src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Ilustrasi Al-Qur’an Credit: pexels.com/TayebHEADLINEKALTIM.CO – Keutamaan Ratib al-Haddad menjadi salah satu alasan amalan zikir ini rutin dibaca oleh umat Islam di berbagai majelis taklim dan lingkungan pesantren. Rangkaian zikir dan doa tersebut berisi ayat-ayat Al-Qur’an, selawat, istigfar, serta bacaan yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dilansir dari Liputan6.com, pembahasan mengenai keutamaan Ratib al-Haddad dapat ditemukan dalam sejumlah kitab ulama, di antaranya Al-Imdad bi Syarhi Ratib al-Haddad karya Syekh Abu Bakar bin Ahmad al-Maliabar dan Dzakhirah al-Ma’ad bi Syarhi Ratib al-Haddad karya Syekh Abdullah bin Ahmad Basudan al-Kindi.
Ratib al-Haddad disusun oleh Al-Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad, seorang ulama asal Hadramaut, pada 27 Ramadhan 1071 Hijriah. Amalan ini kemudian dikenal luas sebagai salah satu rangkaian zikir yang diamalkan untuk memohon perlindungan, keberkahan, serta pertolongan Allah SWT.
Dalam tradisi keilmuan Islam, berbagai manfaat Ratib al-Haddad dijelaskan melalui kitab-kitab syarah yang menguraikan kandungan bacaan dan nilai spiritualnya. Meski demikian, pengamalannya perlu dilandasi niat beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, bukan semata-mata mengejar keuntungan duniawi.
Sejumlah ulama yang membahas Ratib al-Haddad menyebutkan berbagai faedah dari mengamalkan zikir tersebut secara istiqamah. Manfaat yang dijelaskan mencakup permohonan perlindungan, keberkahan rezeki, ketenangan batin, hingga harapan memperoleh akhir kehidupan yang baik.
Berikut tujuh keutamaan Ratib al-Haddad sebagaimana diuraikan dalam sumber.
Salah satu faedah Ratib al-Haddad yang disebutkan dalam tradisi ulama adalah memohon perlindungan Allah SWT dari berbagai bahaya. Bacaan di dalamnya mencakup doa perlindungan dari keburukan makhluk serta permohonan agar terhindar dari hal-hal yang membahayakan.
Di antara bacaan tersebut adalah A‘ūdzu bikalimātillāhit tāmmāti min syarri mā khalaq dan Bismillāhil ladzī lā yaḍurru ma‘asmihī syai’un. Kedua bacaan itu dikenal dalam tradisi zikir dan doa perlindungan yang merujuk pada hadis.
Dalam kitab-kitab yang membahas Ratib al-Haddad, terdapat pula penjelasan mengenai perlindungan dari bencana, pencurian, sihir, serta gangguan makhluk berbahaya. Keterangan tersebut merupakan bagian dari faedah yang disebutkan dalam literatur keagamaan, sedangkan perlindungan dan hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah SWT.
Keutamaan Ratib al-Haddad lainnya adalah memohon keberkahan rezeki dan kebaikan dalam kehidupan. Amalan ini tidak hanya dikaitkan dengan harapan memperoleh kecukupan materi, tetapi juga keberkahan yang membawa manfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan.
Dalam kitab Al-Imdad bi Syarhi Ratib al-Haddad, Syekh Abu Bakar bin Ahmad al-Maliabar menjelaskan faedah Ratib al-Haddad yang berkaitan dengan rezeki dan keberkahan.
Makna keberkahan tidak semata-mata diukur dari banyaknya harta yang dimiliki. Rezeki yang membawa kebaikan, memberikan manfaat, dan digunakan untuk hal-hal yang diridai Allah juga menjadi bagian penting dari pemahaman tersebut.
Karena itu, membaca Ratib al-Haddad sebaiknya disertai ikhtiar yang baik, doa, dan sikap syukur atas rezeki yang diterima. Zikir menjadi bagian dari ibadah, bukan jaminan otomatis bahwa seseorang akan memperoleh kekayaan dalam jumlah tertentu.
Husnul khatimah atau akhir kehidupan yang baik merupakan harapan setiap Muslim. Dalam sejumlah literatur yang membahas Ratib al-Haddad, amalan ini dikaitkan dengan doa agar seseorang memperoleh akhir kehidupan dalam keadaan beriman kepada Allah SWT.
