada di wilayah kerja Blok Ganal, Cekungan Kutai, lepas pantai Kalimantan Timur. Selain gas, sumur tersebut juga menyimpan potensi kondensat sebesar 300 juta barel minyak ekuivalen.

Penemuan ini merupakan hasil eksplorasi yang dilakukan oleh perusahaan energi asal Italia, Eni, yang selama beberapa tahun terakhir aktif mengembangkan potensi migas di kawasan Indonesia timur. “Eni baru mendapatkan satu wilayah kerja baru, giant, dari sumur Geliga yang menghasilkan 5 triliun kaki kubik untuk gas, dan kita mendapat kondensat kurang lebih sekitar 300 juta barrel minyak ekuivalen,” ungkap Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (20/4/2026).

Temuan ini dinilai sebagai salah satu pencapaian strategis di tengah meningkatnya kebutuhan energi domestik dan dinamika geopolitik global yang membuat banyak negara mulai membatasi ekspor energi mereka. Menurut Bahlil, penemuan tersebut menjadi bukti nyata bahwa Indonesia masih memiliki potensi besar di sektor minyak dan gas bumi yang dapat dioptimalkan untuk mendukung target swasembada energi.

“Di era kondisi dunia yang hampir semua sekarang menjaga cadangan mereka, sekali lagi kita bersyukur kepada Tuhan bahwa (penemuan) ini anugerah yang diberikan, dan kita harus betul-betul fokus dalam rangka menjalankan perintah Bapak Presiden untuk mencari sumber-sumber minyak baru,” kata Bahlil dikutip dari kompas.com.

Ia menekankan bahwa pemerintah akan terus mendorong eksplorasi agresif guna menemukan sumber energi baru, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini belum tergarap maksimal.

Seiring dengan temuan ini, pemerintah juga memproyeksikan peningkatan produksi gas yang signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Bahlil mengungkapkan bahwa produksi puncak dari proyek yang dikembangkan oleh Eni diperkirakan mencapai 2.000 MMSCFD (million standard cubic feet per day) pada 2028.

Angka tersebut melonjak jauh dibandingkan produksi saat ini yang berada di kisaran 600 hingga 700 MMSCFD. Bahkan, produksi diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 3.000 MMSCFD pada 2030.

Tidak hanya gas, produksi kondensat juga diproyeksikan meningkat secara bertahap. Pada 2028, produksi kondensat diperkirakan mencapai 90.000 barel per hari, dan meningkat menjadi sekitar 150.000 barel per hari pada periode 2029 hingga 2030.

“Selain gas, kita juga menemukan nanti di 2028, produksi kondensat itu kurang lebih sekitar 90.000 barrel, dan di 2029-2030 itu bisa tambah lagi menjadi 150.000 barrel,” jelasnya.

Bahlil menegaskan bahwa peningkatan produksi gas dan kondensat ini akan menjadi bagian penting dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi, khususnya minyak mentah.

Gas yang dihasilkan dari proyek ini akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, terutama untuk sektor industri dan hilirisasi yang menjadi fokus pembangunan ekonomi nasional.

“Ini adalah strategi untuk bagaimana gas kita tidak impor dari negara manapun. Kita harus memenuhi kebutuhan dalam negeri dan gas ini kita akan dorong untuk industri hilirisasi, serta ini akan mengurangi impor crude (minyak mentah) kita dengan penambahan kondensat,” ucap Bahlil.

Langkah ini sejalan dengan visi pemerintah dalam menciptakan ekosistem industri berbasis energi yang kuat dan berdaya saing, sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.

Sumur Geliga-1 sendiri merupakan salah satu proyek eksplorasi dengan tingkat kompleksitas tinggi. Pengeboran dilakukan hingga kedalaman sekitar 5.100 meter, dengan lokasi berada di perairan dalam dengan kedalaman mencapai 2.000 meter.

Keberhasilan ini semakin mempertegas kemampuan teknologi eksplorasi modern yang digunakan oleh Eni dalam menjangkau sumber daya migas di wilayah laut dalam (deepwater).

Temuan ini juga memperpanjang catatan sukses eksplorasi di Cekungan Kutai, yang sebelumnya telah mencatat penemuan besar seperti Geng North pada 2023 dan sumur Konta-1 pada 2025.

Penemuan di sumur Geliga tidak berdiri sendiri. Proyek ini menjadi bagian dari pengembangan terintegrasi yang melibatkan sejumlah proyek besar lainnya, seperti Gendalo dan Gandang (South Hub), serta Geng North dan Gehem (North Hub).

Dalam pengembangannya, proyek North Hub akan menggunakan fasilitas terapung atau Floating Production Storage and Offloading (FPSO) baru dengan kapasitas produksi hingga 1 miliar kaki kubik gas per hari (BSCFD) dan 90.000 barel kondensat per hari.

Selain itu, proyek ini juga akan memanfaatkan infrastruktur yang telah ada, termasuk Kilang LNG Bontang, guna mempercepat proses monetisasi dan meningkatkan efisiensi operasional.

Pemanfaatan fasilitas eksisting ini diharapkan mampu mempercepat realisasi produksi sekaligus memberikan dampak ekonomi yang lebih cepat bagi negara. (kc)

banner pemkab berau baru
LAINNYA
x