src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Seleksi peserta program Indonesia-Korea Agry Youth Leadership Program(IKAYLP) tahun 2026.(Sumber : Yeni Yuniarni)
HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Mahasiswa semester 6 Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) bernama Yeni Yuniarni akan belajar pertanian modern di Korea Selatan (Korsel). Dia mengikuti program Indonesia-Korea Agry Youth Leadership Program atau IKAYLP tahun 2026.
Yeni bercerita, awal dia mengetahui program ini dari temannya di Fakultas Hukum yang membagikan pengumuman program IKAYLP melalui media sosial. Dia penasaran dan ingin mencoba sesuatu yang baru.
”Sempat ragu juga, tapi tidak ada salahnya mencoba, bagus juga tambah pengetahuan dan pengalaman kalau lolos,” jelas, Yeni, Rabu 18 Februari 2026.
Tahap seleksi pertama meliputi persyaratan administrasi pada Desember 2025. Setelah lolos seleksi administrasi, lanjut ke seleksi tahap dua yakni membuat pos perencanaan program pada Januari 2026. Akhirnya, dia lulus juga seleksi kedua.
Yeni bersaing dengan 200 lebih peserta se-Indonesia dan mewakili Kaltim. Rencananya, mahasiswa ini akan berangkat pada bulan Maret 2026. Di Jakarta selama tiga hari, sebelum dirinya berangkat bersama 18 orang dari 11 provinsi untuk keberangkatan tahap pertama.
”Tiga hari di Jakarta untuk belajar bahasa Korea, selanjutnya di Korsel selama tiga bulan,” ungkapnya.
Dirinya bersemangat ingin belajar bertani di Korsel karena dirinya juga senang bertani. Pernah sukses bertanam cabe, terong dan tomat. Disinggung apa saja yang dipelajari di Korsel, anak Loa Kulu dari ayah yang berprofesi sebagai Satpam ini akan lebih banyak ke lapangan. ”Lebih banyak ke lapangan bersama petani yang ada di Provinsi Chung Nam,” jelasnya.
Aktivitas Yeni diisi bukan hanya kuliah saja. Dirinya juga sambil bekerja di gerai makanan Kebab Kota Raja Tenggarong sebagai koki dan kasir. ”Mau tidak mau, saya harus berhenti dari kerjaan,” ujarnya.
Dia berharap setelah mendapatkan ilmu pertanian di Korsel, pengalaman dan ilmu yang didapat bisa diterapkan di Kukar. Dia melihat banyak potensi yang belum digarap secara maksimal. ”Banyak lahan eks pertambangan atau lahan produktif yang belum digarap maksimal untuk pertanian,” pungkasnya.(Andri)