Kitab Wirdul Imam Al ‘Allamatud Dunya menyebutkan pandangan sebagian ulama salaf mengenai faedah Ratib al-Haddad, termasuk harapan memperoleh umur yang panjang dan husnul khatimah.
Salah satu bacaan yang terdapat dalam ratib adalah Yā dzal jalāli wal ikrām, amitnā ‘alā dīnil islām. Bacaan tersebut mengandung permohonan kepada Allah agar diwafatkan dalam keadaan memegang agama Islam.
Bagi pengamalnya, doa tersebut menjadi pengingat untuk senantiasa memperbaiki ibadah dan menjaga keimanan selama menjalani kehidupan. Husnul khatimah sendiri merupakan karunia Allah yang diharapkan melalui doa, ketaatan, dan amal saleh.
Keutamaan Ratib al-Haddad juga berkaitan dengan upaya menenangkan hati melalui zikir dan doa. Ketika seseorang membiasakan diri mengingat Allah, ia diharapkan dapat menjalani kehidupan dengan lebih sabar dan memiliki pegangan spiritual saat menghadapi berbagai persoalan.
Landasan yang sering dikaitkan dengan keutamaan zikir ini terdapat dalam Al-Qur’an, Surah Ar-Ra’d ayat 28:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.”
Habib Alwi bin Ahmad, dalam pembahasan mengenai Ratib al-Haddad, turut mengutip pandangan Imam al-Ghazali tentang tingkatan zikir. Zikir tidak hanya dilakukan melalui lisan, tetapi juga dapat melibatkan hati hingga seseorang benar-benar menyadari kehadiran dan kebesaran Allah dalam kehidupannya.
Dengan demikian, membaca Ratib al-Haddad bukan sekadar melafalkan rangkaian bacaan. Pengamal juga dianjurkan memahami maknanya dan menjadikan zikir sebagai sarana memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.
Ratib al-Haddad memuat bacaan istigfar dan doa taubat yang mengajak umat Islam memohon ampunan atas kesalahan yang telah dilakukan.
Salah satu bacaan yang disebutkan dalam rangkaian tersebut adalah Rabbanaghfir lanā wa tub ‘alainā. Bacaan ini mencerminkan permohonan agar Allah mengampuni dosa dan menerima taubat hamba-Nya.
Syekh Abu Bakar bin Ahmad al-Maliabar dalam kitab Al-Imdad menjelaskan faedah Ratib al-Haddad yang berkaitan dengan ampunan Allah. Sementara itu, ajaran Al-Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam Risalah Adab Sulukil Murid menekankan pentingnya membersihkan hati dari sifat-sifat tercela.
Sifat seperti dengki, kesombongan, dan riya dapat merusak kualitas ibadah seseorang. Oleh karena itu, zikir perlu disertai kesungguhan untuk memperbaiki perilaku, bertobat, serta menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.
Dalam tradisi pengamalannya, Ratib al-Haddad juga dibaca sebagai bagian dari doa untuk memohon pertolongan Allah SWT dalam menghadapi persoalan kehidupan.
Rangkaian bacaan yang berisi pujian kepada Allah dan selawat kepada Nabi Muhammad SAW menjadi bagian dari upaya seorang Muslim mendekatkan diri kepada Allah sebelum menyampaikan permohonan.
Materi sumber juga menyebutkan kajian di IAIN Ponorogo yang mencatat penggunaan Ratib al-Haddad untuk memohon terkabulnya hajat serta perlindungan dari gangguan jin.
Namun, pengamalan zikir tidak berarti setiap permintaan akan terwujud sesuai keinginan atau waktu yang ditentukan manusia. Doa merupakan bentuk penghambaan, sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah SWT.
Karena itu, membaca Ratib al-Haddad dapat menjadi bagian dari ikhtiar spiritual yang disertai usaha nyata, kesabaran, dan tawakal dalam menjalani kehidupan.
Keutamaan Ratib al-Haddad berikutnya berkaitan dengan upaya menumbuhkan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Rangkaian zikir yang dibaca secara konsisten diharapkan membantu seseorang memperkuat keimanan sekaligus memperbaiki hubungan spiritualnya.
