src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Wabup Berau Gamalis. (Riska/headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Insiden kandasnya kapal wisata jenis Live on Board (LOB) di perairan Pulau Maratua beberapa waktu lalu kembali menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Berau. Selain berpotensi mengganggu aktivitas pelayaran, kejadian ini dikhawatirkan merusak ekosistem terumbu karang yang menjadi daya tarik utama wisata bahari di Bumi Batiwakkal.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengungkapkan bahwa peristiwa kapal kandas di kawasan Maratua bukanlah kejadian pertama. Kasus serupa telah beberapa kali terjadi dan menjadi peringatan serius bagi seluruh operator kapal wisata yang berlayar di wilayah tersebut.
“Ini bukan kali pertama. Sudah beberapa kali kapal kandas di kawasan Maratua. Karena itu ke depan kami berharap para agen maupun pemilik kapal dapat berkoordinasi dengan pemerintah daerah maupun pihak kecamatan sebelum memasuki perairan Maratua,” ujarnya.
Menurutnya, meski perizinan kapal wisata berada di pemerintah pusat, para operator tetap perlu menyampaikan pemberitahuan kepada pemerintah daerah. Langkah tersebut penting agar kapal yang masuk ke kawasan Maratua dapat didampingi oleh pemandu lokal yang memahami jalur pelayaran aman.
Ia menilai minimnya koordinasi menjadi salah satu penyebab kapal masuk ke area perairan dangkal yang berpotensi merusak lingkungan laut. “Kalau tanpa pandu dan tidak berkomunikasi dengan masyarakat setempat, risikonya besar. Selain kapal kandas, bisa saja merusak terumbu karang, kawasan penyu, hingga habitat ikan yang ada di sana,” katanya.
Gamalis menegaskan, Pulau Maratua selama ini mengandalkan keindahan bawah laut sebagai daya tarik utama pariwisata. Kerusakan terumbu karang akibat aktivitas kapal akan menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan sektor pariwisata di daerah tersebut.
“Maratua ini menjual keindahan underwater-nya. Kalau terumbu karangnya rusak, tentu akan berdampak pada ekosistem dan juga pariwisata kita,” tegasnya.
Terkait dugaan kerusakan terumbu karang akibat insiden tersebut, Gamalis menyebut pemerintah daerah membuka peluang untuk melakukan rehabilitasi dan transplantasi karang. Namun, langkah tersebut perlu dibahas lebih lanjut bersama instansi terkait, khususnya sektor perikanan dan kelautan.
“Karang yang sudah patah belum tentu bisa tumbuh lagi dengan cepat. Dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk pulih. Karena itu, ide transplantasi karang menurut saya bagus dan bisa menjadi salah satu solusi,” ungkapnya.
Pemerintah Kabupaten Berau pun mengimbau seluruh operator kapal wisata, khususnya kapal Live on Board, agar lebih memperhatikan aspek keselamatan pelayaran dan kelestarian lingkungan dengan selalu berkoordinasi sebelum memasuki kawasan perairan konservasi di Maratua.
“Yang paling penting adalah jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Keindahan bawah laut Maratua adalah aset bersama yang harus kita jaga,” pungkasnya. (Adv21/Riska)