src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kepala Disdukcapil Samarinda Abdullah. (Ningsih) HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Samarinda telah melakukan perekaman data kependudukan pemilih pemula untuk pelaksanaan Pemiu 2024 sebanyak lebih dari 5.000 orang, selama periode September hingga Januari 2022.
“Sampai saat ini saya sudah memprogramkan sejak September 2022 kemarin jemput bola ke sekolah-sekolah, ” ujar Kepala Disdukcapil Samarinda Abdullah pada Headlinekaltim.co.
“Perekaman dilakukan pada usia 16 tahun yang nanti di 2023 ini sudah berusia 17 tahun. Bahkan sampai 2024 juga sudah di data sebagai pemilih. Kita lakukan perekaman sekitar 5.000 hampir 6.000 di sekolah SMA, SMK, pondok pesantren,” sambungnya.
Dikatakannya, hingga tahun 2023 ini, Disdukcapil Samarinda menarget akan melakukan perekaman data kependudukan pemilih pemula hingga 30.000 orang.
“Estimasi target sampai 2023 harus kami rekam sekitar 25.000 sampai 30.000 pemilih pemula, ” sebutnya.
Untuk mencapai target tersebut, lanjut Abdullah, sejak Januari 2023 ini pihaknya telah berkoordinasi dengan sekolah-sekolah tingkat SLTA yang ada di Samarinda untuk melakukan perekaman data kependudukan pemilih pemula.
“Mulai Januari ini sudah kita lanjutkan lagi programnya sampai dengan akhir Desember 2023 untuk melakukan perekaman jemput bola ke sekolah-sekolah. Karena Desember 2022 lalu kan mereka libur, ” terangnya.
Selain itu, kata Abdullah, Disdukcapil Samarinda juga membuka layanan perekaman data kependudukan mulai hari Senin hingga Sabtu, setiap jam kerja.
“Kita layanan jalan terus, Senin sampai Sabtu dalam rangka data pemilih pemula di 2023 nanti yang akan dilakukan di 2024 pada pemilihan serentak, ” ujarnya.
Disinggung mengenai data warga yang meninggal dunia, Abdullah menjelaskan bahwa hingga saat ini dari data yang ada di Disdukcapil Samarinda persentasenya sekitar 30 hingga 40 persen. Namun, diakuinya, banyak warga yang juga tidak melakukan pelaporan ketika ada keluarganya yang meninggal dunia.
“Sementara yang kita bisa deteksi adalah orang yang mengurus Akta Kematian, tapi mungkin kita persentasikan antara 30 sampai 40 persen saja, karena banyak yang tidak lapor, ” ungkapnya.
“Kami juga sudah programkan untuk kerja sama dengan kelurahan agar mereka melakukan pendataan dan menginformasikan berapa jumlah kematian yang ada di wilayahnya masing-masing melalui RT sehingga setelah datanya terkoneksi dengan kami, maka akan kelihatan jumlah kematian. Kami juga meminta RT untuk aktif melaporkan sebagai pendataan untuk buku meninggal, ” imbuhnya.
Penulis : Ningsih