src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Warga Masih Buang Sampah di Pinggir Jalan Walaupun Sudah Ada TPS, DLHK Berau: Mindset!

Warga Masih Buang Sampah di Pinggir Jalan Walaupun Sudah Ada TPS, DLHK Berau: Mindset!

waktu baca 3 menit
Jumat, 14 Agu 2026 19:06 37 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Persoalan sampah di Kabupaten Berau tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan tenaga dan armada pengangkutan. Kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan justru menjadi salah satu tantangan yang terus dihadapi Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau.

Kepala DLHK Berau, Zulkifli Azhari, mengatakan kondisi tersebut masih terlihat di sejumlah ruas jalan, termasuk kawasan yang menjadi jalur menuju destinasi wisata. Di Talisayan, misalnya, masyarakat disebut masih membuang sampah di pinggir jalan meski tempat pembuangan sampah telah tersedia. “Sudah ada TPS-nya. Kita belum ada TPA di sana. Cuma masalahnya banyak membuang sampah sembarangan di pinggir jalan,” ungkapnya.

Hal serupa juga ditemukan di kawasan Gunung Tabur hingga Maluang. Bahkan, tempat yang telah disediakan untuk membuang sampah belum sepenuhnya dimanfaatkan masyarakat sebagaimana mestinya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan menambah fasilitas. Perubahan pola pikir masyarakat menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang bersih. “Mindset mereka harus dibangun lagi, bahwa bersih itu indah. Harus dibangun dari awal. Dari pendidikan, dari lingkungan,” tegasnya.

Untuk mengurangi sampah yang langsung dibuang, DLHK Berau mendorong pengembangan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R). Fasilitas tersebut dinilai penting karena memungkinkan sampah dipilah dan diolah sejak dari sumbernya.

Zulkifli mengatakan pembangunan TPS3R membutuhkan kolaborasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), sementara pemerintah kecamatan diharapkan membantu menyiapkan lahan. “TPS3R itu penting. Kita berharap ada alokasi untuk dibuatkan. Kita tetap bekerja, kendala-kendalanya tetap kolaborasi bersama PUPR,” ujarnya.

Ia menyebut sejumlah wilayah mulai diarahkan untuk memiliki fasilitas pengolahan sampah tersebut. Selain Derawan, fasilitas serupa telah dibangun di Tabalar, sementara wilayah Tanjung juga dinilai membutuhkan TPS3R dan masih dalam proses pencarian lahan.

Kepulauan Derawan menjadi salah satu contoh yang disebut Zulkifli dalam pengelolaan sampah. DLHK telah menjalin kerja sama dengan WWF dalam penanganan sampah di wilayah tersebut. Tidak hanya pemilahan, pengolahan sampah juga mulai diarahkan menggunakan teknologi.

Menurutnya, pendekatan tersebut perlu dikembangkan ke wilayah kepulauan lainnya. Dengan begitu, sampah tidak harus selalu dibawa dan menumpuk di tempat pembuangan akhir. “Harapannya itu ada di semua pulau. Jadi sampah itu diolah dari awal, tidak dibuang semua ke TPA,” jelasnya.

Di tengah upaya memperkuat pengelolaan sampah, DLHK juga masih menghadapi keterbatasan tenaga dan sarana mobilitas. Zulkifli menyebut kebutuhan bukan hanya pada jumlah pekerja, tetapi juga kendaraan operasional serta bahan bakar.

Karena itu, ia kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Menurutnya, semakin banyak sampah liar, semakin besar pula sumber daya yang harus dikerahkan untuk membersihkannya. “Kalau mereka membuang sampah sembarangan, otomatis kita bekerja lebih optimal,” ujarnya.

Zulkifli menilai upaya menjaga kebersihan harus menjadi gerakan bersama. Pemerintah menyediakan fasilitas dan layanan, sementara masyarakat memiliki peran penting dengan membuang dan memilah sampah dengan benar.

DLHK juga terus mendorong pemulihan lingkungan melalui reboisasi. Perusahaan, khususnya yang memiliki lahan bekas tambang, diharapkan lebih aktif melakukan penghijauan kembali. “Kita berharap bukan hanya membuka lahan, tapi juga bagaimana mereboisasi kembali,” tutupnya. (Riska)

LAINNYA
x