src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Wali Kota Samarinda Andi Harun. (erick)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Sejak sepekan terakhir, warga Kota Samarinda dipusingkan dengan sulitnya mendapatkan gas elpiji 3 kilogram yang kerap disebut gas melon di pasaran. Kalaupun ada, harganya pun melambung.
Aswar, pemilik pangkalan gas elpiji di Palaran mengatakan, kekosongan elpiji sudah terjadi lebih dari seminggu terakhir.
“Biasanya rutin datang, tapi ini sudah beberapa hari nggak ada, memang kosong dari sananya, ” katanya.
Nunuk, seorang IRT mengaku juga kesulitan mendapatkan gas elpiji 3 kilo. Padahal, kata dia, setiap hari kegiatan memasak selalu dilakukan dengan elpiji bersubsidi tersebut.
“Sudah cari kemana-mana nggak ada gas, di warung kosong. Kalau ada itu harganya sampai Rp 35 ribu. Tapi kalau memang ada biar harganya mahal ya tetap dibeli, nah yang sekarang ini harganya mahal tapi nggak ada tabungnya. Susah mau masak bagaimana, ” katanya.
Setiyani, pedagang gorengan mengaku terkendala dengan sulitnya mendapatkan gas elpiji 3 kilogram.
“Setiap hari saya goreng, usahanya kan gorengan. Cari gas susah, jadinya pengaruh juga ke usaha. Mau dinaikkan harga karena kebetulan harga gas yang didapat sudah naik, ya nggak mungkin juga, jadi untungnya tipis sekali, ” katanya.
Menanggapi keluhan masyarakat, Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan, kelangkaan gas elpiji bersubsidi bukan hanya terjadi di Kota Samarinda saja, melainkan seluruh Indonesia.
Menurut dia, Pemkot Samarinda sudah berkomunikasi dengan pihak Pertamina untuk dapat segera mengatasi persoalan tersebut untuk mencegah terjadinya inflasi.
“Ini tidak terjadi di Samarinda saja, tapi seluruh Indonesia. Di tingkat pusat juga dibicarakan dan Senin kemarin kita juga sudah sampaikan ke pusat. Di daerah sendiri kita sudah lakukan komunikasi intensif dengan Pertamina agar masalah ini segera diatasi karena bisa mempengaruhi inflasi, ” katanya.
Dia memastikan, dalam minggu-minggu ini tidak akan ada lagi persoalan kelangkaan gas elpiji 3 kilogram di masyarakat.
“Insyaallah dalam seminggu ini bisa diatasi pemerintah, ” tegasnya.
Andi Harun sendiri membantah adanya pihak-pihak yang sengaja menimbun gas elpiji.
“Tidak ada yang menimbun, ini masalah nasional dan banyak variabel. Bisa jadi karena transportasi dan sebagainya, ” sebutnya
Andi Harun mengatakan, pihaknya tidak punya wewenang untuk mengatur distribusi gas elpiji karena itu wilayah Pertamina.
“Mereka punya peraturan sendiri, kita hanya bisa imbau. Dan kalau kuota, kita juga tidak ada pengurangan. Tapi memang karena Samarinda ini Ibukota Provinsi, kita tidak bisa menghalangi orang luar Samarinda untuk beli, karena ini kota terbuka, ” katanya.
Kepada pihak Hiswana Migas, Andi Harun berharap dapat membantu untuk segera mengatasi kelangkaan gas elpiji di Samarinda agar tidak berdampak luas pada perekonomian masyarakat.
“Kita imbau Hiswana Migas untuk membantu bagaimana mengatasi ini, karena ini berdampak pada masyarakat dan lancarnya perekonomian masyarakat, terutama untuk kegiatan ekonomi menengah ke bawah, ” pungkasnya. (Ningsih/#)