Dalam perspektif tasawuf, zikir yang dilakukan secara istiqamah dapat menjadi jalan untuk menumbuhkan mahabbah, yaitu kecintaan kepada Allah, serta ma’rifah, yakni pengenalan yang lebih mendalam kepada-Nya.
Kecintaan tersebut tidak hanya tercermin dalam ucapan, tetapi juga melalui perilaku sehari-hari. Seorang Muslim diharapkan semakin terdorong untuk berbuat baik, menjaga akhlak, serta menjauhi tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama.
Dengan demikian, nilai Ratib al-Haddad tidak berhenti pada rutinitas membaca zikir, tetapi juga diharapkan terlihat dalam perubahan sikap dan kualitas ibadah pengamalnya.
Makna Bacaan Ratib al-Haddad dalam Kehidupan Sehari-hari
Rangkaian Ratib al-Haddad memiliki kandungan spiritual yang saling berkaitan. Ayat Kursi, misalnya, menegaskan kebesaran dan keesaan Allah SWT. Sementara itu, dua ayat terakhir Surah Al-Baqarah memuat nilai keimanan, kepasrahan, serta permohonan ampunan.
Kalimat tauhid Lā ilāha illallāh yang dibaca berulang kali menjadi inti penghambaan seorang Muslim. Kalimat tersebut menegaskan bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan menjadi tempat bergantung.
Syekh Abdullah bin Ahmad Basudan al-Kindi dalam Dzakhirah al-Ma’ad bi Syarhi Ratib al-Haddad menjelaskan hakikat ratib sebagai:
“kumpulan dzikir, doa dan tawajjuh yang dihimpun untuk dzikir, mengingat, meminta perlindungan dari keburukan, meminta kebaikan, memohon terbukanya kemakrifatan dan hasilnya pengetahuan yang dibarengi dengan fokusnya hati dan pikiran kepada Allah ta’ala.”
Penjelasan tersebut memperlihatkan bahwa zikir melibatkan lisan, hati, dan pikiran. Pengamalannya diharapkan tidak hanya menjadi kebiasaan membaca, tetapi juga mendorong kesadaran untuk senantiasa mengingat Allah.
Selawat yang terdapat dalam Ratib al-Haddad juga mengandung doa dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui bacaan tersebut, umat Islam memohon keberkahan serta pertolongan Allah dengan tetap menempatkan-Nya sebagai satu-satunya tempat bergantung.
Waktu yang Dianjurkan untuk Membaca Ratib al-Haddad
Agar pengamalannya dapat dilakukan secara teratur, terdapat sejumlah waktu dan adab yang dijelaskan dalam literatur mengenai Ratib al-Haddad.
Memahami Keutamaan Ratib al-Haddad dengan Niat yang Benar
Memahami keutamaan Ratib al-Haddad dapat membantu umat Islam menempatkan zikir secara tepat dalam kehidupan beragama. Amalan ini pada dasarnya merupakan bentuk ibadah untuk mengingat Allah, memohon ampunan, serta meminta perlindungan dan pertolongan-Nya.
Berbagai faedah yang dijelaskan dalam kitab-kitab ulama sebaiknya menjadi motivasi untuk meningkatkan kualitas ibadah, bukan dipahami sebagai jaminan memperoleh hasil duniawi tertentu.
Istiqamah dalam berzikir juga dapat menjadi sarana membangun kedisiplinan spiritual. Seseorang tidak hanya membaca ratib ketika menghadapi kesulitan, tetapi menjadikannya bagian dari kebiasaan mendekatkan diri kepada Allah dalam keadaan lapang maupun sempit.
Pada akhirnya, pengamalan Ratib al-Haddad perlu diiringi ikhtiar, sikap tawakal, serta usaha memperbaiki akhlak. Permohonan mengenai rezeki, kesehatan, keselamatan, dan kemudahan urusan dapat berjalan berdampingan dengan harapan memperoleh ampunan, keridaan Allah SWT, dan husnul khatimah.
Dengan niat yang lurus dan pengamalan yang konsisten, Ratib al-Haddad diharapkan menjadi bagian dari perjalanan seorang Muslim dalam memperkuat keimanan serta membangun kedekatan dengan Allah SWT.