src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Kenali Ciri-Ciri Bayi Tidak Cocok Susu Formula dan Cara Mengatasinya

Kenali Ciri-Ciri Bayi Tidak Cocok Susu Formula dan Cara Mengatasinya

3 minutes reading
Wednesday, 20 May 2026 12:13 4 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO – Ciri-ciri bayi tidak cocok susu formula penting dikenali sejak dini agar tidak mengganggu kesehatan dan tumbuh kembang anak. Kondisi ini dapat dipicu oleh alergi susu sapi maupun intoleransi laktosa yang menimbulkan gejala seperti diare, muntah, ruam kulit, hingga gangguan pernapasan pada bayi.

Dilansir dari Alodokter, tidak semua susu formula cocok dikonsumsi setiap bayi. Pada beberapa kasus, susu formula justru memicu gangguan kesehatan karena bayi mengalami alergi terhadap protein susu sapi atau intoleransi laktosa.

Alergi susu formula terjadi akibat respons sistem imun tubuh bayi terhadap kandungan protein dalam susu. Sementara intoleransi laktosa muncul karena tubuh bayi tidak mampu mencerna laktosa, yaitu gula alami yang terdapat dalam susu sapi.

Meski penyebabnya berbeda, kedua kondisi tersebut sering menimbulkan gejala yang hampir serupa sehingga kerap membingungkan orang tua.

Pada bayi yang mengalami alergi susu formula, gejala yang muncul dapat berupa gangguan pencernaan seperti sakit perut, muntah, kolik, diare, konstipasi, hingga buang air besar berdarah.

Selain itu, bayi juga bisa mengalami ruam merah dan gatal pada kulit, pembengkakan di area bibir dan wajah, eksim yang tidak membaik, hingga gangguan pernapasan seperti mengi, batuk, mata berair, dan sesak napas.

Dalam kondisi tertentu, alergi susu formula bahkan dapat memicu reaksi anafilaksis yang membutuhkan penanganan medis segera.

Sementara itu, intoleransi laktosa pada bayi biasanya ditandai dengan diare, muntah, kram perut, perut kembung, tinja encer bercampur darah, bayi mudah rewel, hingga mengalami penurunan nafsu makan.

Gejala-gejala tersebut umumnya muncul dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah bayi mengonsumsi susu formula.

Untuk mengatasi intoleransi laktosa, orang tua disarankan membatasi makanan atau produk yang mengandung laktosa, termasuk beberapa jenis sereal, biskuit, maupun makanan olahan berbahan susu.

Orang tua juga dianjurkan memeriksa label makanan sebelum membeli produk untuk memastikan tidak terdapat kandungan susu hewani atau laktosa.

Selain itu, bayi dapat diberikan susu rendah laktosa atau bebas laktosa sesuai kebutuhan. Asupan nutrisi tambahan seperti sayuran hijau, brokoli, tahu, salmon, dan buah jeruk juga dapat membantu memenuhi kebutuhan kalsium anak.

Sementara pada kasus alergi susu sapi, orang tua dianjurkan segera berkonsultasi ke dokter guna memastikan penyebab keluhan yang dialami bayi.

Dokter nantinya akan menentukan tingkat keparahan alergi dan merekomendasikan jenis susu formula yang sesuai dengan kondisi anak.

Untuk alergi ringan hingga sedang, dokter biasanya menyarankan penggunaan extensively hydrolyzed formula (EHF), yaitu susu dengan protein yang telah dipecah menjadi bagian lebih kecil sehingga lebih mudah diserap tubuh.

Sedangkan pada alergi susu sapi berat, dokter dapat merekomendasikan amino acid-based formula (AAF) yang memiliki kandungan protein dalam bentuk paling sederhana dan lebih rendah risiko memicu alergi.

Dalam kondisi tertentu, susu formula berbasis kedelai juga bisa menjadi alternatif, terutama jika ketersediaan EHF atau AAF terbatas. Namun penggunaannya tetap perlu melalui saran dokter.

Orang tua juga diingatkan agar tidak mengganti susu formula secara mandiri tanpa pemeriksaan medis karena dapat menyulitkan proses identifikasi penyebab alergi pada bayi.

LAINNYA
x