src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Teks: Asmathalita Qindiilulay mendapatkan perawatan di RSUD dr Abdul Rivai, didampingi ibunya. Foto: (Riska/headlinekaltim.co)TUBUHNYA lemas terbaring di atas kasur dengan balutan kain di tangan kanannya. Matanya terpejam tertidur pulas dalam ruangan rawat inap Bougenville Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Abdul Rivai.
Perempuan 18 tahun bernama Asmathalita Qindiilulay tak bisa berbuat banyak hendak ikut nyoblos Pemilu Pilpres dan Pileg 24 Februari 2024.
Sempat berharap adanya Tempat Pemungutan Suara (TPS) Keliling di rumah sakit. Namun, ditunggu dari pagi hingga sore hari tak kunjung muncul. Kekecewaan pun dialami Asmathalita, disapa Thalita, yang jauh hari hendak berpartisipasi nyoblos dalam Pemilu.
“Saya kira masih ada kesempatan untuk menggunakan hak suara saya walaupun sedang dirawat di rumah sakit,” ucapnya masuk rumah sakit setelah alami kecelakaan H-2 Pemilu.
Thalita merupakan satu dari sekitar 200 pasien RSUD dr. Abdul Rivai tidak dapat berpartisipasi saat hari H pencoblosan. Kecewa, hal inilah yang dirasakan oleh para pasien maupun pendamping pasien di rumah sakit tersebut.
Antusias Thalita ikut Pemilu, terlewatkan. Undangan pemungutan suara yang sudah dibawa, tak bisa digunakan karena tak ada TPS Khusus di RSUD dr Abdul Rivai saat hari pencoblosan.
Thalita, di tempat tinggalnya juga dipercaya menjadi salah satu anggota Kelompok penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Dirinya terdaftar sebagai pemilih pemula dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) di tempat pemungutan suara (TPS) 001 Kelurahan Sungai Bedungun.
Sri Lestari, Ibu Thalita menunjukkan dua undangan pemungutan suara dari TPS setempat mengaku sangat benar-benar kecewa karena ia juga tidak bisa menggunakan hak pilihnya pada Pemilu kali ini. Ia merelakan suaranya demi menjaga anaknya yang terbaring di ruang rawat inap. Matanya pun berkaca-kaca.
“Ketua KPPS sempat menjenguk dan memberitahukan bahwa anak saya akan diganti dengan anggota KPPS yang baru. Saya menerima karena anak saya tidak memungkinkan lagi. Tapi yang bikin saya kecewa tidak ada satu pun yang berupa untuk memfasilitasi pencoblosan di rumah sakit. SIM saja ada yang keliling, masa TPS keliling tidak ada,” bebernya.
Pendamping pasien ini sangat kecewa padahal pesta demokrasi digelar lima tahun sekali. Pemungutan suara sudah berakhir, hanya tinggal menunggu hasil perhitungan suara. Mereka berharap agar yang terpilih pada Pemilu 2024 ini dapat amanah dan bertanggungjawab terhadap kepentingan masyarakat.
“Pesan KPU untuk kedepannya, kita sebagai masyarakat kecil juga ingin berpartisipasi, paling tidak ada TPS keliling di rumah sakit. Semoga semua yang terpilih dapat jujur dan adil dalam melaksankan tugasnya, serta masyarakat kecil bisa diperhatikan,” pungkasnya.
Penulis: Riska