src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kantor PLN UP3 Berau. (Foto: Riska/headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Di tengah keresahan masyarakat akibat pemadaman listrik yang berlangsung sejak Minggu, 25 Oktober 2026, pemulihan pasokan listrik di Kabupaten Berau masih menghadapi dua persoalan utama, yakni kekurangan daya dan kerusakan jaringan transmisi. Dengan kebutuhan listrik mencapai 50 megawatt (MW), pasokan yang tersedia saat ini hanya sekitar 37 MW atau mengalami defisit 13 MW. Kondisi tersebut membuat PLN harus mengatur distribusi listrik di tengah keterbatasan pasokan. Situasi kian sulit setelah sebuah tower transmisi pada jalur Talisayan–Maloy dilaporkan roboh akibat kondisi alam, sehingga mengganggu salah satu jalur penting penyaluran listrik menuju Berau.
Manajer PLN UP3 Berau, Erwinton Naibaho, menjelaskan, gangguan kelistrikan tersebut dipengaruhi persoalan pada sistem interkoneksi Mahakam dan Barito, termasuk kendala pembangkit yang berdampak pada ketersediaan daya untuk Berau. Di saat bersamaan, kerusakan infrastruktur transmisi turut memengaruhi proses penyaluran listrik. Akibatnya, pasokan yang tersedia belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pelanggan.
“Pasokan yang masuk ke Berau sedang terbatas, sementara kebutuhan masyarakat tetap harus dipenuhi. Kami mengatur distribusi yang tersedia sambil mengupayakan penanganan gangguan agar kondisi kelistrikan segera membaik,” jelas Erwinton.
Ia menyebutkan, pembangkit lokal seperti PLTD Sambaliung dan PLTU Teluk masih beroperasi. Namun, kapasitas keduanya belum cukup untuk menutup kekurangan daya yang mencapai 13 MW saat beban puncak. Upaya pemulihan tidak hanya bergantung pada pembangkit yang masih beroperasi, tetapi juga pada penanganan gangguan jaringan transmisi yang menjadi bagian penting dari sistem penyaluran listrik ke Berau.
Terkait robohnya tower transmisi di jalur Talisayan–Maloy, Erwinton mengatakan tim teknis terus melakukan penanganan di lapangan. Meski demikian, ia mengakui belum dapat memastikan waktu pemulihan secara pasti. “Prioritas kami saat ini mempercepat pekerjaan teknis dan memulihkan pasokan secepat mungkin. Waktu penyelesaiannya masih bergantung pada proses penanganan di lapangan,” ujarnya.
Erwinton juga mengungkapkan bahwa dalam skenario terburuk, proses penanganan dapat berlangsung hingga tujuh hari atau lebih. Meski begitu, PLN tetap berupaya agar gangguan dapat diselesaikan lebih cepat. Di tengah upaya pemulihan tersebut, PLN ULP Tanjung Redeb turut mengumumkan penghentian pasokan listrik sementara secara terbatas pada Selasa, 27 Oktober 2026, pukul 08.00–12.00 WITA, menyusul gangguan jaringan transmisi tegangan tinggi 150 kV.
Wilayah yang masuk dalam pengumuman meliputi Tumbit, Meraang, Tumbit Dayak, Tumbit Sari, Long Lanuk, sejumlah ruas jalan di Tanjung Redeb, serta Maluang, Paribau, Birang, Makasang, Samburakat, dan sekitarnya. PLN menyatakan terus mengerahkan sumber daya untuk mempercepat pemulihan dan meminimalkan dampak gangguan terhadap pelanggan. Jadwal penghentian sementara tersebut juga dapat berubah menyesuaikan perkembangan kondisi kelistrikan. Masyarakat diimbau menggunakan listrik secara bijak, terutama pada pukul 18.00–21.00 WITA, dengan mematikan peralatan yang tidak digunakan dan mengoptimalkan penggunaan perangkat hemat energi. (Riska)