src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Mantan Bupati Kukar, Rita Widyasari.(Sumber : Andri/Headlinekaltim)
HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Momen kepulangan Rita Widyasari kembali ke Kukar disambut antusias keluarga, sahabat, dan warga. Mantan Bupati Kutai Kartanegara itu tiba di Kalimantan Timur dan mendapat sambutan sejak dari Bandara Samarinda sebelum melanjutkan perjalanan menuju Tenggarong, Jumat (12/6/2026).
Rombongan kendaraan yang mengiringi kepulangan Rita sempat berhenti di Bundaran Tuah Himba, Timbau, sebelum melanjutkan perjalanan menuju kediamannya di Jalan Melati. Setibanya di rumah, ratusan warga telah menanti untuk menyambut mantan orang nomor satu di Kukar tersebut.
Bagi Rita, momen Rita Widyasari kembali ke Kukar memiliki arti tersendiri. Setelah sembilan tahun tidak berada di daerah kelahirannya karena menjalani proses hukum atas perkara yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ia mengaku bersyukur dapat kembali berkumpul dengan keluarga dan masyarakat.
“Saya sangat bersyukur, sudah bisa kembali ke Kukar, karena saya lahir dan besar disini,” ujarnya.
Mengenakan busana putih dan kerudung hitam, Rita mengungkapkan agenda pertama yang ingin dilakukannya setelah kembali ke Kukar adalah berziarah ke makam ayahnya, almarhum Syaukani HR, serta sejumlah anggota keluarga lainnya.
Ia mengaku selama menjalani masa hukuman tidak mengetahui perkembangan kabar keluarga di kampung halaman. “Bahkan tadi saya baru tahu, Awang Ilham atau Om Ameng, mantan Sekwan sudah meninggal dunia juga,” katanya.
Selain keluarga, kenangan lain yang masih melekat di benaknya adalah kuliner khas Tenggarong. Rita mengaku memiliki kenangan tersendiri dengan Bakso GLG yang sudah dikenalnya sejak masa sekolah.
“Waktu ditahan, saya juga minta didatangkan bakso GLG, dan makan bersama penghuni lapas lainnya,“ ujarnya.
Dalam pertemuan bersama warga, mantan Ketua DPRD Kukar tersebut juga menyinggung perkara hukum yang pernah menjeratnya. Ia menyebut kasus tersebut sebagai bagian dari dinamika politik dan mengaku telah berupaya melakukan pembelaan selama persidangan.
“Saya tidak terima uang dari pengusaha-pengusaha, Khoirudin didakwakan dan ditahan. Kenapa, Junaidi yang juga mantan anggota tim 11 tidak ditahan, kenapa saya yang ditahan, ini terkesan tidak adil,” tegasnya.
Rita mengatakan dirinya merasa memiliki banyak musuh yang berseberangan secara politik. Meski demikian, setelah Rita Widyasari kembali ke Kukar, ia mengaku belum memiliki keinginan untuk kembali aktif dalam dunia politik.
Sebaliknya, ia ingin lebih banyak meluangkan waktu untuk bersilaturahmi dengan masyarakat dan memperdalam ibadah. “Tokoh politik mau silaturahmi silahkan saja, tapi saya mau fokus silaturahmi Sultan Kukar, ke rakyat dan beribadah,” ujarnya.
Rita juga tidak menampik adanya perkara lain yang masih dalam proses penanganan. Ia mengaku telah dimintai keterangan awal oleh penyidik KPK dan siap mengikuti seluruh proses hukum yang berlaku.
Menurutnya, apabila diperlukan pemeriksaan lebih lanjut, ia berharap proses tersebut dapat dilakukan di Kalimantan Timur sebagaimana pemeriksaan sebelumnya.
Di sisi lain, setelah Rita Widyasari kembali ke Kukar, ia mulai aktif menggunakan media sosial untuk menyapa masyarakat sekaligus menyampaikan pandangannya terkait berbagai persoalan yang dihadapinya.
Mantan Bupati Kukar dua periode itu juga mengaku terkejut melihat perkembangan Tenggarong yang dinilainya jauh lebih maju dibandingkan saat terakhir kali meninggalkan daerah tersebut.
“Pembongkaran Tanjung itu zaman saya jadi Bupati, ternyata sudah jadi Taman Tanjong yang megah,” tutupnya.(Andri)