src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas’ud. (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Keluhan warga soal listrik padam bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) akhirnya mendapat penjelasan langsung dari Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud usai bertemu jajaran Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta pada 14 September 2026, kemarin. Dalam pertemuan tersebut, persoalan kelistrikan Kaltim menjadi salah satu agenda utama yang dibahas bersama Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan.
Dikatakan Rudy, akar masalah pemadaman yang terjadi bukan berasal dari kekurangan pasokan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit, melainkan kerusakan mesin di sejumlah pembangkit listrik swasta atau Independent Power Producer (IPP) yang selama ini menopang sistem interkoneksi kelistrikan Kalimantan, termasuk Kaltim. “Yang disampaikan adalah berkaitan dengan beberapa IPP yang ada di Kalimantan ini yang men-support Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur, terjadi kerusakan,” ujar Rudy, Senin, 21 September 2026.
Rudy mengungkap, dari paparan yang disampaikan Plt. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Tri Winarno dalam pertemuan tersebut, total kapasitas pembangkit yang mengalami gangguan diperkirakan mencapai sekitar 100 megawatt. Penyebabnya, lanjut dia, adalah proses pemeliharaan besar atau overhaul yang secara tidak terduga berlangsung bersamaan di beberapa pembangkit sekaligus sehingga berdampak signifikan terhadap keandalan pasokan daya ke sistem.
“Masalahnya bukan batu baranya, tapi yang bermasalah adalah mesinnya. Mereka melakukan maintenance overhaul yang kebetulan bersamaan,” papar Rudy.
Persoalan ini sebenarnya sudah dirasakan warga Kaltim sejak beberapa waktu sebelumnya. PLN Unit Induk Distribusi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (UID Kaltimra) sempat mengungkap setidaknya empat pembangkit yang mengalami gangguan dan berdampak pada sistem kelistrikan di seluruh Kaltim, yakni PLTU Cahaya Fajar Kaltim di Kutai Kartanegara, PLTU Kaltim Prima Coal di Kutai Timur, PLTU Teluk Balikpapan, serta PLTMG Bangkanai.
Kondisi ini memaksa PLN melakukan pengaturan beban untuk menjaga keseimbangan sistem, yang pada akhirnya berujung pada pemadaman bergilir di berbagai daerah, termasuk sempat berdampak pada belasan wilayah di Penajam Paser Utara. Sebagai langkah mitigasi sembari menunggu pembangkit yang rusak kembali beroperasi normal, PLN juga sudah menyiapkan tambahan pasokan daya dari sejumlah sumber, di antaranya Pembangkit Batulicin berkapasitas 10 megawatt, ditambah pembangkit sewa tahap pertama sebesar 158 megawatt dan tahap kedua 120 megawatt. Kombinasi tambahan daya ini diharapkan bisa menopang sistem kelistrikan Kaltim selama proses perbaikan pembangkit yang terdampak masih berlangsung.
Soal kepastian waktu pemulihan, Rudy bilang pihak kementerian memberikan target penyelesaian tidak lebih dari 10 hari sejak pertemuan tersebut berlangsung. Ia berharap target itu bisa membuat frekuensi pemadaman berkurang secara bertahap hingga akhirnya benar-benar berhenti di seluruh wilayah Kaltim. “Yang jelas disampaikan kemarin tidak lebih daripada 10 hari. Itu sudah pemadamannya mudah-mudahan sudah bisa berkurang atau sudah tidak terjadi lagi di Kalimantan Timur,” demikian Rudy Mas’ud. (Retno)