25.1 C
Samarinda
Saturday, July 2, 2022

Sempat Tersungkur karena Corona, Sunny Suvenir Samarinda Bangkit Lagi

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Keberadaan cinderamata atau suvernir dibutuhkan banyak kalangan. Seperti saat menggelar acara, sahibul hajat kerap memberikan para tamu oleh-oleh berupa suvenir.

Begitu juga saat ada acara perpisahan dengan kolega, suvenir pasti hadir sebagai kenang-kenangan.

Kreasi aneka ragam suvenir tentu akan menjadi daya tarik. Ini dapat menjadi peluang bisnis yang mendatangkan pundi-pundi uang.

Ruth Shanti Anissa adalah salah satu anak milenial yang memanfaatkan berbagai jenis barang untuk diolah menjadi suvenir menarik dengan nilai jual tinggi.

Sejak 2016, mahasiswi semester akhir ini menggeluti usaha suvenir yang diberi nama Sunny Suvenir Samarinda.

Ia pun memberanikan diri untuk membuka toko sendiri di Jalan Perjuangan Gang Alam Segar 3, Kelurahan Sempaja, Kota Samarinda, Kaltim.

“Bahan yang saya gunakan untuk suvenir mulai dari boneka, aneka snack seperti coklat, bunga plastik dan jenis uang-uangan,” ucapnya.

Tak butuh modal besar untuk memulai usaha suvenirnya. Shanti bahkan mengaku usahanya berjalan tanpa modal awal. “Tidak ada modal awal, dulunya sistem PO (pre order),” katanya lagi.

Agar lebih menarik, gadis yang pernah menyandang sebagai Duta Wirausaha Unmul 2018 ini terus melakukan inovasi terhadap produknya.

Dari pembuatan, kreativitas penataan hingga bahan yang digunakan, terus ditingkatkan. Namun begitu, harga yang ditawarkan relatif terjangkau, mulai dari Rp150 ribu sampai Rp 200 ribuan.

“Modelnya selalu kekinian. Selain kami sudah menyiapkan suvenir yang ready, kami juga menerima model sesuai keinginan pelanggan,” tuturnya.

Namun, apa daya, pandemi Covid-19 yang menghantam sejak Maret lalu, berimbas pada usaha milik Shanti.

Omzet penjualan anjlok hingga 80 persen. Jika sebelumnya ia bisa mendapatkan sekitar Rp 25 juta sampai Rp 30 juta per bulan. Kini, paling tinggi Rp 10 juta.

“Februari saya sudah stok banyak bahan, paling banyak snack coklat, tiba-tiba Maret pandemi. Kebijakan pemerintah melakukan lockdown, melarang banyak acara, sedangkan target saya acara-acara, akhirnya semua snack kedaluwarsa. Kerugian saya waktu itu sekitar Rp 5 jutaan,” terang gadis berusia 24 tahun ini.

Sempat terpuruk akibat pandemi Covid-19 tak membuat perempuan muda ini patah arang. Ia mencoba bangkit kembali dengan mengubah strategi penjualan.

“Saya manfaatkan medsos untuk promosi dan penjualan. Alhamdulillah sudah dua bulan penjualan mulai naik lagi. Sekarang saya bisa dapat sampai Rp 20 juta perbulan, apalagi kalau ada acara-acara,” tandasnya.

Penulis : Ningsih

Komentar
- Advertisement -

LIHAT JUGA

- Advertisement -

TERBARU