src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Bank sampah warga Kampung Baru Ilir binaan Pertamina RU V. (Andriansjah)Rabu siang, 4 November 2026, rombongan peserta Pekan Olahraga Wartawan Daerah (Porwada) Kalimantan Timur dari cabang lomba karya jurnalistik menyambangi Kelurahan Baru Ilir Kecamatan Balikpapan Barat, Balikpapan. Mereka datang bukan semata hendak beradu skill menulis.
Sejatinya, para kuli tinta dari kabupaten/kota se-Kaltim ini hendak menyimak dan belajar tentang arti pemberdayaan ekonomi. Hal yang menjadi perhatian Pertamina Refinery Unit (RU) V Balikpapan.
Kelurahan Baru Ilir dipilih bukan tanpa alasan. Ini kampung binaan perusahaan pelat merah yang mengurusi sektor energi. Hajat hidup orang di seantero negeri. Di sini, Pertamina RU hadir. Bukan memastikan urusan kemana hilir minyak dan gas mengalir. Hilirisasi di sini adalah soal bagaimana warga berdaya dan berdikari. Mampu mengelola lingkungan dan hidup dari setiap jengkal tanah sendiri.
Didampingi tim Community Development Officer (CDO) dan disambut warga yang ramah, para peserta menelusuri dua sasaran Program Kampung Iklim (Proklim) II. Yang pertama adalah bank sampah di RT 12, yang kedua kebun hidroponik di RT 63. Dari kedua tempat itulah pelajaran berharga tentang pemberdayaan warga dipetik.
Bank Sampah yang Dianggap Nyeleneh
Bangunan bank sampah itu tidak besar, hanya 4×5 meter. Di dalamnya tertampung sampah nonorganik atau sampah keras, seperti kardus, botol plastik, kaca, dan kaleng bekas.
Kisah berdirinya pun sederhana. Pada 2015, sebanyak 10 istri prajurit meriung. Dari sekadar bergosip soal remeh-temeh, topik melompat ke soal bank sampah. Manfaatkan bangunan yang ada. Gagasan itu sempat lama mengendap. Sebagai rencana. Tiga tahun lamanya.
“Baru terwujud sekitar 2018. Kami bersyukur sekali hari ini,” tutur Nunik, anggota pengelola bank sampah.
Awalnya, langkah mereka terseok. Konsep bank sampah, bahkan sempat dianggap ide nyeleneh. Dipandang sebelah mata sebagian orang. Para emak-emak, ‘ras terkuat di bumi’, tidak langsung menjalankan program, melainkan lebih dulu menimba edukasi dari Unilever.
Nasabah pertama pun datang dari para pengelola sendiri. Niatnya sederhana: asal lingkungan bersih.
Kini, keadaannya jauh berbeda. “Yang menjadi nasabah sudah mencapai 59 kepala keluarga (KK) dari 104 rumah di RT 12,” kata Nunik, bertugas sebagai penimbang sampah.
Hasilnya baru bisa dinikmati nasabah setiap bulan. Pengelola harus menunggu sampah menumpuk, mengemasnya dengan rapi, lalu menjualnya kepada pengepul. Rata-rata sampah yang terkumpul mencapai 150 kilogram per bulan.
Nilai jualnya pun mengikuti denyut pasar. Harga terendah pernah menyentuh Rp1.900 per kilogram, sedangkan harga tertinggi berkisar Rp2.900 hingga Rp4.000 per kilogram.
“Pembagiannya 30 persen untuk pengelola dan 70 persen untuk nasabah, sesuai kesepakatan bersama,” ujar Nunik.
Para pengelola menyimpan mimpi untuk membesarkan bank sampah mereka. Strateginya, mengajak warga di luar RT 12, sebab hanya mengandalkan sampah dari RT sendiri terasa berat. Apalagi banyak penghuni rumah yang kerap berpindah tugas.
Sebelum melangkah ke luar ‘pekarangan’, sarana dan prasarana harus dibenahi lebih dulu. Dari sisi pembekalan, selama tiga bulan terakhir pengelola mendapat pendampingan aktif dari Pertamina Patra Niaga RU V Balikpapan.
Mimpi para ibu itu bak gayung bersambut. Pertamina. Perusahaan migas milik negara berencana membangun sarana penunjang bank sampah yang representatif. Bahkan, sudah dituang ke dalam rencana kerja (renja) pengembangan bank sampah.
