30 C
Samarinda
Monday, April 15, 2024

Hidayatullah, Jawara Mencium Tembakau Kelas Dunia

HEADLINEKALTIM.CO, SURABAYA –Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang berprofesi sebagai grader bertugas menganalisis tembakau saat proses jual beli. Ia mengukur kelaikan tembakau-tembakau yang akan dibeli perusahaan rokok.

Butuh pengalaman panjang dan bertahun-tahun untuk bisa membedakan kualitas tembakau. Sebab, ini berkaitan dengan ketajaman indra penciuman dan mata untuk menilai fisik tembakau berkualitas. Satu dari sekian orang yang menekuni profesi ini adalah Hidayatullah.

Hidayatullah saat melakukan grading tembakau.

Lelaki berperawakan kecil ini merupakan grader alias pencium tembakau nomor wahid di Indonesia. Tugasnya adalah menciumi tanaman tembakau hidup hingga kering, memastikan kualitas rasa dan aroma dinikmati oleh para perokok yang menghembuskan asap sembari menikmati segelas kopi. Baik di pojok-pojok kampung hingga gedung pencakar langit.

Berawal dari menyelesaikan tugas akhirnya di Fakultas Pertanian, Jurusan Teknologi Industri Pertanian Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang. Ini membuat Hidayatullah berurusan dekat bersama petani-petani tembakau yang bermitra dengan PT Sadhana Arif Nusa. Kerja ini berbuah skripsinya berjudul “Pengaruh Tinggi Pangkasan Terhadap Kadar Nikotin dan Gula Tembakau Kasturi Jember” pada 2014 silam.

“Tidak berselang lama di Februari 2015, saya diterima sebagai Grader tembakau di  PT Wismilak Inti Makmur Tbk, tugas saya adalah melakukan pengklasifikasian mutu tembakau secara fisik. Dari ketebalan daun tembakau, kualitas dan kelas, warna daun tembakau basah hingga kering berdasarkan indra, lalu kemudian memberikan kode yang berdasarkan keinginan perusahaan rokok,” terangnya, mengingat masa awal bekerja di Jln Buntaran No 09 Tandes, Surabaya.

Berada di perkebunan tembakau.

Perlakuan khusus pada daun tembakau sangat diperlukan untuk mendapatkan rasa dan aroma berkualitas. Dari posisi daun tembakau, mulai daun bawah, posisi daun tengah hingga atas memiliki kualitas rasa dan aroma yang berbeda. Dari hasil grading tersebut diharapkan dapat memberikan rasa dan aroma yang stabil dalam setiap batang rokok serta memudahkan seorang Blender dalam melakukan komposisi rokok.

Berkat kemampuannya tersebut, Hidayatullah meraih prestasi juara I Grading Kelas Internasional mewakili Wismilak pada US Leaf Training and Study Mission di Denpasar, Bali pada 2018 lalu.  Kegiatan tersebut tidak saja diikuti oleh grader-grader dari perusahaan rokok dan suplier tembakau di Indonesia, namun diikuti pula perwakilan dari perusahaan rokok dari luar negeri seperti Malaysia, China, Turki, Amerika dan lain-lain.

“Tembakau yang diteskan adalah FCV (Virginia Flue Cured) dan SC (Sun Cured) Amerika, karena itu merupakan sistem pengelolaan tembakau terbaik saat ini,” jelasnya.

Hidayatullah amat dekat dengan para petani tembakau. Itu mengingat tugasnya harus terjun langsung ke lapangan dan penentu utama kualitas daun tembakau.  Ia terjun ke Lombok NTB, untuk memantau tembakau FCV Lombok. Lalu, terjun ke Jawa Timur, mulai dari tembakau SC Rajangan dan Krosok Hang Madura, Paiton,  Maesan, Pakpie Jombang lantas  Krosok Kasturi Jember.

“Saya juga ke Jawa Tengah memantau tembakau rajangan SC Kedu, Weleri, Meranggen, Krosok Hang Boyolali dan tembus ke Jawa Barat tembakau rajangan SC Galut. Kerjaan yang tidak mudah, namun begitulah tugas seorang Grader untuk menggrading secara bergantian daun-daun tembakau yang ditanam petani di tiap daerah,” ujarnya.

MERASAKAN DILEMA PETANI

Kenaikan cukai rokok di tahun 2019 – 2020 sudah cukup dahsyat menggempur pendapatan petani-petani tembakau di Indonesia. Kerugian tersebut diperparah lagi dengan adanya wabah pandemi COVID-19.

Hantaman serupa berdampak pula pada petani cengkeh di Indonesia. Terbiasa mendapatkan hasil penjualan panen lumayan, kini petani-petani tersebut banyak mengeluh dengan makin jatuhnya harga tembakau dan cengkeh hingga jelang akhir tahun ini.

Belum lagi kebijakan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang akan menaikkan cukai rokok sebesar 12,5 persen, dengan komitmen untuk menyeimbangkan berbagai aspek dari cukai hasil tembakau (CHT) , seperti dikutip dari Antara pada Kamis 10 Desember lalu.

“Ini pukulan berat bagi sebagian besar petani tembakau dan cengkeh di Indonesia, makin mengancam pada jatuhnya harga tembakau hasil panen mereka. Untuk perusahaan-perusahaan rokok tentu yang dilakukan adalah bagaimana cara menurunkan biaya produksi di tengah perlambatan ekonomi akibat pandemi corona. Pemerintah harus adil juga pada petani tembakau. Apabila musim tanam tidak mendukung petani, jelas hasil panen tembakau juga tidak terbeli karena kualitasnya tentu tidak sesuai kriteria,” jelas Hidayatullah saat dihubungi Headlinekaltim.co.

Diterangkannya, perusahan-perusahan rokok, bagaimanapun tentu akan mencari cara untuk menekan biaya produksi yang rendah agar harga rokok yang dijual ke konsumen tetap dapat bersaing. Karena konsumen juga memiliki alasan untuk tetap dapat merokok yang murah dan tetap enak. Terlebih saat perlemahan ekonomi seperti sekarang.

Pemerintah dinilainya telah mendapatkan hasil cukai yang lumayan besar dari hasil penjualan rokok. Namun, kebebasan untuk menikmati rokok di negeri ini semakin ditekan dari tahun ke tahun dan bahkan dilarang. Kenaikan cukai rokok tahun lalu saja telah membuat banyak perusahaan-perusahaan rokok kecil gulung tikar.

“Belum lagi persoalan baru berupa munculnya rokok-rokok ilegal, dimana terkait pengawasan rokok ilegal tersebut belum diikuti taring yang kuat dari pemerintah. Tidak saja di pedesaan, rokok ilegal bahkan masuk dan dijual di market place alias aplikasi jual beli online. Modusnya para penjual rokok ilegal di market place, langsung menulis merek rokoknya, namun tidak ada keterangan mengenai rokok dan tembakaunya. Jika ada tentu langsung di-banned,” tegasnya.

Hidayatullah berharap agar ada tinjauan ulang dari pemerintah atas nasib hidup petani-petani tembakau dan cengkeh di Indonesia. Karena kepentingannya tidak semata-mata untuk kepentingan perusahaan rokok yang taat membayar pajak dan cukai rokok. Namun, mata rantai yang berkesinambungan dari petani, perusahaan, pemerintah, hingga masyarakat.

Penulis: Rj Warsa

Editor: Mh Amal

Komentar
- Advertisement -

LIHAT JUGA

TERBARU