src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Kemarau Panjang Bisa Menyebabkan Krisis Pangan dan Picu Inflasi di Samarinda

Kemarau Panjang Bisa Menyebabkan Krisis Pangan dan Picu Inflasi di Samarinda

waktu baca 4 menit
Rabu, 12 Agu 2026 15:34 28 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Kemarau yang berlangsung lebih panjang berpotensi mengancam ketersediaan bahan pangan apabila curah hujan tak kunjung kembali normal di Kota Samarinda. Koordinator Infrastruktur, Lingkungan dan Ketahanan Iklim Tim Wali Kota Akselerasi Pembangunan (TWAP) Kota Samarinda, Bernaulus Saragih, mengatakan kondisi kemarau saat ini perlu diantisipasi karena berdasarkan sejumlah perkiraan, hujan baru berpeluang kembali turun sekitar awal Oktober. Artinya, wilayah Kaltim masih harus menghadapi periode kering dalam beberapa waktu ke depan.

Kondisi tersebut tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran lahan, tetapi juga membuat aktivitas pertanian semakin bergantung pada ketersediaan air. Sebelumnya, dilansir dari laman Stasiun Meteorologi Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda, BMKG Samarinda memprediksi puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Agustus dan mengingatkan adanya sejumlah dampak yang perlu diantisipasi, termasuk penurunan curah hujan dan penyesuaian pola tanam.

Situasi itu, sebut Bernaulus, menjadi tantangan tersendiri bagi daerah yang masih mengandalkan pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan. Tanaman yang biasanya tumbuh dengan dukungan curah hujan harus mendapat pasokan air tambahan agar tetap bertahan selama kemarau. “Kalau berdasarkan perkiraan dan penelitian itu ada kemungkinan bahwa kemarau ini agak panjang ya, diperkirakan sekitar awal Oktober baru mungkin hujan akan turun,” kata Bernaulus, Rabu 12 Agustus 2026.

Dampak tersebut mulai terlihat dari kebutuhan penyiraman tanaman yang semakin tinggi. Contohnya, jelas Bernaulus, sayuran seperti sawi yang membutuhkan pasokan air cukup agar dapat tumbuh dengan baik. Ketika air terbatas, produksi tanaman berpotensi menurun dan pada saat yang sama biaya untuk mempertahankan produktivitas justru meningkat. Persoalan itu kemudian dapat merambat ke rantai pasok pangan. Ketika hasil pertanian dari daerah penghasil menurun, pasokan yang masuk ke pasar ikut terpengaruh. Kondisi tersebut berpotensi membuat harga sejumlah komoditas bergerak naik, terutama bahan pangan yang masa simpannya pendek dan sangat bergantung pada produksi harian.

“Imbasnya itu terhadap semua kita pasti ada, terutama terhadap produksi bahan-bahan makanan. Sayur-mayur, produksi beras terpengaruh juga, produksi tanaman pertanian lainnya juga pasti akan terpengaruh,” ujarnya.

Menurut Bernaulus, tekanan terhadap produksi pangan tersebut pada akhirnya juga berkaitan dengan inflasi. Ia menyebut kemarau telah memberi pengaruh terhadap kenaikan harga sejumlah barang, khususnya komoditas pangan yang membutuhkan banyak air dalam proses budidayanya. Dikatakannya, sayuran yang secara alami membutuhkan ketersediaan air cukup. Dalam kondisi kemarau, petani harus meningkatkan penyiraman agar tanaman tetap tumbuh. Jika pasokan air tidak memadai, produksi dapat berkurang dan ketersediaan komoditas di pasaran ikut terdampak. Karena itu sekarang di Kaltim ini terjadi fluktuasi harga barang-barang untuk kebutuhan makanan,” lanjutnya.

Bukan hanya persoalan pangan. Bernaulus juga mengingatkan, kondisi kering meningkatkan risiko kebakaran lahan, terutama ketika masyarakat membuka lahan untuk kegiatan pertanian dengan cara membakar. Pembukaan lahan untuk pertanian memang menjadi bagian dari aktivitas masyarakat. Namun, Bernaulus menekankan, pembakaran pada periode kering memiliki risiko lebih besar karena api dapat dengan cepat merambat ketika kondisi vegetasi dan tanah berada dalam keadaan kering.

Oleh karena itu, ia meminta masyarakat maupun pihak yang memiliki kewenangan dalam penanganan kebakaran untuk tidak menganggap remeh kondisi kemarau yang berlangsung saat ini.”Ini yang harus kita waspadai. Pemerintah, masyarakat Kaltim harus benar-benar waspada terhadap terjadinya proses kebakaran lahan dan hutan,” pesan dia.

Bernaulus mengatakan dampak kemarau juga perlu dilihat dari sisi distribusi. Ada sisi yang relatif menguntungkan ketika kondisi jalan darat lebih mudah dilalui karena tidak terganggu hujan maupun genangan. Distribusi barang dari satu wilayah ke wilayah lain pun dapat berlangsung lebih lancar. Kendati demikian, kelancaran transportasi tidak otomatis menjamin pasokan pangan tetap aman. Jika produktivitas pertanian di daerah penghasil turun akibat keterbatasan air, barang yang hendak didistribusikan tetap akan berkurang. Dalam kondisi seperti itu, akses jalan yang baik hanya membantu proses pengiriman, bukan mengatasi berkurangnya produksi dari sumbernya.

“Jalan darat yang dulunya seperti kita kalau belum dibangun itu menjadi bisa dilewati dengan baik, barang-barang menjadi bisa lebih mudah ditransportasikan. Tetapi di sisi lain ada juga kendalanya, yaitu untuk mendapatkan barang-barang produktivitas pertanian bisa mengalami penurunan kalau tidak ada hujan yang baik,” demikian Bernaulus. (Retno)

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

LAINNYA
x