src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Penghuni Lapas Perempuan Terbitkan Buku, Pegiat Literasi Kaltim Mengaku Takjub

Penghuni Lapas Perempuan Terbitkan Buku, Pegiat Literasi Kaltim Mengaku Takjub

2 minutes reading
Saturday, 18 Apr 2026 00:01 1 huldi amal

‎HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG- Pengalaman memberi materi penguatan Literasi di Lapas Perempuan Kelas II A Tenggarong, pegiat literasi Kaltim Suparno Gopar punya cerita menarik. Pensiunan guru SMKN 1 Tenggarong itu mengaku terharu dengan semangat dan motivasi para warga binaan. ‎”Saya mengisi materi penguatan literasi bagi penghuni Lapas Perempuan selama 3 bulan di akhir tahun 2025 lalu,” kenang Suparno, Jumat 17 April 2026.

‎Pada pertemuan pertama dan kedua, dirinya sudah punya kesan mendalam dan takjub karena penghuni lapas perempuan rata-rata punya daya literasi kuat. ‎”Saya ini seperti menyebar garam di lautan karena penghuni lapas sudah kuat daya literasinya,” ucapnya.

‎Suparno menguji secara gamblang enam pondasi dasar literasi kepada para warga binaan Lapas perempuan. Ternyata sudah dikuasai dengan baik.Literasi baca-tulis, mereka sudah rajin membaca buku dan menulis berbagai cerita inspirasi, cerita pendek, dongeng, fiksi hingga puisi. ‎”Saya tanya, ada kah yang sudah pernah membuat buku? Ternyata sudah ada. Ini kan luar biasa, orang di luar lapas belum tentu bisa membuat buku,” kenangnya.

‎Tes kemampuan numerasi juga sangat baik. Kemampuan berhitung dan membaca numerik juga bagus. Soal literasi sains, penghuni lapas perempuan mampu berfikir logis dan sistematik. Termasuk kemampuan literasi finansial dan budaya. ‎”Kemampuan digital IT, pernah alat pembelajaran ada masalah teknis, ternyata para peserta bisa saja menanganinya dengan cepat,” ungkapnya.

‎Kemampuan literasi yang dimiliki penghuni lapas perempuan, diakui Suparno, berlatar dari sistem pendidikan yang bagus saat di rumah atau di lingkungan sebelumnya. Ditambah lagi, pola pendidikan dan pembinaan di lapas perempuan sudah sangat bagus.

‎Di dalam Lapas, fasilitas seperti sekolah yang tertata dengan baik. Tersedia buku bacaan, pengajaran keagamaan, konsultasi psikologi, keterampilan menjahit, kemampuan membuat kue, pengembangan UMKM, serta pembelajaran seni dan kebudayaan.

‎”Hampir tiga bulan mengajar dan bercengkrama, kayaknya mereka bukan sengaja melanggar hukum, tapi para penghuni lebih banyak dijebak,” sebutnya.

‎Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kaltim ini berencana menerbitkan  buku hasil karya dan tugas penghuni lapas selama mengikuti kelas penguatan literasi. Buku tersebut bisa menjadi kenangan indah bagi penghuni sekaligus menginspirasi bagi warga di luar lapas untuk menjalani hidup keseharian dengan penuh semangat dan bersyukur. ‎”Ini masih kurang beberapa halaman lagi, jika sudah lengkap masuk proses penyusunan buku cerita,” pungkasnya.

‎Diolah berbagai sumber, Lapas perempuan yang berlokasi di Jalan Imam Bonjol Tenggarong dihuni sebanyak 371 orang. Kapasitas maksimalnya 285 orang. Ini melebihi kapasitas. Dengan sembilan kamar, idealnya diisi 20 orang per kamar. Namun, menjadi 40 orang per kamar. Dominasi kasus yang dilakukan warga binaan sebanyak 80 persen kasus Narkoba, sisanya kasus pencurian dan penggelapan.(Andri)

banner pemkab berau baru
LAINNYA
x