Satu hal yang masih mengganjal; bantuan hanya bisa disalurkan jika pengelola mengantongi surat keputusan (SK) dari pemerintah. “Meski sudah berjalan beberapa tahun, pengelola bank sampah belum punya SK kepengurusan. Kami sudah berkoordinasi dengan lurah agar SK-nya dibuatkan sebagai kelengkapan administrasi, sehingga perusahaan bisa membantu,” ujar CDO Pertamina RU V, Rizqy Rayi Ananda.
Bantuan, lanjutnya, tidak diberikan sembarangan. Berdasarkan penilaian lapangan dan kebutuhan pengelola, bantuan pertama berupa rehabilitasi bangunan bank sampah. Memang, bisa dibilang tidak layak.
“Kalau atap bocor, kardus di dalamnya basah. Kardus yang rusak fisiknya akan turun harganya secara signifikan. Karena itu, rehabilitasi sangat penting,” jelasnya.
Kebun Hidroponik Hidupi Janda dan Lansia
Dari bank sampah, perjalanan berlanjut dengan berjalan kaki menuju Kawasan Hijau Taman Hidroponik Asrama Bukit, RT 63. Letaknya tak jauh, persis di samping posyandu. Luasnya hanya sekitar 30×40 meter, tetapi manfaatnya besar. Lahan yang dulu tak produktif kini menjadi kebun yang subur. Ada tanaman cabai, tomat, sawi, kangkung, terong, hingga umbi-umbian tumbuh di sana.
Sosok di balik hijaunya lahan tandus itu adalah Israni (63). Lulusan SMK jurusan elektro yang mungkin terpapar mutasi gen bertani. Lelaki beruban ini kemudian mahir membuat pupuk cair dan padat.
“Dulu saya banyak tidur setelah tidak lagi bekerja di swasta. Bertani ternyata lebih sehat dan banyak manfaatnya,” ucap Israni, kepada media ini.
Pertamina membantu dengan sarana dan prasarana hidroponik serta sejumlah kilogram polibag. Saat panen tiba, Israni tak perlu pusing soal pemasaran. Ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) RT 63 gencar menjual hasil kebun secara daring. Warga RT sendiri maupun dari luar RT berdatangan membeli. Dengan harga di bawah pasaran, sayuran laris manis tanjung kimpul. Keuntungannya diputar kembali oleh pengelola yang sebagian juga kader posyandu. Buat membeli makanan tambahan bergizi bagi anak-anak. Bagian penting dalam mencegah stunting.
Namun, penerima manfaatnya tak berhenti pada anak-anak. “Kadang kami bagikan sayuran secara cuma-cuma untuk janda dan lansia. Anggap saja ini bantuan gizi dari kami,” ujar Damiati, anggota KWT Asrama Bukit.
Pertamina boleh membusung dada. Pembinaan yang berjalan 11 bulan itu dinilai berhasil dan berdampak besar bagi masyarakat. Sejak awal, hal yang terpenting dan selalu ditanamkan kepada warga binaan adalah konsistensi.
Plus pendampingan aktif agar program tepat sasaran, bertahan, dan terus meningkat. Hasil kecil yang konsisten memang lebih berarti daripada untung besar yang tidak berkelanjutan. Keberlangsungan program menjadi faktor utama.
“Yang kami semangati, dalam merintis dan mengawal program, jangan dulu berpikir soal hasil besar. Yang penting konsistensi,” tegas anggota tim CDO Pertamina, Mayo Anggoro Laksono.
Keberhasilan itu membuat Lurah Baru Ilir, Junaidi, sumringah. Dalam lomba Clean, Green, and Healthy (CGH) tingkat Kota Balikpapan, kata dia, Proklim II menjadi program andalan yang diusung dan diharapkan menjadi percontohan bagi daerah lain. Program yang menjangkau lima RT, yakni RT 10, 11, 12, 14, dan 63, itu juga menghadirkan penanganan longsor yang ramah lingkungan. Dari 94 RT di kelurahan tersebut, 10 RT telah masuk program Proklim.
“Menggerakkan orang agar peduli pada lingkungan dan sampah itu lumayan sulit. Butuh dukungan dan kolaborasi, dan itu sudah kami buktikan lewat sinergi dengan Pertamina,” ujar Junaidi.
“Saya tekankan kepada warga, kita yang menciptakan sampah, maka kita pula yang bertanggung jawab atas sampah itu,” pesannya. (Andriansjah)