src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Longsor di TPU Cempaka Suryanata, 35 Jenazah Dievakuasi: Proses Terkendala Kehadiran Ahli Waris

Longsor di TPU Cempaka Suryanata, 35 Jenazah Dievakuasi: Proses Terkendala Kehadiran Ahli Waris

waktu baca 3 menit
Selasa, 3 Jun 2025 12:06 242 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Suasana duka dan keprihatinan menyelimuti kawasan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cempaka Suryanata, Kecamatan Samarinda Utara. Sejak terjadinya longsor akibat curah hujan tinggi beberapa hari lalu, sebanyak 35 jenazah telah berhasil dievakuasi, namun puluhan lainnya masih tertimbun atau belum bisa dipindahkan karena menunggu kehadiran ahli waris makam.

Peristiwa ini menjadi tragedi kemanusiaan yang mengundang empati luas dari masyarakat Samarinda. Makam-makam yang dulunya tertata rapi, kini berubah menjadi lahan rusak dan terbelah, sebagian jenazah bahkan terlihat terangkat ke permukaan akibat longsor hebat.

“Kami bersama petugas dan relawan melakukan evakuasi untuk memindahkan jenazah ke lokasi yang aman, karena banyak makam yang sudah bergeser dari lokasi sebelumnya,” ujar Teguh Setia Wardana, Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Samarinda, Senin (2/6/2025).

Bencana ini terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah Samarinda secara terus-menerus dalam beberapa hari terakhir. Tanah di kawasan perbukitan TPU Cempaka Suryanata tak mampu menahan beban, hingga menyebabkan longsoran yang merobohkan puluhan makam.

Dalam peninjauan langsung di lokasi, terlihat tumpukan tanah bercampur batu dan puing-puing nisan berserakan. Beberapa kain kafan masih terlihat membungkus sisa jenazah yang telah terangkat ke permukaan.

Proses evakuasi dimulai sejak Jumat, 30 Mei 2025, melibatkan berbagai unsur seperti BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pemadam Kebakaran, serta relawan masyarakat. Namun, evakuasi tidak dapat dilakukan sembarangan.

“Dalam pemindahan ini, kita melibatkan ahli waris. Selain kita tidak tahu siapa pemilik makam tersebut, kita juga meminta persetujuannya,” jelas Teguh.

Meski pekerjaan dilakukan dengan bantuan alat berat, petugas tetap berupaya mengedepankan aspek kehormatan kepada jenazah. Prosedur pemindahan dilakukan dengan pendataan terlebih dahulu, lalu jenazah dipindahkan ke TPU terdekat yang dinilai aman dari risiko longsor.

“Kondisinya bermacam-macam, ada yang masih utuh kain kafannya, ada pula yang tinggal tulang belulang. Itu sebabnya kami sangat berhati-hati,” tambah Teguh.

Tak hanya fisik yang lelah, mental para petugas dan relawan pun diuji. Mereka bekerja dalam suasana penuh empati, mengangkat satu per satu jenazah dari reruntuhan tanah longsor untuk kemudian dimakamkan ulang.

Sampai hari ini, puluhan makam belum bisa dipindahkan karena belum adanya kehadiran ahli waris. Tanpa izin dan identifikasi dari keluarga, pemindahan tidak bisa dilakukan karena menyangkut etika, keagamaan, dan hukum.

“Kami tidak bisa asal memindahkan. Harus ada keluarga yang datang dan memberikan konfirmasi. Kami juga tidak tahu pasti siapa jenazah di makam tersebut jika tidak ada informasi dari keluarga,” ujar Teguh.

Beberapa keluarga yang telah hadir tampak emosional saat melihat makam keluarganya hancur. Proses identifikasi dilakukan secara hati-hati, sebagian berdasarkan letak awal makam dan ciri fisik nisan, meski tidak semua bisa dikenali.

Pemerintah Kota Samarinda melalui BPBD dan Dinas Sosial telah membuka posko informasi dan bantuan di sekitar area TPU Cempaka Suryanata. Imbauan juga terus disampaikan melalui media agar keluarga yang merasa memiliki anggota dimakamkan di lokasi tersebut segera datang ke posko.

Selain untuk identifikasi, kehadiran ahli waris juga diperlukan agar proses pemindahan berlangsung sesuai prosedur yang sah dan menghormati hak-hak keluarga.

“Kami minta warga Samarinda yang memiliki keluarga dimakamkan di TPU Cempaka agar datang dan berkoordinasi dengan petugas,” ucap salah satu petugas dari BPBD.

Hingga berita ini diturunkan, proses pemulihan dan pembersihan area TPU Cempaka Suryanata masih berlangsung. Sejumlah alat berat dikerahkan untuk meratakan tanah dan mengamankan area rawan longsor. Petugas juga membangun saluran air sementara guna menghindari longsor susulan jika hujan kembali turun.

Pemerintah daerah juga mempertimbangkan untuk menutup sebagian area TPU yang dianggap rawan, serta mencari lokasi alternatif pemakaman bagi warga Samarinda Utara.

Artikel Asli baca di rri.co.id

 

Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya

LAINNYA
x