src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Run for Orangutan 2026. (Foto: Ist) HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Di tengah ancaman nyata terhadap deforestrasi hutan tropis, langkah-langkah kecil kerap menjadi awal perubahan besar. Pagi itu, Minggu 26 April 2026, ratusan orang berkumpul di Lapangan Kantor Bupati Berau. Bukan sekadar untuk berolahraga, melainkan membawa satu pesan penting yakni menyelamatkan orangutan dari ambang kepunahan.
Bertajuk Run for Orangutan 2026, kegiatan ini diinisiasi oleh Centre for Orangutan Protection (COP) bersama komunitas Rundusta sebagai bentuk kampanye kreatif yang menggabungkan olahraga dan kepedulian lingkungan. Tidak hanya digelar secara langsung di Berau, gerakan ini juga merambah lintas wilayah melalui konsep virtual run yang berlangsung sejak 12 hingga 23 April 2026.
Sebanyak 526 peserta ambil bagian dalam gerakan bertema “Save Orangutan Through Running”. Mereka berlari atau berjalan sejauh 5 kilometer, serentak dari berbagai penjuru mulai dari Sumatra Barat, DKI Jakarta, hingga Papua. Bahkan, gaung kepedulian ini melampaui batas negara, menjangkau pelari dari Singapura, Norwegia, hingga Belanda.
Langkah kaki yang berderap itu bukan sekadar ritme olahraga, tetapi simbol perlawanan terhadap ancaman yang dihadapi salah satu satwa paling ikonik di Indonesia: orangutan. Sebagai spesies endemik Kalimantan dan Sumatra, orangutan kini menyandang status critically endangered atau terancam punah.
Di balik status tersebut, tersimpan peran vital yang kerap luput dari perhatian. Orangutan dikenal sebagai umbrella species, spesies payung yang keberadaannya melindungi berbagai makhluk hidup lain dalam satu ekosistem. Jika mereka hilang, dampaknya bukan hanya pada satwa lain, tetapi juga pada keseimbangan hutan dan kehidupan manusia.
“Apabila orangutan hilang atau punah, maka akan terjadi kerusakan ekosistem hutan secara luas, dan tentu akan mempengaruhi keberlangsungan hidup manusia di masa mendatang,” ujar I. Widi Nursanti, Site Manager Pusat Rehabilitasi Orangutan COP.
Melalui kegiatan ini, COP berupaya mengemas pesan konservasi dalam cara yang lebih dekat dengan masyarakat. Lari, yang selama ini identik dengan gaya hidup sehat, dikemas menjadi medium kampanye yang menggugah kesadaran publik.
Tak hanya itu, Run for Orangutan juga membuka ruang partisipasi nyata melalui donasi. Setiap langkah yang diayunkan peserta menjadi kontribusi langsung dalam mendukung upaya penyelamatan dan rehabilitasi orangutan serta pelestarian habitatnya.
Di garis finis, yang tertinggal bukan sekadar peluh atau catatan waktu. Lebih dari itu, ada harapan yang terus bergerak bahwa dengan langkah kecil yang dilakukan bersama, masa depan orangutan masih bisa diselamatkan. (Riska)