src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Hutan Kersik Luwai menyimpan potensi besar untuk dijadikan kawasan wisata alam. ( Foto : Dok RRI ) HEADLINEKALTIM.CO, PENAJAM – Di balik gegap gempita pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), ada suara lirih dari wilayah pedalaman Kalimantan Timur yang memanggil perhatian: Hutan Kersik Luwai. Kawasan alami yang terletak di Kabupaten Kutai Barat (Kubar), tepatnya di daerah Hanye, menyimpan keindahan flora endemik langka, anggrek hitam (Coelogyne pandurata), namun kini terabaikan dari sorotan pembangunan dan pelestarian.
Sejumlah warga Hanye, Kukar, mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap kondisi Kersik Luwai yang dinilai luput dari perhatian pemerintah. Padahal, potensi wisata alam yang dimilikinya sangat besar, bukan hanya dari segi ekonomi, tetapi juga konservasi lingkungan yang kian terancam.
“Sayang sekali tempat sebagus ini tidak diperhatikan. Padahal bisa menjadi wisata alam unggulan, apalagi sekarang Kaltim jadi pusat perhatian karena IKN,” ungkap seorang warga setempat yang enggan disebut namanya kepada Headline Kaltim, Minggu (28/4).
Kersik Luwai bukan sekadar hutan biasa. Ia adalah rumah bagi anggrek hitam, salah satu bunga langka yang menjadi simbol flora Kalimantan Timur. Bunga ini tak hanya unik dari segi warna dan bentuknya yang eksotis, tetapi juga memiliki nilai budaya dan ekowisata tinggi. Sayangnya, keberadaannya semakin terdesak oleh eksploitasi lahan dan minimnya kebijakan perlindungan yang efektif.
Warga menilai, perhatian pemerintah terhadap kawasan ini nyaris tak terdengar, meski lokasi tersebut hanya berjarak beberapa jam dari pusat aktivitas pembangunan IKN. Padahal, di saat Kalimantan Timur menjadi sorotan nasional bahkan internasional, Kersik Luwai seharusnya bisa dijadikan wajah lain dari Kaltim—sebuah wajah alami, lestari, dan memikat.
Tidak adanya akses jalan yang memadai, fasilitas wisata yang layak, maupun program promosi yang menyentuh masyarakat luas menjadi deretan masalah yang disebut warga sebagai bentuk “pengabaian struktural”.
“Kami tidak menuntut apa-apa, hanya ingin agar pemerintah turun tangan. Kalau ada jalan dan promosi, banyak yang pasti tertarik datang. Ini bisa jadi sumber penghasilan baru untuk warga sini,” ujar Arman, seorang pemuda lokal yang mengaku sering menjadi pemandu informal bagi wisatawan yang datang dari komunitas pencinta alam.
Artikel Asli baca di rri.co.id
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya di Google News Headline Kaltim