src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Lukisan Karya 22 Penyandang Disabilitas Hadir di Atara Studio, Pameran Seni Inklusi Bertajuk "Merayakan Kita" 

Lukisan Karya 22 Penyandang Disabilitas Hadir di Atara Studio, Pameran Seni Inklusi Bertajuk “Merayakan Kita” 

4 minutes reading
Sunday, 12 Oct 2025 14:36 526 huldi amal

Cahaya lampu menyorot dengan hangat. Menyelimuti dinding ruangan Atara Studio yang memajang dengan rapi karya lukis dari 22 anak istimewa atau penyandang disabilitas. Setiap goresan di atas kanvas seolah membawa cerita masing-masing.

Adalah Komunitas Literasi Gerobooks Berau menggagas workshop lukis selama tanggal 8-10 Oktober 2025 di Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI. Lalu, lukisan dipamerkan selama satu minggu mulai 11-18 Oktober 2025 di Atara Studio, Jalan Al-Bina, Gg. Masyhuda 2. Bertajuk Pameran Seni Inklusi ‘Merayakan Kita’. Harga tiket masuk pameran ini dibandrol Rp10.000/visit, .

Peserta kegiatan ini sebanyak 22 anak istimewa dari SLB Tanjung Redeb, SMAN 2 Berau, SMKN 1 Berau, dan SMKN 2 Berau. Komunitas ini berupaya menciptakan ruang seni yang setara, humanis, dan memberdayakan. Selain itu, juga untuk menumbuhkan empati, kepedulian, dan cinta terhadap sesama.

Penggerak Komunitas Gerobooks Berau, Risna Herjayanti mengungkapkan, ‘Merayakan Kita’ hadir dari kegelisahan akan minimnya ruang berkarya bagi anak berkebutuhan khusus dan disabilitas di Kabupaten Berau. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi panggung ekspresi tetapi juga ruang dialog dan empati antara masyarakat umum dan penyandang disabilitas. “Hari Senin akan ada diskusi publik,” ucapnya, Minggu 10 Oktober 2025.

Risna mengatakan, sebelum merangkai kegiatan Merayakan Kita, pihaknya membuat proposal kegiatan dan mengajukannya ke Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) VIX Kaltim Kaltara. Gerobooks Berau melakukan persiapan sekitar tiga bulan, dari bulan Agustus hingga Oktober.

“Prosesnya lumayan lama untuk menunggu pengumuman proposal itu sampai diketahui bahwa Gerobooks Berau lolos. Kemudian kami mulai persiapkan alat seperti kanvas, cat dan lain-lain hingga sampai hari ini bisa kita nikmati karya-karyanya,” jelasnya.

Melalui Merayakan Kita, pihaknya ingin menyelami kembali kesetaraan dan berharap seni agar dapat dinikmati olah semua kalangan, termasuk kalangan berkebutuhan khusus. Ajang ini menjadi wadah untuk berkumpul dan mengapresiasi  anak-anak istimewa yang mempunyai potensi besar dan luar biasa.

“Peserta paling muda berusia 7 tahun. Kegiatan ini merupakan suatu wadah yang unik karena menjadi jembatan atau pertemuan kita dengan teman yang berkebutuhan khusus,” tuturnya.

Dia merasa senang karena antusiasme peserta luar biasa. Merayakan kita menjadi salah satu cara untuk menunjukkan ke pemerintah bahwa dari komunitas saja bisa membuat kegiatan seperti ini. “Harapan ke depan, pemerintah melirik kegiatan seperti ini untuk melanjutkan atau berkolaborasi dengan komunitas Gerobooks Berau,” ungkapnya.

Komunitas ini berupaya untuk membuat agenda-agenda rutin dengan format yang berbeda dan lebih menarik. Kemudian, tetap bermitra dan berkolaborasi dengan SLB dan sekolah inklusi yang ada di Kabupaten Berau.
“Makanya kita sempat mengadakan belajar bahasa isyarat bareng. Itu salah satu cara kita agar pelan-pelan bisa masuk ke dunia anak-anak istimewa ini,” bebernya.

Kurator sekaligus pengajar lukis pada kegiatan Merayakan Kita, Dwi Marda Nosesa menuturkan, awalnya workshop lukis ini dilaksanakan selama tiga hari. Namun, ternyata anak-anak menyelesaikan karyanya lebih cepat. “Jadi dua hari karya-karya mereka sudah selesai dan bisa dipamerkan. Mereka semua punya bakat sehingga kegiatan ini berjalan dengan lancar,” ungkapnya.

Anak-anak yang dipilih dari sekolah adalah mereka yang memiliki kemampuan dasar menggambar. Jadi, dirinya tidak begitu sulit untuk memberikan arahan. Kebanyakan peserta Merayakan Kita adalah tunarungu. Saat workshop lukis berlangsung, juga ada yang membantu untuk memperagakan dan menerjemahkan bahasa isyaratnya.

“Karena keterbatasan saya tidak bisa berbahasa isyarat, jadi dibantu sama penerjemah. Sehingga semua berjalan dengan lancar,” ucapnya.

Menurutnya, hasil karya yang dipamerkan di luar ekspektasi. Awalnya ada beberapa karya yang belum layak pajang. Namun, selama dua hari pertemuan workshop lukis tersebut, semua karya 100 persen selesai, layak dipajang dan dinikmati pengunjung pameran.

“Saya sangat bangga sekali kepada peserta yang sudah mengikuti rangkaian kegiatan Merayakan Kita dari awal sampai puncak. Mereka bermain tetapi serius dalam menggarap karyanya,” tuturnya.

Dalam karyanya, anak-anak istimewa ini banyak menceritakan tentang hal-hal yang digemari, perasaan mereka, dan ada juga yang mengangkat tentang kearifan lokal. “Mereka ceritakan kembali dan semua itu dituangkan ke karya seni lukis,” ungkapnya.

Seniman Berau Arifuddin menyambut baik Pameran Seni Inklusi Merayakan Kita di Atara Studio. Ia turut hadir dan menyaksikan langsung karya-karya lukis tersebut. Menurutnya, ini merupakan suatu acara yang luar biasa dan bagus sekali. “Kalau di daerah Jawa sudah ada yang bisa go international dari disabilitas,” tuturnya.

Arifuddin berharap di Kabupaten Berau juga bisa seperti itu. Semua karya-karya yang dipamerkan bagus dan tidak kalah dengan yang di luar daerah. Beberapa peserta ada yang mengangkat tentang kearifan lokal di Berau, Kalimantan Timur. “Ini luar biasa, saya sendiri merasa kagum dan salut,” ungkapnya.

Dirinya berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut. “Saya harap ada perhatian dari pihak terkait itu bisa melanjutkan hal seperti ini dan kita siap jadi pembinanya,” pungkasnya. (Riska)

 

Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya

banner pemkab berau baru
LAINNYA
x