src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Waspada Bahaya Sound Horeg: Bisa Rusak Pendengaran Secara Permanen

Waspada Bahaya Sound Horeg: Bisa Rusak Pendengaran Secara Permanen

waktu baca 2 menit
Senin, 4 Agu 2025 12:18 280 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO – Fenomena sound horeg kian marak di sejumlah daerah, terutama di wilayah Jawa Timur. Pawai keliling kampung dengan iringan musik super nyaring ini memang menarik perhatian, tapi di balik gegap gempitanya, tersimpan ancaman serius bagi kesehatan pendengaran.

Sound horeg mengacu pada sistem audio modifikasi berdaya tinggi yang biasanya dipasang di atas kendaraan terbuka. Dengan suara bertenaga besar, musik diputar sepanjang rute arak-arakan hingga menggelegar ke seluruh penjuru kampung. Meski meriah, tak sedikit yang mulai khawatir akan dampak jangka panjangnya terhadap telinga.

Dr. Ashadi Budi, dokter spesialis THT dari RS Pondok Indah Bintaro Jaya, memberikan peringatan tegas soal bahaya paparan suara keras dalam waktu lama.

“Apakah itu berisiko untuk merusak pendengaran? Ya, artinya pendengaran kita itu kalahnya itu dengan suara yang keras dan lama,” kata Ashadi dalam temu media di Jakarta, Selasa (29/7), dikutip dari CNN Indonesia.

Menurutnya, kombinasi antara intensitas suara tinggi dan durasi paparan yang panjang merupakan dua pemicu utama rusaknya sistem pendengaran manusia. Lebih mengkhawatirkan lagi, dalam banyak kasus, kerusakan itu bersifat permanen dan tak bisa kembali seperti semula.

“Semakin keras suara kita dengarkan dan semakin lama, akan berisiko merusak pendengaran. Dan jangan salah, kerusakan pendengarannya bisa permanen,” ujarnya.

Namun, Ashadi juga menegaskan bahwa meski merusak, suara keras seperti dari sound horeg tidak menyebabkan gendang telinga robek.

“Kalau robek [gendang telinga], sih, enggak,” jelasnya.

Gendang telinga atau membran timpani merupakan lapisan tipis yang bertugas menangkap gelombang suara sebelum diteruskan ke bagian dalam telinga. Bila lapisan ini mengalami robekan atau perforasi, bisa muncul gejala seperti:

  • gangguan pendengaran,
  • telinga berdenging (tinnitus),
  • keluarnya cairan,
  • nyeri mendadak,
  • sensasi berputar (vertigo),
  • pusing, hingga
  • mual dan muntah akibat vertigo.

Robeknya membran timpani, menurut Ashadi, umumnya terjadi karena infeksi kronis, trauma langsung, atau barotrauma, yakni cedera akibat perubahan tekanan udara mendadak seperti saat menyelam atau terbang.

“Perforasi membran timpani dapat menyebabkan pasien mengalami penurunan pendengaran, risiko infeksi berulang, hingga gangguan dalam berkomunikasi. Hal-hal tersebut juga akan berpengaruh terhadap penurunan kualitas hidup,” tambahnya.

Di tengah tren sound horeg yang terus meluas, masyarakat diimbau untuk lebih bijak menikmati hiburan audio, dan tetap mengedepankan keselamatan indera pendengaran demi kualitas hidup jangka panjang.

Artikel Asli baca di cnnindonesia.com

 

Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya

LAINNYA
x