src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Bedah Buku “Burakat Banua”, Angkat Kekayaan Budaya dan Pengetahuan Lokal Berau

Bedah Buku “Burakat Banua”, Angkat Kekayaan Budaya dan Pengetahuan Lokal Berau

waktu baca 3 menit
Selasa, 30 Jun 2026 18:09 16 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Berau menggelar bedah buku “Burakat Banua” karya Putri Aida Syafrisni pada Selasa, 30 Juni 2026 di Gedung Dispusip Berau. Kegiatan tersebut menghadirkan moderator Evi Sulistyaningsih, serta narasumber yakni Rohaini dan Agustiah.

Kepala Dispusip Berau, Rabiatul Islamiah, mengatakan Kabupaten Berau memiliki kekayaan budaya dan sejarah yang menjadi identitas daerah. Karena itu, kehadiran buku Burakat Banua menjadi langkah nyata dalam mendokumentasikan sekaligus melestarikan nilai-nilai lokal agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Menurutnya, buku tersebut bukan sekadar kumpulan informasi, tetapi menjadi upaya memaknai kembali sejarah, adat istiadat, budaya, dan jati diri masyarakat Berau yang terbentuk melalui perjalanan panjang.“Melalui bedah buku ini, kami berharap isi buku dapat menjadi referensi dan sumber rujukan, baik bagi pemustaka, peneliti, maupun masyarakat umum yang ingin mengenal dan menggali akar budaya Kabupaten Berau,” ujarnya.

Rabiatul menegaskan, meski pelaksanaan program terdampak efisiensi anggaran, Dispusip Berau tetap berkomitmen menerbitkan buku-buku bermuatan konten lokal sesuai kemampuan anggaran yang tersedia. Langkah tersebut dilakukan agar generasi muda tidak terputus dari akar budayanya, melainkan tumbuh dengan rasa bangga dan mampu mengembangkan budaya daerah secara kreatif.

“Saya memberikan apresiasi kepada penulis dan seluruh panitia yang telah berkontribusi dalam penerbitan serta pelaksanaan bedah buku ini,” ungkapnya.

Penulis Buku Burakat Banua, Putri Aida Syafrisni, mengungkapkan keinginannya menulis buku tersebut berangkat dari kekhawatiran akan hilangnya pengetahuan leluhur yang selama ini diwariskan melalui tradisi lisan.

Menurutnya, masyarakat Berau pada masa lalu memiliki pengetahuan yang sangat kaya, mulai dari kemaritiman, pertanian, pengobatan tradisional, hingga berbagai aspek kehidupan lainnya. Sebagian besar pengetahuan itu ia telusuri dari berbagai naskah kuno.

“Kalau pengetahuan itu hanya dimiliki oleh seseorang, saat orang tersebut meninggal atau lupa, maka ilmunya juga bisa hilang. Salah satu cara mengabadikannya adalah dengan menulis,” katanya.

Putri menegaskan dirinya tidak bermaksud menggurui pembaca. Ia justru mengajak masyarakat menjadikan buku tersebut sebagai ruang berbagi pengetahuan dan membuka diskusi mengenai kekayaan budaya Berau.

Ia menyebut buku Burakat Banua baru menyajikan gambaran umum mengenai kekayaan budaya dan pengetahuan lokal Berau. Ke depan, masih terbuka peluang menghadirkan buku-buku lanjutan yang membahas lebih spesifik, seperti tentang alam Berau, masyarakatnya, hingga khazanah ilmu pengetahuan yang diwariskan para leluhur.

Kata dia, kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari hubungan yang kuat dengan warisan budaya leluhurnya. Karena itu, dokumentasi budaya menjadi langkah penting agar identitas lokal tetap terjaga di tengah arus globalisasi.

“Kita memiliki budaya yang luar biasa, sehingga penting untuk terus mengenalnya, mempelajarinya, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya,” tutupnya. (Riska)

LAINNYA
x