29.7 C
Samarinda
Wednesday, February 21, 2024

Bupati Kunjungi Tambak SECURE Pegat Batumbuk

HEADLINEKALTIM.CO,TANJUNG REDEB – Bupati Berau Sri Juniarsih melakukan kunjungan dalam persiapan program Mangrove Sahabat Tambak Lestari (MESTI) di tambak SECURE Pegat Batumbuk pada Senin, 4 September 2023.

Diketahui, program tersebut digawangi oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dengan dukungan dari Chevron Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Berau.

Sri memberikan apresiasi pengelolaan tambak Shrimp-Carbon Aquaculture (SECURE) yang ada di kampung Pegat Batumbuk. Menurutnya, tentu ini dapat dicontoh oleh kampung-kampung lain yang memiliki potensi serupa.

“Tambak-tambak yang pernah mati mungkin bisa dipotensikan kembali karena hal ini bisa memberikan dampak positif secara ekonomi untuk masyarakat Berau,” jelasnya.

Dikatakannya, dengan program tambak SECURE yang ramah lingkungan tersebut membuat kelestarian hutan mangrove tetap terjaga dan menumbuhkan ekonomi masyarakat.

“Saya sampaikan kepada dinas terkait untuk coba dipetakan ketika ada kampung-kampung yang memiliki potensi yang sama atau ketika ada tambak-tambak yang sudah mati untuk diberdayakan atau dihidupkan kembali,” ungkapnya.

Kepala Dinas Perikanan Berau Dahniar Ratnawati mengatakan program tambak ramah lingkungan ini juga menjadi komitmen Pemkab Berau melalui Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 44/2017 Tentang Pedoman Umum Budi Daya Perikanan di Kabupaten Berau.

“Jadi tambak yang berpotensi itu di Kampung Pegat Batumbuk, Tabalar Muara dan Suaran, untuk sementara yang bergabung itu ada sekitar 20 orang di tiga lokasi tersebut,” ucapnya.

Disampaikannya, ini merupakan kemitraan Dinas Perikanan dengan YKAN untuk mewujudkan tambak yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

“Kalaj tidak ramah lingkungan artinya tidak berkelanjutan, contohnya abrasi. Untuk menginventarisasi hal tersebut ke depan akan dibicarakan dengan pihak YKAN, yang penting ini dulu kita lihat hasil optimalnya karena kami lihat perkembangan mangrove,” jelasnya.

Program ini juga mengupayakan bagaimana lahan terbuka tersebut ditata kembali supaya bisa maksimal dengan konsep natural atau alami. Artinya, Kehadiran mangrove disitu sebagai suatu ekosistem bisa saling bersinergi dengan ikan atau udang.

“Misalnya, dengan menggarap 2 hektare diharapkan hasilnya lebih maksimal dari pada menggarap 10 hektare namun tidak maksimal,” ucapnya.

Harapan ke depan, kata dia, ada edukasi peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) agar konsep ini bisa diterima di masyarakat.

Terpenting pula,  bagaimana suplai karbon dari mangrove tadi tersedia. Dibandingkan suplai karbon pada vegetasi terestrial di daratan, justru lebih tinggi di mangrove.

“Memang ini proses jangka panjang,” pungkasnya. (Riska)

Komentar
- Advertisement -

LIHAT JUGA

TERBARU

- Advertisement -