src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Ramai Diberitakan Tanggulnya Penyebab Banjir, PT RUB Justru Mengaku Korban

Ramai Diberitakan Tanggulnya Penyebab Banjir, PT RUB Justru Mengaku Korban

waktu baca 4 menit
Sabtu, 22 Mei 2021 17:29 748 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – PT Rantaupanjang Utama Bhakti (RUB) jadi perbincangan hangat di berbagai media sosial dan pemberitaan media massa usai jebolnya tanggul milik perusahaan tambang tersebut. Tanggul disebut sebabkan banjir besar di Kabupaten Berau.

Dalam konferensi pers dengan awak media yang digelar pada Sabtu 22 Mei 2021, Kepala Teknik Tambang (KTT) PT RUB, Jimmy Mart menegaskan, bukan tanggul yang menyebabkan banjir. Melainkan banjir yang menyebabkan tanggul tersebut jebol akibat tidak mampu menahan debit air Sungai Kelay yang terus meningkat.

Jadi, terang dia, banyaknya informasi yang beredar bahwa banjir yang menimpa belasan kampung di 4 kecamatan terjadi akibat jebolnya tanggul tambang di pit PT RUB adalah tidak benar.

Mengenai video yang beredar banyak alat berat terendam banjir akibat jebolnya tanggul, Jimmy menyebut, kejadian itu bukan di Berau melainkan di daerah lain.

“Yang ingin kami tegaskan informasi yang mengatakan banjir terjadi yang disebabkan jebolnya tanggul di PT RUB itu keliru. Dan video yang beredar yang memperlihatkan banyak alat berat terendam banjir juga tidak benar dan bukan terjadi di PT RUB,” jelasnya.

Jimmy menambahkan, saat jebolnya tanggul pada Minggu 16 Mei 2021 lalu, tidak ada korban jiwa maupun alat berat yang terjebak di dalam banjir. Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, manajemen perusahaan telah membentuk tim gabungan antara PT RUB dan PT PPA untuk melakukan observasi agar tidak ada karyawan yang bekerja di areal banjir.

“Saat ini kita hanya melakukan recovery untuk mengamankan areal yang berbahaya. Kita juga sudah memastikan bahwa alat yang digunakan penambangan diparkir di tempat aman,” ucapnya.

Pihaknya juga melakukan koordinasi dengan instansi terkait, khususnya Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK). PT RUB juga membantu perbaikan fasilitas umum yang terdampak banjir di sekitar areal tambang.

Ia menjelaskan, hujan dengan intensitas cukup tinggi di hulu Sungai Kelay dan Sungai Segah pada Kamis 13 Mei 2021 lalu, membuat debit air meningkat dan mengakibatkan 14 kampung di empat kecamatan terendam banjir.

Akibatnya, tanggul di sekitar pit tambang yang dikerjakan kontraktor PT RUB, yakni PT Putra Perkasa Abadi (PPA) turut jebol lantaran tidak mampu menahan tekanan banjir.

“Jadi bukan air dalam tambang yang keluar ke sungai, melainkan air sungai yang ke dalam tambang. BPBD juga mengkategorikan kejadian yang menimpa PT RUB merupakan bencana alam,” jelasnya.

Mengenai pembuangan air sungai yang masuk areal tambang, Jimmy mengaku tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Butuh proses yang cukup panjang dengan pengawasan ketat.

Menurutnya ada beberapa cara yang dilakukan agar air yang dikeluarkan sudah memenuhi baku mutu lingkungan. Seperti melakukan kajian teknis kandungan air di pit tambang serta kajian ekonomi.

“Kajian itu juga akan disampaikan kepada kepala inspektur tambang dan DLHK Berau. Jika masih bernilai ekonomis akan dilakukan pemompaan dengan catatan baku mutu air terpenuhi,” ujarnya.

Kepala DLHK Berau Sujadi menuturkan, musibah banjir yang terjadi beberapa hari lalu merupakan banjir terbesar dalam 10 tahun terakhir. Sejauh ini PT RUB sudah melakukan antisipasi-antisipasi terkait hal itu.

Bahkan, tanggul juga sudah diperbesar dan dipertebal untuk memperkokoh. Namun, karena tingginya banjir membuat tanggul tetap jebol.

Saat ini, pihaknya sudah selesai melakukan uji sampel air baik yang ada di sekitar tanggul maupun di sungai yang ada di wilayah hulu dan hilir PT RUB.

“Berdasarkan hasil analisa kami, kandungan air di Sungai Kelay dan Segah masih aman. Dan pemeriksaan kandungan air itu akan diperiksa secara berkala. Adapun gatal-gatal yang diderita sejumlah warga yang terdampak banjir bukan karena PT RUB,” terangnya.

Kendati demikian, DLHK juga meminta kepada PT RUB dan mitra kerjanya agar tanggul tersebut segera ditutup untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

Sujadi juga mengatakan, dengan kejadian itu dapat menjadi perhatian bagi perusahaan-perusahaan tambang lainnya untuk terus memperhatikan potensi bencana alam yang kemungkinan terjadi. “Jadi benar-benar harus diantisipasi,” katanya.

Kepala Pelaksana BPBD Berau, Thamrin juga menyampaikan, awal mula banjir dikarenakan curah hujan yang tinggi di Segah dan Kelay yang membuat 14 desa yang terendam banjir. “Jadi ini murni karena bencana alam. Intinya banjir lebih dulu terjadi kemudian membanjiri kampung dan areal tambang hingga menjebol tanggul,” tutupnya.

Penulis: Sofi
Editor: MH Amal

 

Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya di Google News Headline Kaltim

LAINNYA
x