src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan Berau, Budiono. (Foto: Riska/headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Budidaya udang windu di Kabupaten Berau terus menunjukkan tren positif seiring penerapan metode tambak ramah lingkungan berbasis mangrove melalui program Tambak SECURE. Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas tambak sekaligus menjaga kelestarian ekosistem pesisir.
Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan Berau, Budiono, mengatakan saat ini produktivitas tambak udang windu yang mendapat pendampingan melalui program Tambak SECURE terus mengalami peningkatan. Program tersebut didukung oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dengan mengoptimalkan tambak-tambak yang sudah ada tanpa membuka lahan baru.
“Perkembangannya menunjukkan kecenderungan meningkat karena ada pendampingan dari YKAN melalui Tambak SECURE. Yang kita lakukan adalah mengoptimalkan lahan tambak yang sudah ada dengan menerapkan sistem silvofishery,” jelasnya.
Menurutnya, sistem silvofishery mengintegrasikan kawasan mangrove di dalam tambak sehingga tercipta ekosistem yang mendukung pertumbuhan udang secara alami. Mangrove menghasilkan unsur hara yang memicu perkembangan fitoplankton, zooplankton, hingga biota kecil lain yang menjadi sumber pakan alami udang.
Dengan metode tersebut, udang windu dapat dibudidayakan tanpa ketergantungan pada pakan buatan sehingga menghasilkan produk organik yang memiliki nilai jual lebih tinggi. “Output-nya adalah udang organik tanpa pakan tambahan. Makanan udang diperoleh secara alami dari ekosistem mangrove yang tetap terjaga,” ucapnya.
Saat ini, budidaya tambak ramah lingkungan telah diterapkan di lima kampung, yakni Pegat Batumbuk, Kasai, Tabalar Muara, Suaran, dan Semanting. Sementara pendampingan intensif melalui program Tambak SECURE telah dilakukan di tiga kawasan sentra, yaitu Pegat Batumbuk, Suaran, dan Tabalar Muara.
Ke depan, Dinas Perikanan Berau berencana mereplikasi model tersebut ke tambak-tambak tradisional lainnya agar semakin banyak pembudidaya yang menerapkan sistem budidaya berkelanjutan. “Kita tinggal mereplikasi model pengelolaan ini ke tambak-tambak konvensional sehingga produktivitas meningkat tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan,” ungkapnya.
Selain meningkatkan produksi, Budiono menyebut komoditas udang windu Berau hingga kini masih berorientasi ekspor. Hasil panen dari para pembudidaya umumnya dikumpulkan di Tanjung Redeb sebelum dikirim ke Tarakan sebagai pintu distribusi menuju pasar internasional. “Udang dengan ukuran besar, seperti size 40, 20 hingga 15, umumnya untuk pasar ekspor. Sedangkan ukuran yang lebih kecil dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan dalam daerah,” ungkapnya.
Berdasarkan data tahun 2025, produksi udang windu Berau mencapai sekitar 1.200 ton per tahun. Sementara target produksi budidaya tambak secara keseluruhan yang ditetapkan pemerintah provinsi mencapai sekitar 2.300 ton, mencakup komoditas udang windu, bandeng, dan kepiting.
Budiono optimistis target tersebut dapat tercapai seiring meningkatnya produktivitas tambak melalui penerapan sistem budidaya yang lebih ramah lingkungan. “Pengembangan tambak harus tetap berbasis pelestarian mangrove,” pungkasnya. (Riska)