src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Perjuangan Kartini dari Masa ke Masa, Antara Kesetaraan dan Kekerasan

Perjuangan Kartini dari Masa ke Masa, Antara Kesetaraan dan Kekerasan

3 minutes reading
Tuesday, 21 Apr 2026 12:58 1 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO – Raden Ajeng Kartini menjadi sorotan utama dalam refleksi perjuangan perempuan Indonesia yang hingga kini masih menghadapi berbagai tantangan serius. Dilansir dari RRI, sosok Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan yang lahir di Jepara, Jawa Tengah, pada 21 April 1879. Meski hidup dalam tradisi pingitan, Kartini tetap aktif menyalurkan gagasannya melalui surat kepada sahabat di Belanda, khususnya terkait pentingnya pendidikan bagi perempuan pribumi di tengah ketimpangan sosial masa kolonial.

Pemikirannya kemudian dihimpun dan menjadi inspirasi besar bagi gerakan kesetaraan perempuan di Indonesia. Kartini wafat pada usia 25 tahun, namun warisan pemikirannya tetap hidup dan diperingati setiap 21 April sebagai Hari Kartini.

Peringatan Hari Kartini tahun ini turut diwarnai pandangan dari Selvi Gibran Rakabuming yang menegaskan bahwa kemajuan perempuan saat ini tidak terlepas dari perjuangan Kartini di masa lalu. Ia menyebut perempuan Indonesia kini telah mampu menempati berbagai posisi strategis di berbagai bidang.

“Jadi banyak sekali wanita-wanita, perempuan-perempuan Indonesia sekarang sudah bisa berada di posisi-posisi yang sangat luar biasa. Mungkin kita-kita juga bisa seperti ini berkat apa yang sudah diperjuangkan Kartini dari zaman dulu,” ujar Selvi.

Menurutnya, nilai perjuangan Kartini harus terus digaungkan, khususnya kepada generasi muda, agar tidak tergerus perkembangan zaman. Ia juga menekankan bahwa peringatan Hari Kartini tidak boleh hanya bersifat simbolik, tetapi harus mendorong kesadaran nyata terkait perlindungan perempuan.

Selvi juga menyoroti masih tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan, seperti KDRT, pelecehan seksual, hingga pernikahan anak. Ia menilai isu tersebut masih menjadi pekerjaan rumah besar yang perlu ditangani secara serius.

“Mungkin pada saat itu, tidak ada orang yang mempunyai gagasan seperti itu. Tapi, Kartini mempunyai gagasan untuk setarakan hak antara laki-laki dan perempuan, dan itu bisa kita rasakan sampai sekarang,” katanya.

Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi menegaskan komitmen pemerintah dalam mendorong kesetaraan gender melalui kebijakan yang selaras dengan Asta Cita Presiden.

“Pemerintah telah menetapkan dalam Asta Cita Presiden, khususnya poin keempat. Yaitu, penguatan sumber daya manusia, sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kemudian kesetaraan gender dan penguatan peran perempuan,” ujarnya.

Pemerintah juga menetapkan April sebagai Bulan Pemberdayaan Perempuan dengan fokus pada pendidikan sebagai fondasi utama peningkatan peran perempuan dalam pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.

Di sisi lain, laporan Komnas Perempuan menunjukkan angka kekerasan berbasis gender masih tinggi. Sepanjang 2025 tercatat 376.529 kasus, meningkat lebih dari 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi yang tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Komisioner Komnas Perempuan, Sundari Waris menyebut peningkatan tersebut juga mencerminkan keberanian korban untuk melapor serta semakin luasnya sistem pendokumentasian kasus.

“Tahun 2025 menjadi puncak tertinggi dalam periode 10 tahun. Peningkatan ini mencerminkan bertambahnya keberanian korban untuk melapor dan meluasnya sistem pendokumentasian,” ujarnya.

Selain itu, Ketua Komnas Perempuan Maria Ulfah Anshor menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan masih menjadi persoalan sistemik yang terjadi di ranah personal, publik, hingga negara.

“Data yang terhimpun menunjukkan bahwa rumah dan relasi intim masih menjadi ruang yang paling rentan bagi perempuan. Pada saat yang sama, pelaporan kekerasan seksual dan kekerasan berbasis gender online terus meningkat,” ucapnya.

Meski demikian, data Badan Pusat Statistik menunjukkan adanya perbaikan dalam Indeks Ketimpangan Gender Indonesia yang turun menjadi 0,421 pada 2024. Hal ini menunjukkan adanya kemajuan, meski tantangan di lapangan masih cukup besar.

Pemerintah pun mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat pemberdayaan perempuan secara berkelanjutan, termasuk melalui berbagai kegiatan edukatif selama April, seperti lomba menulis, bedah buku, hingga kampanye literasi bertema Kartini.

Semangat perjuangan Kartini diharapkan tidak hanya menjadi peringatan tahunan, tetapi juga terus diwujudkan dalam kebijakan dan aksi nyata demi menciptakan kesetaraan gender dan perlindungan perempuan di Indonesia.

banner pemkab berau baru
LAINNYA
x