src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Direktur RSUD IA Moeis Samarinda dr Syarifah Rahimah saat menjadi narasumber di acara dialog kesehatan kemarin (Ningsih) HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Kasus penularan COVID-19 di Kaltim belum menunjukkan tanda-tanda melandai. Bahkan, dalam beberapa waktu belakangan, banyak pasien COVID-19 yang melakukan isolasi mandiri (Isoman) di Kota Samarinda justru meregang nyawa.
Apa yang menyebabkan banyaknya pasien Isoman COVID-19 meninggal dunia sebelum sempat mendapat pertolongan medis?
Direktur RSUD IA Moeis Samarinda dr Syarifah Rahimah menduga banyak pasien terpapar virus varian baru COVID-19. Selain lebih menular, ganasnya virus varian baru itu menyebabkan pasien datang ke rumah sakit dengan gejala berat. Termasuk yang menjalani Isoman, kondisi pasien terus memburuk dan meninggal.
Di Indonesia, kata dia, sudah ada virus mutasi tergolong Variant of Concern (VoC) atau perlu diwaspadai sesuai pernyataan organisasi kesehatan dunia (WHO).
“Tidak hanya terjadi di sini tapi semuanya. Memang sudah ada Variant of Concern (VoC) di Indonesia. Sehingga kasusnya melejit. Di tingkat global juga meningkat. Angka kematian juga terjadi di dunia dan merata. Virus ini terdiri dari single untaian sehingga dia mempunyai kemampuan bermutasi,” ucapnya dialog kesehatan yang dilakukan melalui virtual, Sabtu kemarin.
Diterangkannya, COVID-19 merupakan virus influenza. Di dunia, kasus serupa juga pernah terjadi saat maraknya kasus Flu Spanyol yang tidak memerlukan waktu lama menjadi pandemi dan menyebabkan korban jiwa dalam jumlah banyak.
Syarifah menyebut, mutasi virus COVID-19 yang jauh lebih ganas dapat merusak organ tubuh lebih cepat. “Tingkat keganasan dan potensi penularan lebih besar dibanding varian sebelumnya. Kemampuannya merusak organ tubuh lebih cepat. Sehingga bisa saja terjadi pada pasien yang Isoman,” bebernya.
Menurut dia, para penyintas COVID-19 atau yang sudah melakukan vaksinasi sedikit lebih beruntung. Sebab, mereka telah memiliki kekebalan. Namun, dia mengingatkan tetap ada kemungkinan terinfeksi kembali meskipun gejalanya lebih ringan.
“Secara klinis keluhannya lebih ringan. Tapi tetap, lakukan 5M dan penanganan virus ini dilakukan dari sisi hulu dan hilirnya,” pesannya.
MERATA SELURUH DAERAH
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi menyatakan varian delta virus corona telah menyebar hampir merata di seluruh daerah di Indonesia berdasarkan hasil penelitian spesimen.
“Varian Delta mendominasi 86 persen spesimen yang dilakukan sequencing dalam 60 hari terakhir, berasal dari 24 provinsi, sehingga dapat dikatakan persebaran ini hampir merata di seluruh Indonesia,” kata Nadia dikutip KOMPAS.COM dari Antara, Minggu 1 Agustus 2021
Nadia mengatakan jejaring laboratorium genomic sequencing atau metode pengurutan genom untuk memetakan mutasi virus di bawah komando Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) terus berupaya menelusuri pola persebaran varian virus corona di Indonesia.
Sejak awal Januari hingga 28 Juli, kata Nadia, Indonesia telah melaporkan 3.651 hasil pengurutan genom ke dalam database global. Tercatat di dalamnya, tiga dari empat varian virus corona yang harus diwaspadai, yaitu varian alfa, beta, dan delta.
Menurut Nadia, laporan tersebut patut menjadi perhatian bersama, mengingat potensi penularan varian baru virus corona di Indonesia masih sangat tinggi. Untuk menekan penyebaran Covid-19, kata Nadia, pemerintah melakukan penguatan testing dan tracing terutama di pemukiman padat penduduk.
Mekanisme tracing atau pelacakan juga menggunakan sistem perangkat lunak Silacak untuk memudahkan dalam mengetahui kontak erat pasien. Penduduk yang mengalami kontak erat akan diarahkan untuk dikarantina.
Nadia menuturkan, pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan volume testing dari sekitar 300.000 menjadi 500.000 per hari.
“Kita juga lakukan percepatan vaksin untuk menaikkan imunitas tubuh. Vaksinasi juga mengurangi risiko tertular, menderita sakit berat, bahkan risiko kematian dari pasien terjangkit Covid-19,” ujarnya.
Nadia mengatakan tren penambahan kasus masih tinggi dengan rata-rata 40.000 kasus per hari dan tidak ada wilayah yang steril dari Covid-19. Sementara potensi penularan varian delta sangat tinggi dan menjadi salah satu faktor meningkatnya angka kematian.
Penulis: Ningsih
Editor: MH Amal