src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Surya Darma saat mempersembahkan buku karyanya yang menggunakan bahasa Berau, berjudul “Karattas Kummu” pada event literasi. (Foto: Ist)Melestarikan bahasa bukan hanya melalui tutur kata atau komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Namun, juga melalui goresan tinta dalam keindahan untaian kata dalam sebuah buku. Kata- kata indah menjadi gambaran betapa pentingnya melestarikan bahasa melalui sastra. Surya Darma menjadi panutan tentang pentingnya pelestarian ini. Pria kelahiran Sambaliung, 6 Juni 1976. Sosok yang telah mempublikasikan 18 buku perpaduan 3 bahasa, yakni: Bahasa Indonesia, Bahasa Berau, dan Bahasa Inggris.
Sosok guru yang “Digugu Lan Ditiru,” patut dipercaya, dan dicontoh sebagai penuntun alur bagi karakter pelajat terbaru, adalah representasi yang selaras dengan profil pribadi Surya Darma.
Di masa arus globalisasi, Surya Darma seorang guru bahasa Inggris di SMAN 4 Berau yang menjadi kiblat inspirasi yang selalu lantang menjaga warisan bahasa daerahnya.
Dia dikenal sebagai sosok yang mendorong pelestarian tiga bahasa: bahasa Berau, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris, yang ia sebut sebagai “tiga pilar identitas dan jembatan dunia.” Bagi Surya, bahasa adalah jati diri bangsa. “If we lose a language, we lose part of ourselves,” ujarnya ketika ditemui di aula ketika menyaksikan acara pembukaan bulan bahasa 2025 di SMAN 4 Berau, yang juga mengambil tema pelestarian budaya, bahasa, dan sastra (LENGKARA).

Cerita anak karya Surya Darma yang menggunakan bahasa Berau, dengan judul “Susuran Bua Kalumbun” (2024). (Foto: Ist)
Ia menekankan bahwa pelestarian bahasa sangat diperlukan terutama bahasa daerah yakni bahasa Berau, bahasa persatuan bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Di era globalisasi, dan maraknya penyebaran budaya asing, kebanyakan siswa salah persepsi dan menganggap bahwa menguasai bahasa Inggris tidak diperlukan karena merupakan bahasa asing, serta menguasainya adalah sesuatu yang sulit.
“Saya justru melihat penguasaan bahasa asing seperti Inggris adalah sebuah keniscayaan dan pelengkap yang vital, bukan ancaman bagi identitas kebahasaan kita,” katanya,,” jelasnya saat diwawancarai tentang pentingnya penguasaan bahasa Inggris bagi generasi muda.
Menurut dia, penguasaan bahasa Inggris membuka jendela peradaban global bagi siswa, memampukan mereka mengakses khazanah ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya dunia secara mandiri, yang pada akhirnya akan memperkaya wawasan dan kapasitas mereka untuk berkontribusi tidak hanya di kancah internasional tetapi juga dalam melestarikan dan memajukan budaya lokal dengan perspektif yang lebih luas dan alat- alat yang lebih mutakhir.
Dirinya percaya bahwa melalui sastra seperti buku bukan hanya menuliskan tentang cerita, alur, tokoh dan suasana, tetapi tentang bagaimana bahasa tersebut digunakan dan membuat buku tersebut memiliki keindahan, kekhasan, dan keunikan. Buku bisa membangun pemikiran, memengaruhi perasaan, dan juga bisa menjadi gambaran dari suatu budaya.
Buku tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi untuk memberikan informasi, tetapi merupakan objek seni. “Karena itu, bahasa dan isi yang terdapat di dalam buku, harus kita hargai dan resapi lebih dalam agar kita dapat menikmati segala sesuatu yang terkandung di dalamnya,” ucapnya.
Penulis ini menggunakan tiga bahasa dalam bukunya sebagai bentuk ekspresi jiwa. Ia menuliskannya dengan penuh ketenangan dan kedamaian untuk terus memelihara keindahan bahasa. Surya memiliki 18 koleksi buku dengan perpaduan tiga bahasa, baik dalam wujud novel, cerpen, maupun cerita anak.
Baginya, setiap kata dalam bahasa Berau menyimpan filosofi hidup, hubungan dengan alam, dan nilai-nilai kebersamaan yang tidak tergantikan, sehingga upaya pelestariannya harus dimulai dari rasa bangga, kesadaran bahwa bahasa ini adalah harta karun warisan nenek moyang, dan komitmen praktis untuk menggunakannya dalam percakapan sehari-hari, merangkul sastra lisan seperti pantun dan cerita rakyat, serta memanfaatkan teknologi digital untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan bahasa ini agar tidak punah ditelan zaman.
Dengan semangatnya yang tak pernah padam, Surya terus menjadi motivasi, dan pembaharu dalam jagat literasi. Mari dukung, dan ikuti jejak Surya Darma dalam melestarikan tiga bahasa (Indonesia, Berau, dan Inggris) lewat sastra, dan jadilah agen perubahan posisif, dan berkontribusi pada pelestarian dan keberlanjutan, sekaligus menumbuhkan kecintaan membaca dan menulis.
Penulis: Bernadetha Sula, Siswa Kelas XI IPS 2 SMAN 4 Berau, Kaltim.