src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Aksi HMI Jilid II di PLN Samarinda Ricuh, Ketua Cabang Terluka dan Massa Ancam Datangi Polresta

Aksi HMI Jilid II di PLN Samarinda Ricuh, Ketua Cabang Terluka dan Massa Ancam Datangi Polresta

waktu baca 3 menit
Kamis, 5 Nov 2026 19:07 32 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Aksi demonstrasi jilid II Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Samarinda di Kantor PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Samarinda, Jalan Gajah Mada, Kamis, 5 November 2026, berakhir ricuh. Kericuhan terjadi setelah massa berupaya masuk ke area kantor PLN dan pagar gedung mengalami kerusakan.

Dalam aksi yang mengusung tajuk “Evaluasi Total Kantor UP3 PLN” tersebut, Ketua HMI Cabang Samarinda dilaporkan mengalami luka di bagian bibir dan lebam pada tubuhnya. Ia kemudian dievakuasi menggunakan ambulans. Seorang anggota HMI lainnya juga mengalami luka di bagian kepala akibat tergores pagar.

Ketegangan antara aparat kepolisian dan mahasiswa sempat meningkat hingga terjadi aksi saling dorong di tengah massa. Untuk mengendalikan situasi, aparat kepolisian  menembakkan mobil water cannon untuk meredam kericuhan. Namun, tindakan aparat tersebut justru memicu kemarahan sejumlah mahasiswa. Massa menilai aparat melakukan tindakan represif hingga menyebabkan anggota mereka terluka.

Kepala Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda HMI Cabang Samarinda, Muhammad Shefa, mengatakan aksi kali ini merupakan lanjutan dari demonstrasi sebelumnya. Dalam aksi jilid II, HMI juga menghimpun sejumlah elemen masyarakat, termasuk TRC-PPA dan kelompok ibu-ibu yang turut menyampaikan aspirasi terkait persoalan kelistrikan.

Shefa menilai kericuhan bermula ketika massa tidak memperoleh ruang audiensi sesuai keinginan mereka. Ia menyebut pihak PLN hanya menawarkan pertemuan dengan perwakilan sebanyak 10 orang, sementara HMI menginginkan seluruh massa dapat menyampaikan aspirasi secara bersama-sama.

“Kami sudah dua kali memperingatkan bahwa kami akan masuk. Tapi yang terjadi hanyalah PLN bisa memberikan 10 orang untuk audiensi dan kami tolak. Kami datang bersama, kami masuk bersama,” ujar Shefa.

Kata dia, HMI sebenarnya bersedia melakukan audiensi di halaman parkir kantor PLN, sebagaimana pertemuan pada aksi sebelumnya. Namun, mereka meminta pihak PLN membuka data terkait persoalan pembangkit listrik yang menjadi penyebab pemadaman bergilir di Samarinda.

Dokumen dalam bentuk cetak sekalipun dapat diterima selama pihak PLN bersedia memberikan data yang diminta. Namun, karena tidak mendapatkan respons sesuai harapan, situasi di lokasi kemudian memanas.

Shefa juga menuding aparat kepolisian melakukan tindakan represif terhadap massa aksi. Ia menyebut salah satu personel kepolisian dari Polsek berinisial A berada di barisan pengamanan, tetapi dinilai tidak mampu menghentikan tindakan yang menurutnya melukai kader HMI.

Terkait kondisi Ketua HMI Cabang Samarinda, Shefa menjelaskan bahwa yang bersangkutan sempat terdesak hingga terjatuh dalam posisi terduduk dan tengkurap di tengah kerumunan. Akibatnya, ketua cabang mengalami luka pecah di bagian bibir serta lebam pada tubuhnya.

“Kekacauan itu juga membuat Ketua HMI Cabang Samarinda terdesak, terduduk, tengkurap, jatuh di sana dan ada pecah bibirnya serta lebam-lebam juga,” ungkapnya.

Atas kejadian tersebut, HMI menyatakan akan meminta pertanggungjawaban aparat kepolisian. Shefa mengatakan pihaknya tengah mengonsolidasikan massa untuk mendatangi Markas Komando (Mako) Polresta Samarinda apabila tidak ada tindak lanjut sesuai tuntutan mereka.

Selain mempersoalkan tindakan aparat, HMI juga memastikan tuntutan terhadap PLN belum selesai. Mereka berencana kembali menggelar aksi jilid III dengan melibatkan massa lebih banyak, termasuk masyarakat yang terdampak pemadaman listrik bergilir.

Dalam aksi jilid II ini, HMI turut menambahkan tuntutan agar Manajer PLN UP3 Samarinda, Adrian Sitompul, dicopot dari jabatannya. Mereka menilai Adrian belum mampu memberikan jawaban yang memuaskan atas tuntutan yang telah disampaikan dalam demonstrasi sebelumnya.

Selain itu, HMI kembali mendesak PLN membuka transparansi mengenai persoalan pada sejumlah pembangkit yang berdampak terhadap pasokan listrik di Samarinda. Mereka juga meminta adanya kompensasi bagi masyarakat yang terdampak pemadaman bergilir.

Untuk langkah selanjutnya, Shefa menyebut HMI akan terlebih dahulu mengumpulkan kader di Sekretariat Cabang Samarinda. Mereka akan menyampaikan pernyataan sikap terkait dugaan tindakan represif aparat kepolisian sekaligus mempersiapkan aksi lanjutan ke PLN.

“Untuk tindakan selanjutnya, kami akan mobilisasi massa ke Sekretariat Cabang Samarinda. Kita akan rilis menyatakan sikap atas tindakan represivitas aparat kepolisian dan kami akan mobilisasi massa untuk geruduk PLN jilid III,” demikian Muhammad Shefa. (Retno)

LAINNYA
x