src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">

HEADLINEKALTIM.CO – Hari Raya Idul Adha identik dengan ibadah penyembelihan hewan qurban, sebuah bentuk penghambaan dan ketaatan kepada Allah SWT yang sarat makna spiritual. Namun di balik semangat tersebut, muncul sebuah pertanyaan klasik yang kerap mencuat di tengah umat Islam: Benarkah hewan qurban akan menjadi kendaraan bagi pemiliknya di akhirat kelak?
Pertanyaan ini kembali mencuat menjelang Idul Adha 2025 dan menarik perhatian jamaah dalam sebuah forum kajian ilmu. Seorang jamaah, dengan nada penasaran, bertanya kepada Ustadz Adi Hidayat (UAH), salah satu pendakwah terkemuka Indonesia yang dikenal dengan penjelasan mendalam dan ilmiah.
“Saya pernah mendengar bahwa qurban kita akan menjadi kendaraan orang yang berkurban saat di akhirat. Apakah benar, Ustadz?” tanya sang jamaah.
Dalam penjelasannya, UAH tidak menampik bahwa memang ada riwayat yang mengisyaratkan bahwa hewan qurban akan memberikan manfaat luar biasa bagi pemiliknya di akhirat.
UAH mengutip satu riwayat yang sering disebut dalam konteks ini, yaitu anjuran untuk memperindah hewan qurban sebagai wujud kesungguhan dalam beribadah.
“Ya, saya pun demikian. Pernah mendengar dan membaca juga referensi-referensi terkait. Khususnya ada riwayat yang disandarkan kepada Nabi SAW dengan kalimat: gemukkanlah, baguskanlah hewan-hewan sembelihan kalian,” ujar UAH.
Menurut penjelasan UAH, dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa hewan qurban yang dipilih dengan kualitas terbaik akan “datang kembali” kepada pemiliknya pada hari kiamat. Bukan secara harfiah menjadi kendaraan seperti kuda atau unta yang ditunggangi, melainkan sebagai pahala besar yang akan membantu meringankan beban saat melewati Shirath, jembatan akhirat yang tajam dan sulit dilalui.
“Semakin bagus hewan qurban yang kita pilih, maka semakin besar pahalanya. Dan pahala inilah yang akan menolong kita saat melewati Shirath,” jelas UAH.
UAH menekankan bahwa pemahaman ini tidak boleh dimaknai secara tekstual. Hewan qurban tidak secara fisik akan menjadi kendaraan, tetapi ibadah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas akan menjadi sebab kemudahan di akhirat.
Jembatan Shirath sendiri dikenal dalam banyak hadis sebagai lintasan yang sangat sempit dan tajam, berada di atas neraka Jahannam, yang harus dilalui oleh seluruh manusia. Orang-orang dengan amal baik akan melintasinya dengan mudah, sedangkan yang amalnya buruk akan tergelincir.
Dalam pesannya, UAH menegaskan pentingnya niat dan kualitas hewan qurban yang dipilih. Menurutnya, umat Islam seharusnya tidak sembarangan memilih hewan qurban, meski mampu membeli yang terbaik.
“Kalau kita mampu, pilihlah hewan yang sehat, besar, dan tidak cacat. Itu menunjukkan keseriusan dan kecintaan kita dalam beribadah kepada Allah,” katanya.
Bahkan dalam aspek sosial, qurban bukan sekadar menyembelih hewan, tapi juga bentuk kepedulian terhadap sesama. Daging qurban yang dibagikan kepada fakir miskin menjadi jalan mempererat ukhuwah dan menambah keberkahan.
Qurban yang dilakukan dengan ikhlas dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW, jelas UAH, akan dibalas dengan kebaikan yang jauh lebih besar. Bahkan dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa darah hewan qurban yang pertama kali menyentuh tanah akan menjadi saksi amal kebaikan bagi pemiliknya.
“Semua amal itu kembali pada niat. Jika qurban diniatkan untuk mencari ridha Allah dan dilakukan sesuai tuntunan, maka insya Allah akan jadi pemberat timbangan kebaikan kita di akhirat,” tegas UAH.
Artikel Asli baca di liputan6.com
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya