src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kades Perjiwa, Erik Nur Wahyudi melihat lokasi danau eks tambang batu bara yang akan dikembangkan sebagai lokasi wisata. (foto: istimewa)HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Pandemi COVID-19 memorak-porandakan perekonomian di tingkat desa. Salah satu yang merasakan keganasan pandemi adalah Desa Perjiwa Kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara. Pendapatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) anjlok ke titik nadir.
Usaha yang digarap meliputi usaha salon rias pernikahan, sewa tenda serta perikanan keramba tak lagi mendatangkan keuntungan. Sebagian usaha berhenti sementara. Sebelum pandemi melanda tanah air, pembagian keuntungan yang diterima Pemdes Perjiwa sebesar Rp 3 juta per bulannya.
“Sekarang kami sudah tidak terima sama sekali pendapatan dari BUMDes Perjiwa, ” keluh Kades Perjiwa, Erik Nur Wahyudi, Senin 7 Juni 2021.
Tak mau pasrah dengan keadaan, Pemdes Perjiwa kini melirik sektor pariwisata dari eks danau tambang batu bara. Lokasinya masih masuk wilayah Desa Perjiwa.
“Ini kita akan coba pengembangan pariwisata di lahan eks tambang, kami intens berkoordinasi ke Dinas Periwisata Kukar,” paparnya.
Sebelumnya, pihak desa sudah menjajal pengembangan usaha rekreasi air terjun. Namun, lokasinya masih milik pribadi warga sehingga tak bisa dikelola sepenuhnya oleh BUMDes.
“Jika pemilik lokasi air terjun mau dikelola BUMDes, bisa saja dikelola dengan perjanjian berbagi keuntungan,” ujarnya.
Plt Camat Tenggarong Seberang Sugiarto meminta kepada desa-desa untuk kreatif menggali sumber PADes. Ini penting untuk menyikapi penurunan pendapatan Kukar dari DBH Migas yang berimbas pada besaran dana desa.
“Jika PADes meningkat, semakin enak Pemdes menjalankan kegiatan pembangunan, ” ungkapnya.
Penulis: Andri
Editor: MH Amal